Berkunjung ke Bentang

Sedikit terlambat, tapi pepatah mengatakan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Makanya tidak heran jika orang Indonesia senang sekali datang terlambat alias ngaret, karena pepatah ini sudah sangat melekat dengan kebiasaan. Tidak terkecuali arti terlambat yang satu lagi, yang memerlukan pemeriksaan Bidan untuk memastikannya. Apakah anda akan Gembira atau malah Panik.

Tanggal 19 September kemarin, saya diberi kesempatan untuk mengunjungi Kantor Bentang Pustaka di Jl. Plemburan No. 1 Pogung Lor, Sleman – Yogyakarta. Tiket ini saya dapatkan karena saya adalah salah satu peserta Akademi Bercerita dari Bandung. Tujuan saya untuk mengikuti akademi ini adalah untuk membuat Bandung semakin fenomenal, bombastis, #BandungJuara. Pokoknya membuat Bandung go internasional.  Menginspirasi banyak orang dan banyak lagi harapan saya akan kota yang dijuluki Paris Van Java. Setidaknya ini adalah cara saya untuk berterima kasih kepada kota tercinta. Menjadikan Bandung sebagai kota kebanggaan karena saya bangga menjadi warga Bandung.

Kami pergi menggunakan kereta api ekonomi Kahuripan, dengan harga tiket Rp. 5o.ooo,-  . Satu teman kami akan menyusul dari Semarang. Komposisinya seperti ini : 2 Cianjur, 1 Bekasi, 1 Semarang (tapi katanya sering jadi orang Bandung juga), 1 Majene (yang tersesat dengan menyenangkan di Bandung), sisanya Bandung.

loomband hood

loomband hood

Saya pergi tanpa restu kakang Prabu (i know i know sangat dramatis, maksudnya lebay 😀 ). Apalagi ketika beliau mendengar kata “kelas ekonomi”. Dalam benaknya terpikir kereta api yang jendelanya tanpa kaca, hanya palang-palang besi lalu dikerubuti orang sampai atap. Saya pikir dia pasti mendapat gambaran itu dari Film India. Oh, sungguh lebay. Dan ternyata beliau salah lagi. Kereta kelas ekonomi cukup nyaman. Ber-AC, tanpa pengamen dan hal-hal lain yang dia khawatirkan. Hanya saja kereta ekonomi berhenti di hampir semua stasiun. Hikmahnya adalah membuat kita akan selalu terjaga dan waspada. Suasana kereta api kelas ekonomi aman terkendali. Terima kasih pada Pak Dahlan Iskan dan Dirut PT KAI, serta seluruh pengelola kereta api. Jadi pengen ada kereta Bandung – Ciwidey. Heup ah, nanti dibahas lagi itu mah.

Jendelanya pakai Kaca. Amaann

Jendelanya pakai Kaca. Amaann

Tiba di Yogya (stasiun Lempuyang) pagi hari. Kami sholat subuh lalu mencari sarapan. Selanjutnya kami menuju ke penginapan. Mbak Ika, salah satu editor Bentang memberi kami sedikit petunjuk arah dan nomor telepon taxi yang bisa kami gunakan untuk mencapai wisma Aisyah. Saya lupa wisma Aisyah itu terletak di jalan apa. Nama jalannya entah mawar atau melati. Dengan menyewa 2 taxi kami pasrah. Petunjuk arah kami mengandalkan Waze selain supir taxi, soalnya kalau google map sering tersasar (saya pribadi pernah mengalami itu, hingga sekarang sulit rasanya mempercayai google map lagi.)

Dari Wisma Aisyah kami  cukup berjalan kaki menuju kantor Bentang. Kebetulan saya suka berjalan kaki, jadi tidak masalah. Asal jangan dibandingkan enak mana jalan kaki atau menumpang Alphard? ya, jawabannya tergantung kondisinya dong. Jalan kaki dengan kakang prabu lebih baik daripada numpang Alphard di satukan dengan durian (eits, ini Alphard apa Alphard KW alias mobil Box yang pintunya sama-sama digeser di samping ya? gak jelas.)

Yogya memang panas, apa mau dikata. Jarak matahari rasanya cuman beberapa meter saja dari kepala. Ditambah kami harus menyusuri jalan lingkar di Yogya yang minin trotoar. Tapi itu bukan hambatan buat kami. Semua itu tidak mengapa karena kami punya misi. Misi kami adalah:

MISI: Penulis Muda.

MISI: Penulis Muda.

