Melepas Penat : Awal Semula

Menonton NOAH Awal Semula mengingatkan bahwa keberhasilan ditebus dengan harga yang tidak sedikit. Kita adalah penonton yang menikmati hasil perjuangan mereka. Tapi sedikit banyak menonton mereka telah mengingatkan saya akan sesuatu.

Selama ini saya sering mengeluh, betapa saya tidak punya banyak waktu. Terlalu banyak hal yang harus saya urusi, menguras energi saya hingga tidak punya cukup waktu untuk mengurus kebutuhan untuk diri sendiri. Dan rupanya waktu untuk diri sendiri adalah penyebab mengapa saya masih sendiri hingga saat ini.

Tanpa disadari saya sering mengeluhkan hal ini kepada kang Agam, betapa saya merindukan suasana hujan dan nonton dvd sitkom sendirian. Atau membaca buku, atau sekedar menyeruput coklat panas tanpa banyak yang menganggu.

Suasana hujan yang saya inginkan rupanya sangat mahal. Mahal seperti hal nya Ariel merindukan jalan-jalan tidak terkurung di kamar (dari cuplikan NOAH Awal Semula).

Saya tidak tahu apakah Kang Agam terganggu dengan keluhan saya ini atau tidak, saya tidak pernah mempertanyakannya.

Saya Nonton hanya dua jam, lalu setelah dua jam kemudian saya harus melakukan ini, melakukan itu agar semua target bisa dipenuhi. Dan banyak hal lagi. Akan selalu begitu sehingga otak dan pikiran akan terbebani. Bahkan ketika saat saya pergi untuk menonton Awal Semula. Banyak kerjaan yang terus membanjiri otak saya. Padahal menonton NOAH adalah cara untuk melepas penat.

Kami datang tepat ketika film dokumenter tersebut diputar. Saat Ariel dan teman-teman dikejar-kejar penggemar. Saya menonton bersama kakak ipar saya, sebagai sesama penggemar Peterpan yang bertransformasi menjadi NOAH.

Lalu saya pun terlarut dalam adegan demi adegan. Adegan-adegan ini mengingatkan kembali keluhan saya mengenai waktu dan kerinduan akan kesendirian. Betapa saya ingin memiliki waktu sendiri.  tetapi apa yang saya alami tidak sebesar apa yang mereka hadapai, jadi mengapa saya harus mengeluh?

Menurut saya di film itu penggambaran ketika Peterpan, tanpa nama hingga menjadi NOAH masih terasa kurang dijabarkan. Apalagi ketika mereka sedang masa downsydrome ketika ditinggalkan sang vokalis untuk mempertanggung-jawabkan kegiatannya yang berefek untuk semuanya. Bukan untuk dirinya saja, tetapi seluruh kru dan penggemar, non penggemar se-alam semesta raya.

“Mengapa saya seperti dilepas oleh Tuhan?” pertanyaan Ariel dan kerap pula saya tanyakan. Mengapa Tuhan tidakmerangkul saya ketika saya harus bekerja melebihi kapasitas. Membiarkan saya. Sehingga berjalan tertatih-tatih dengan penuh beban.

Atau mungkin ini adalah kehendak Tuhan, karena ada sebagian rezeki mereka yang mengalir melalui saya, dan Tuhan perlu atau Tidak saya selalu ingin selalu diingatkan. Seperti engkau mengingatkan saya akan hari-hari saya melalui film ini.

Apa jadinya jika tidak diingatkan?

Sesungguhnya bahkan ketika vokalis NOAH harus mendekam disana, ada hikmah yang besar dibalik itu semua. Tidak saja bagi dia, tapi untuk orang-orang yang mau berpikir.

Dan adegan yang saya paling ingat (karena saya suka) adalah ketika Ariel berdo’a. berdo’a ketika meminta dan saat itu Tuhan sedang memberikan waktu bagi kita untuk sendiri bersama-NYA.

Aaaaah, tuh kan selama ini saya salah. Ternyata Tuhan sebetulnya sering memberi kita untuk sendiri tetapi kita memilih untuk tidak dipergunakannya. Malah dipakai untuk mengeluh.

Khayangan, 13 Muharam 1435 H / 17 November 2013

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Me. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s