Antara Masuk Angin dan Tolak Angin

Aziz Elfatimy, dia menyebutkan nama. Terlihat sekali dia frustasi karena harus berulang kali menyebut namanya, sedangkan para mojang (gadis – Bhs. Sunda) konsisten memasang muka kebingungan. Sebagian ada yang manggut-manggut, dan berkata, “Oooh….” Bulat penuh di mulut yang tidak mengurangi kadar kebingungan.

Saat itu kami berlima yang dipertemukan karena kelas bahasa Prancis dan baru bisa mengucapkan, “Bonjour, Comment Allez-Vous?” atau “Comment vous appelez-vous?” dengan lancar. Lalu bertemu dengan seorang Prancis asli yang sedang nyasar di Jalan Purnawarman adalah hal yang luar biasa. Terlebih lagi dia itu sangat ganteng (sayangnya dia sangat menyadari betul dengan kelebihannya ini), berkulit putih, tidak terlalu pucat. Wajah sedikit Arab dan bahasanya itu lho, karena konon katanya Bahasa Prancis adalah bahasa yang paling romantis. Sungguh suatu komplikasi yang mematikan.

Rupanya dia seorang Maroko, makanya dia bernama muslim tetapi berkebangsaan Prancis. Pada usia sembilan tahun dia harus mengikuti orang tuanya pindah ke Montpiller atas dasar peruntungan dan ingin merubah nasib.

Saat itu, Aziz terlihat kurang enak badan, saya pikir mungkin jetlag, karena telah menempuh perjalanan jauh. Kurang lebih 16 jam. Dia pun mengakui bahwa dia kurang enak badan, dengan bahasa Inggris yang terbata-bata (sejujurnya sih dia ngomongnya seperti yang kumur-kumur, makanya kami kesulitan menangkap maksudnya).

I don’t feel well…” katanya.

Susi teman kami nyeletuk, “May be you got ‘masuk angin’ monsieur…”

What is masuk angin?” tanya Aziz.

Mula-mula Semua terdiam, saya juga. Bingung juga menjelaskan perihal masuk angin ini. Bagaimana caranya? Lalu yang lain menyeletuk, “the entering wind…” disertai derai tawa.

Dengan gerakan matanya, dia mengharap penjelasan lebih jauh mengenai fenomena masuk angin ini. Lalu kami bahu membahu dengan kosakata minim mulai menjelaskan apa itu masuk angin dan saat itu pula baru menyadari masuk angin adalah hal yang sangat Indonesia sekali.

Dia manggut-manggut, mencoba mencerna jawaban-jawaban kami. Lalu dia bertanya, “what’s the cure for it?

Semua serempak menjawab, “TOLAK ANGIN.”

Diterjemahkannya secara harfiah, “Denied Wind.” Walau begitu kami tetap kebingungan menjelaskan obat mujarab larutan tolak angin ini.

 

Aziz cukup lama tinggal di Bandung, hampir 4 bulan untuk menyelesaikan tugas yang diperintahkan (mungkin semacam ikatan dinas dari kampusnya). Hampir tiap hari dia menanyakan rute, berita di koran lokal. Dia paling sering meminta saya menerjemahkan iklan baris atau berita di kolom kecil. Seperti berita bayi yang butuh donor darah, pencurian di Majalengka serta hal-hal kecil, remeh-temeh lainnya ke saya. Peristiwa the entering wind, membuat Aziz menganggap saya adalah gadis yang bisa dipercaya sementara 4 teman yang lainnya sering mengerjai dia. Seperti pada saat makan siang, ke empat teman saya sengaja membawa Aziz ke kedai Bakso. Salahnya Aziz juga sih yang ingin tahu kuliner asli.

Saya tidak ikut saat itu. Sore hari baru saya ketemu Aziz. Dia bercerita kalau teman saya mengajak dia makan Bakso ceker, dia langsung lari keluar dari kedai Bakso. Dia tidak tahan melihat kaki-kaki ayam yang tengadah berserakan di mangkok. Hampir mau muntah. Katanya.

