Cerita meubel (Selamat Hari Bumi)

Bagaimana perjalanan meubel sampai ke rumah anda? Bagaimana cerita dibalik kursi yang mungkin sekarang anda duduki dengan nyaman sambil membaca tulisan ini.
Anda tinggal ke toko meubel, memilih furniture. Meja, kursi, lemari. Bayar lalu kita tinggal tunggu nanti pesuruh dari toko meubel akan mengantarkannya.
So simple… ya tentu saja. Seperti itu.
Habis perkara. Tapi tidak sesederhana itu bukan? Banyak hal menarik yang dari bisnis ini. Salah satunya, bagaimana bisa bertahan dengan bisnis ini?

Bisnis ini berbeda dengan bisnis fashion dan kuliner. Dua bisnis barusan akan bergerak dengan cepat. Kuliner karena pada dasarnya manusia itu selalu lapar. Dan fashion karena kita harus tampil gaya 😀 . Tentunya bukan semata karena ingin gaya. Perputaran bisnis fashion and food sangat cepat.
Lantas bagaimana dengan furniture/meubel karena perputarannya tidak secepat dua bisnis diatas.Tentunya orang akan membeli meubel tidak sesering seperti membeli baju dan makanan.

Minggu lalu saya mendapat hadiah buku dari first GA . Bukunya asyik, gak hanya ringan untuk dibawa kemana-mana (terdiri dari 174 hal + viii). Buat dibaca sambil nunggu antrian, dalam angkot gak akan bikin keberatan. Ringan fisiknya dengan gaya bahasa yang digunakan ringan juga tapi manfaatnya, full loaded deh.  Bahkan orang awam seperti saya pun bisa mengikuti. Gak ngawang-ngawang, gak sok ilmiah atau pake istilah yang ketika dibaca kita harus googling cari terjemahan dulu.
Judulnya Meubel Preneur diterbitkan oleh Grasindo. Penulisnya Manampin Girsang dibantu oleh Hendra Sipayung. Terbit bulan Maret Kemarin.

image

Ini penampakan bukunya

Di buku ini bukan hanya bercerita tentang suka duka om Manampin Girsang tentang membangun bisnis meubel dengan bendera PT GABE, tapi Om Manampin sekaligus sedang membagikan ilmunya.
Bagi yang sedang berbisnis meubel dan ingin mengembangkan bisnisnya, buku ini sangat cocok sekali. Di buku ini akan ditemukan tahapan-tahapan dari mulai faktor internal sampai external.
Seperti misalnya cara memanage karyawan, quality controling, hingga cara mengirim barang sampai keluar negeri pun (jenis perusahaan expedisi, lama pengiriman, cara pengiriman) dibahas dengan detail.

Tampilan web pun disinggung, begitu pun tips dan trick memasang display hingga negosiasi dengan konsumen. Malah ada klasifikasi buyer pula. Belajar mengenali calon pembeli. Ini penting.

Seperti yang tadi disebut, bukunya boleh ringan. Tapi kaya manfaat.

Dan ini satu hal yang menjawab penasaran saya selama ini dengan bisnis meubel.

Sudah barang tentu bahan baku meubel adalah kayu. Meskipun sekarang banyak ditemukan meja, kursi, lemari berbahan plastik tetapi dari segi penampilan tentu orang lebih banyak memilih berbahan baku kayu.
Meskipun plastik itu tidak bisa diurai, tidak akan busuk bukan berarti mereka tahan lama. Nyatanya meubel plastik lebih cepat rusak dan berakhir jadi sampah lebih cepat dibandingkan berbahan baku kayu. Itu hal lainnya mengapa bahan baku kayu tetap nomor satu.
Terus bagaimana dengan bisnis meubeul ini yang membutuhkan banyak kayu? Apakah mereka adalah biang penyusutan populasi pohon di negara ini?
Rasanya jadi gak nyaman juga kalau kita memiliki lemari atau tempat tidur keren dengan desain ala ratu Eropa tapi bahan bakunya berasal dari pohon yang tempatnya dilindungi. Bahkan dari pohon satu-satunya yang jika ditebang maka mata air di kawasan itu akan hilang.

Point ini sangat penting.
Dalam buku ini, di halaman 40, disana ditulis dalam ukuran font lebih besar. SANGAT MENYARANKAN UNTUK MENGHINDARI PEMBELIAN KAYU DIPASAR GELAP. Jangankan membeli ketemu pun harus dihindari. Nah lhoo… begitu straight aturan yang diterapkan untuk urusan bahan baku.
Dokumen-dokumennya harus lengkap sehingga jelas asal-usulnya. Gak boleh hasil illegal logging. Gak boleh hasil mencuri!!!

Nah, ini berarti kita sebagai konsumen juga jangan asal membeli. Harus pintar cari produsen meubel yang ramah pada lingkungan. Jangan sampai kita mengutuk banjir dan bencana alam lainnya, tapi justru kita adalah bagian dari penyebabnya.
Om Manampin sudah memberitahu harus jelas asal usul bahan baku, dalam buku ini Om Manampin menyebutkan Perum Perhutani memfasilitasi penyediaan bahan baku

Syukur-syukur PT GABE bisa mengadakan kegiatan penanaman pohon 😀 Gak hanya di Bali, tempat bisnis Om Manampin lahir. Tapi di seluruh nusantara ini. Manfaat pohon tiada akan habisnya kalau dibahas. Sebelum jadi kayu dan berubah bentuk jadi furnitur, pohon adalah penyedia oksigen, penyerap karbon, penangkal banjir dan seribu manfaat lainnya (nancepin brosur caleg :p)
Pohon untuk bumi. Apa jadinya planet ini tanpa pohon.
Mari kita sayangi planet ini.
Happy Earth day, everyone….

Iklan

Tentang bioeti

If Love is chemistry so i must be the science freaks. Made from flesh and blood with angel and demon inside. An Animal Lover
Pos ini dipublikasikan di cicit cuit dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Cerita meubel (Selamat Hari Bumi)

  1. Beby berkata:

    Kalok ada reboisasi jadinya lumayan lega yah, Mbak.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s