Kemeriahan HUT RI Bagi Mantan Atlit Volly Nasional RT 03

Mumpung masih dalam suasana kegembiraan HUT NKRI, mau cerita sedikit tentang pengalaman menjadi peserta lomba tujuh belasan.

Tahun kemarin, sepertinya menjadi tahun terakhir saya sebagai atlit volley nasional RT 03 RW 02 kelurahan Margahayu Utara – Kota Bandung. Saya berjanji, tahun sekarang dan berikutnya giliran tampil generasi baru. Jangan melulu saya dong (modus juga sih, ya… boleh deh mau dikatakan faktor umur juga, tapi yang jelas gak mau dibilang maruk yang terus-terusan eksis tanpa memberi kesempatan yang lain. tujuannya mulia bukan?)

Tahun kemarin sebetulnya agak terpaksa,setelah beberapa tahun vaccum akhirnya saya luluh juga dengan bujukan Bu RT. Beliau bilang sih, tidak ada pemain lagi. Terus diselenggarakan selepas lebaran idul Fitri, jadi banyak yang sedang mudik. Jadilah saya ini adalah atlit volley nasional pelengkap penderita. Bukan cadangan lagi. Menggenapkan jumlah pemain. Saya dipasang diposisi belakang, yang melakukan serve pertama.

Walaupun tanding volly itu cuman Tarkam alias antar kampung, tapi tidak kalah seru dari pertandingan volly sekelas Sea Games atau olimpiade. Saya paling senang jika lawan tanding kami adalah noni unyu-unyu (tim RT-nya tidak usah disebut yaa….) Mereka biasanya heboh dengan dandanan. Mau tanding, rambut panjang sengaja tidak diikat, belum poni yang memanjang simetris membelah dahi dan menutupi mata sebelah. Ada juga yang senyam-semyum memamerkan behel warna-warni. Memakai hot pants, kaos kaki selutut biar terlihat kaki lebih jenjang atau menutupi bekas koreng, saya kurang tahu. Dandan ala Korea, generasi SNSD dan 21 Kalau sudah begini hampir dipastikan, serve yang saya kasih pun akan membubarkan mereka. Soalnya dengan tidak mengurangi rasa hormat, mereka akan teriak-teriak histeris begitu bola dipukul dan melewati net. Kebingungan, takutnya akan membuat luntur penampilan. Penonton yang didominasi kaum pria akan bersorak-sorak. Kecuali bapak-bapak mereka yang keberatan dengan penampilan anak gadisnya. Pasti akan bermuka asem. Dan yang jelas sebelum peluit tanda bertanding dimulai, hampir dipastikan. Mereka membuat status dulu di Twitter, instagram, path bahkan facebook. Kompak di medsos, belum tentu kompak di dunia nyata.

Beda lagi jika lawan tandingnya emak-emak. ini giliran saya yang keder. Mereka perlu diwaspadai. Dengan beragam profesi, pengalaman hidup yang matang dan tingkat stress yang tinggi akibat himpitan ekonomi :D. Mereka lebih gagah perkasa, melibas lawan-lawannya. Tanpa ampun.

Ada Teh Inna. Jika diluar lapangan dia penjual gorengan  di dalam lapangan adalah tooser yang cukup pintar. Teh Siti yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci tidak ketinggalan. Kecepatan smash-nya melebihi kecepatan kilat. Kalau dia melakukan smash saya langsung ngiprit lari keluar lapangan. Dalam sat pertandingan pernah saya mencoba menahan smashnya, esok harinya lengan saya memar. Biru lebam. begitu datang ke kantor dikira mengalami KDRT. Ada pula yang jago mem-block. Mementahkan serangan kami, yang kami susun secara spontan. Dan membuat kami frustasi.

Itu adalah kekuatan tim RT 04. Tim RT 01, yang lebih terlihat religius dengan seragam putih-putihnya akan bermain anggun dan alot. Kami mempunyai kekuatan yang sama. Dari beberapa kali tanding kedudukan kami seri. Dan kami sama-sama kalah oleh tim RT 04.

Di babak semifinal beberapa tahun lalu, engkel saya cidera dan sempat pula dibawa ke bengkel tulang. Sampai sekarang belum sembuh total. Itu salah satu alasan saya vaccum. Makanya saya suka merasakan betapa tersiksanya David Beckham atau Cristiano Ronaldo jika cidera engkelnya kambuh.  Walau begitu saya masih senang bisa membela tim saya. Saya masih ingat, saya pernah dikasih honor sebesar sebelas ribu. Ya, bukan masalah nominalnya tapi kebersamaannya itu yang membuat saya kembali luluh untuk ambil bagian.

Hampir tiga tahun saya membela RT saya ini. Oh ya, sebetulnya tim nasional disini tidak melulu sebagai tim volly saja, tapi harus siap pula diturunkan pada saat pertandingan tarik tambang, gerak jalan, tanding gebuk bantal, futsal, bakiak. Pokoknya apapun perlombaan, kita mesti siap-siap saja Bu RT manggil karena kita adalah tim inti. Kalau panjat pinang saya langsung nolak saja, lah wong saya harusnya di pinang koq, bukan dipanjat. Iya kan….

** sayang saya gak minta foto-fotonya pada Panitia.Lupa. terlalu keasikan jadi peserta. Kalau mau lita boleh lah nanti diminta.

Dipublish juga di 

http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2014/08/19/kemeriahan-hut-ri-bagi-mantan-atlit-volly-nasional-rt-03-673854.html

Bandung, 18 Agustus 2014

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s