Aziz ngomel-ngomel dalam bahasa Prancis, benar juga Bahasa Prancis sangat romantis, bahkan di saat mengomel pun terdengar cukup Indah.  Saya tertawa terpingkal-pingkal mendengar penuturan Aziz, sungguh jahil teman-teman saya itu.

“Ya, sudah kalau besok kita makan Mie kocok,” tawarkan saya.

What is that?” tanya dia.

“Kaki sapi…”

Aziz langsung mencak-mencak. Dia mengancam kalau diajak makan kaki lagi, kaki saya akan dimakan sama dia. Padahal mie kocok itu recommended jika berkunjung ke Bandung. Tentu saja kaki sapinya tidak akan digeletakan begitu saja di mangkok, dan kita menjilat-jilat layaknya Pluto.

Dia paling senang kalau diajak jalan-jalan keliling pasar kaget, seperti Gasibu. Dulu Gasibu masih semerawut dan tidak tertib. Aziz suka memuji walau sebetulnya menyindir juga sih. Dia lebih suka jalan kaki dibandingkan naik angkot. Badannya yang tinggi, harus dilipat-lipat dalam angkot. Aziz belum tahu saja kalau angkot di Bandung adalah anggota gank Autobots, mereka akan bertransformasi lebih keren dari Bumble Bee.

Waktu itu, karena sedang ingin nonton serian alias sinetron impor, saya membawa Aziz ke Kota Kembang. Pusat DVD ehem-ehem….

Aziz terlihat panik dengan hamparan DVD bajakan disana. Dia bilang kalau Bill Gates melihat pasti sudah kena serangan jantung. Awalnya dia sendiri takut, karena itu semua ilegal. Apalagi pas ada polisi, dia sudah bertanya berkali-kali, “are you sure?” mukanya terlihat panik.

Begitu melihat Pak Polisi asyik memilih-milih film lalu membeli beberapa keping dia merasa lega. Dia menjuluki kota kembang sebagai Supermarket ilegal. Dia pun membeli beberapa film kartun dan film action. Serasa menemukan kegembiraan. Dia bilang enak sekali tinggal di Bandung, DVD bajakan bebas, buang sampah bebas, meludah juga bebas. Saat itu sebetulnya saya merasa ditampar. Maluuuuu…… sebagai warga Bandung.

Itu hanya sekelumit cerita seorang bule yang nyasar di Bandung. Mau tahu keseruan bule-bule yang sengaja menyasarkan diri ke Indonesia? EAT PLAY LEAVE akan menjawab rasa penasaran itu. Bule-bule yang sengaja menyasarkan diri ke Indonesia demi sebuah apa????? *jorokin microphone…

-Demi sebuah pengalaman sepertinya – *ngusap jidat

Di buku ini, secara tidak langsung akan menyadarkan kita, mengapa kita harus bangga jadi bangsa Indonesia. Bule-bule saja sampai datang kesini, demi sebuah cinta yang mereka harap temukan. Sampai rela dikerubuti monyet. Demi sebuah ketenangan, demi kesembuhan, bahkan ada yang rela menghapal Lagu Indonesia Raya dan Pancasila demi menjadi orang Indonesia. Dan kita yang sudah jadi orang Indonesia, kenapa kita tidak bangga?

Ini Penampakan Bukunya , x+250 hlm, 20.5cm. Gak Makan Ruang, Ringan.

Ini Penampakan Bukunya , x+250 hlm, 20.5cm. Cucok buat dibawa jalan-jalan

Bisa juga dijadikan tabir surya

Bisa juga dijadikan tabir surya atau undercover buat nutupin muka ngantuk

Eat Play Leave and Me

Eat Play Leave and Me

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Me dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Antara Masuk Angin dan Tolak Angin

  1. ajul berkata:

    Eat… play… eat…. play…. eat… sleep

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s