Pencarian Sangkar

Kali ini dalam rangka pemenuhan permintaan klien akhirnya perjalanan hidup sampailah ke pasar burung. Pasar burung terletak di Jl. Sukahaji – Bandung. Hanya beberapa meter dari pusat perbelanjaan terpadu. Dan beberapa km dari Padepokan. Mereka berada disisi yang sama, berada di sebelah kiri dari arah Leuwi Panjang, dan sebelah kanan jika titik awal berada di Jamika atau Cibeureum. Dan jika petunjuk ini membuat anda nyasar, ma’afkan lah, karena ada satu peraturan yang tersirat dan tidak tersurat di semesta raya ini. Jangan sekali-kali menanyakan arah pada perempuan. Karena hasilnya akan membingungkan  😀

Baiklah, bukan soal arah yang akan kita bahas kali ini. Permintaan klien ini cukup unik dan jujur saja membuat kami tidak berkutik. Tentu saja, permintaan klien adalah nafas kami, dan keberlangsungan hidup kami (lihat www.bioeti.com ) Jadi jangan macam-macam dengan mereka. We’re definitely nothing without them

Hantaran yang dipersiapkan untuk hari istimewa mereka dikemas dalam sangkar burung. It’s only sangkar burung. Nothing special. Ya, tentu saja, tidak ada yang istimewa mengenai sangkar burung itu. Kecuali sangkar itu harus berwarna ungu. Lalu, harus muat dengan berbagai artikel yang akan dihantarkan (dibawa).  Ukuran disesuaikan dengan ongkos kirim. Berhubung klien sangat detail sehingga kami pun tertantang. Lalu akhirnya sampailah kami ke pasar burung setelah sebelumnya kami mengacak-acak Cibadak. Sesuai motto our little cute tiny company, anda puas kami gempor

So, Where is Cibadak?

Cibadak adalah kawasan tua, (menurut saya) disana dapat ditemukan berbagai macam kebutuhan alat tulis, pernak-pernik, kemasan atau souvenir. Beraneka. Mulai dengan harga grosir maupun satuan. Dari arah mesjid Agung berada di sisi kanan. Tenang saja, jalan yang melintas Mesjid Agung satu arah, jadi kemungkinan kecil untuk tersesat. Lebih jelasnya tinggal sewa Tukang Beca saja, kalau nyasar tidak perlu menyalahkan saya tapi langsung serahkan saja tukang becaknya pada Satpol PP karena Becak disana sebetulnya di Larang!

Paragraf tadi sekedar mengingatkan kalau berkunjung ke Bandung jangan lupa rambu-rambunya ditaati. Terutama aturan sampah, berhubung di Bandung tidak ada peraturan sampah yang jelas. Jadi please be ware  lah. Siapa yang menabur sampah dia akan mencret. Ini bukan ancaman tapi hukum fisika yang belum dibuat postulat.

Kembali ke soal sangkar, agar tidak over budget, akhirnya sampai ke pasar burung. Dan ketika menginjakkan kaki disana, yang terlintas adalah

RASA KASIHAN MELIHAT BURUNG-BURUNG BERCICIT DALAM KURUNGAN. Ini cukup menyiksa Pemirsah! Burung-burung berjejer dalam sangkar. Bahkan dalam sangkar yang sempit. Ada yang bertumpuk pula.Sungguh pilu melihatnya. Selain aroma yang whuiiiiih, membuat hidung ini harus ditutup masker merk 3M.

Menyaksikan mereka, para penggemar burung. Sebagian besar di dominasi kaum adam. Ada yang berjongkok, duduk dan sambil merokok, menjentik-jentik jari. Menonton burung bercicit dalam sangkar. Such a wasting time.

Tentunya Burung-burung itu diambil paksa. Ketika kecil saya masih bisa menyaksikan mereka terbang dengan bebas, sekarang. Para pemburu itu mengintai. The world turn to unsafe place. Untuk burung, untuk tokek, untuk anak-anak. Untuk semuanya. Every little living in this planet is not safe, because the earth is not a better place anymore since we found the word “capitalist”.    

Tentu saja burung-burung itu pun stress tidak kepalang. Harusnya mereka bercicit dengan merdeka. Malah terpikir, cicitan mereka itu sebetulnya teriakan minta tolong. Mungkin suara mereka bisa mengendurkan syaraf-syaraf orang yang tengah stress karena terlalu banyak diam. Tapi burung-burung itu pun stress melihat orang-orang stres sehingga mereka menjerit sejadi-jadinya.

Jeritan stress-nya mereka begitu merdu, apalagi dengan nyanyian kebahagian mereka. Jadi saran saya, jika menyukai keindahan dan merdu suara burung bagaimana kalau membuat ‘sangkar’ yang layak.

Sangkar layak yang dimaksud itu adalah area dengan banyak Pohon. Semacam hutan kota. Disini bukan hutan dalam artian RIMBA. Sekumpulan pohon dengan Tarzan didalamnya. Bukan seperti itu, tapi lahan yang ditumbuhin sekumpulan pohon dan tidak hanya bermanfaat untuk burung-burung saja. Tapi keuntungannya untuk semua mahluk hidup yang masih memerlukan oksigen untuk menghidupkan tubuhnya.

menyediakan pohon untuk mereka agar mereka bisa bebas bermain dan bernyanyi. Tidak perlu rasanya mereka harus menjerit ditengah-tengah orang-orang yang ingin mengendurkan urat syaraf dengan kepulan asap rokok. Lalu saling menulari stress satu sama lain.

Jadi nanti anda-anda para penggemar burung tidak perlu tengadah untuk menikmatinya. Cukup membawa tikar, bawa buku bacaan atau bercanda-canda dengan keluarga sambil dilatarai suara burung-burung berkicau. Udara bersih sebagai bonus esktra.

Lantas bagaimana Jika nanti ada yang tersesat di hutan kota?

Tentunya tidak akan bertanya kepada saya karena dalam kota pun bisa tersesat apalagi di hutan. Karena itu marilah kita bertanya pada daun-daun yang bergoyang saja.

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s