Menjadi PENULIS MUDA. Muda tidak terkait dengan angka. Kami muda! Semangat dan cita-cita. Sekaligus menunjukan bahwa kami harus lebih banyak belajar pada yang lebih tua, yaitu mas Iman dan Mas Udin…… (nun sewu mas, bercanda 😀 )

Sebetulnya saya punya misi terselubung tersendiri. Dari Bandung saya membawa Rahvayana. Saya sengaja membawa buku itu untuk mengunjungi kota kelahirannya. Siapa tahu dia kangen. Buku ini ditulis mbah Sujiwo Tejo, Presiden Jancukers.

Rahvayana

Rahvayana

tandatangan Si Mbah

Buku ke 684 dari 777 yang di tandatangani oleh Presiden Jancukres. Bagaimana saya sampai tersesat membaca buku-buku beliau? saya pun tidak tahu.  Bukan berarti saya #Jancukers karena sering membaca buah pikirannya. Saya tidak tertarik menjadi warga negara jancukres, saya masih ingin tercatat sebagai warga negara Bandung. Walaupun sering kali presiden Jancukers ini mengiming-iming keindahan negeri Jancukers di lini masanya. Apa saya berhenti mengintili saja gitu ya? tapi lebih baik mengintili presiden yang satu ini dari pada mengintili presiden yang akan berakhir masa jabatannya di tahun ini.

Buku ini semakin hebat karena pas kunjungan ke Bentang, saya mendapat tanda tangan editornya. Jarang kan ada buku yang ditandatangani oleh editornya. Saya minta diberi tanggal pula. Sebagai pekerja di bidang Farmasi. Tanda tangan disertai tanggal akan valid. SAH! LEGAL!

Tanda tangan Editor Mbak Ika Yuliana Kurniasih

Tanda tangan Editor Mbak Ika Yuliana Kurniasih

Editor Rahvayana tidak lain dan tidak bukan adalah Mbak Ika, yang memberi kami petunjuk arah. Betapa spesialnya buku ini. Kalau begitu lain kali saya akan membawa buku Andrea Hirata Padang Bulan – Cinta dalam Gelas lalu meminta Mas Imam untuk menandatanganinya… hehehehe..

Selain Mas Iman dan Mas Udin, kami bertemu dengan editor Bentang. Ada Mbak Noni, Mbak Dila dan Mbak Ika tentunya. Ingat pesan ini. Penulis adalah Raja, Editor adalah Dewa dan pembaca adalah Tuhan. Jadi mbak-mbak ini adalah… (ya, apa coba? 😀 ) yang jelas kami diberi kesempatan untuk berkonsultasi tentang naskah dan point-point penting dari satu naskah.

Aula Bentang.

Aula Bentang.

Dari Kiri, Gelar Riksa, Mas Udin, Mas Iman, Atria, Nesya, Nanae, lela, saya, Tya, Mbak Ika, Amelia, Icha dan Ira. Mas Capt, kepsek dari Bandung sedang mengembang misi yang terhormat yaitu jadi juru Foto.

IMG-20140920-WA003

Nah, itu Capt. Kita di belakang, di samping Mas Udin yang histeris.

Di akhir kunjungan kami bertemu dengan mas Salman, CEO Bentang.  Kami belajar banyak dari beliau, tentang gagasan serta cara eksekusinya. Saya pribadi salut kepada beliau karena dapat menyanyikan lagu berbahasa Sunda dengan sangat fasih. Dengkleung déngdék, buah kopi raranggeuyan. Tidak hanya fasih tapi tahu maksud arti dari nyanyian rakyat Pasundan tersebut.

Jadi terinspirasi semoga saya bisa seperti beliau yang melihat hal menjadi sebuah kesempatan. (eits, kesempatan apa pula ya…) ya, apalah itu karena hanya berganti dari hotel ke hostel beliau bisa memberikan konstribusi yang banyak. Melahirkan banyak karya, Penulis, membuat orang lain tahu ada apa saja di belahan bumi sana-sini, dsb. Dan tentu saja kalau dangkalnya menghasilkan banyak rupiah 😀

Mas Salman ditengah, berbaju merah

Mas Salman ditengah, berbaju merah

Acungan dua jari itu bukan berarti kampanye, masa itu sudah lewat. Jadi jangan ada yang marah ya, kalau selalu banyak yang mengacungkan 2 jarinya kala berfoto, itu sudah kode alam :D. Apalagi pakai dendam, terus Demo, terus lapor ke RT. Repottt. Percayalah! Acungan ini bisa saja pertanda perdamaian selain victory. Karena kami akan mengobarkan perdamaian melalui tulisan.

Sekian cerita kunjungan kali ini.

Iklan

Tentang bioeti

If Love is chemistry so i must be the science freaks. Made from flesh and blood with angel and demon inside. An Animal Lover
Pos ini dipublikasikan di fenomena dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s