Pamali dan Selfie

Cerita dari lebaran kemarin yang berencana tidak mudik, tapi akhirnya mudik juga. Mudik ke tanah leluhur Bapak, kampung Bunut yang terletak di sebelah selatan kota Bandung. Sebelum Pangalengan, sekitar 21 Km dari Bandung.

Dari arah Leuwi Panjang melewati Kopo lalu Soreang, setelah melewati tempat makan kampung sawah, sekitar Ciherang, kami berbelok ke kanan di mana ada seorang laki-laki seperti memainkan bendera Simaphore dengan kaleng kecil di depannya.

banjaran

Di sana kita akan disuguhi hamparan sawah yang kekeringan. Maklum musim kemarau yang berkepanjangan. Musim ini bukan dampak karena salah pilih presiden seperti sangkaan banyak orang tapi semata-mata karena respon semesta akibat perilaku kita yang sering semena-mena pada alam. Mbak Sujiwo Tedjo lebih sering menyebutnya Sabda alam daripada melabeli sebagai musibah.

Sawah

Sawah di Kampung Bunut – Banjaran Kab. Bandung

Tour menjelajahi tempat liburan masa kecil  dipandu Yoga, sepupu saya yang rupanya mengidolakan kang Komar.

Jpeg

Yoga sebagai pemandu

Sebagai pemandu Yoga menunjukan dan menjelaskan riwayat tempat yang banyak beralih fungsi. Sekarang ada yang berubah jadi Water boom, ada villa, ada bengkel kata dia. Tapi mata air tumpuan ketika musim kemarau tiba masih ada. Masih mereka rawat karena jika tidak tentu akan berakibat fatal. Bagi yang menyadarinya karena banyak pula yang sudah tidak peduli.

Mata air itu dikelilingi kolam ikan dan pohon bambu. Ada dua mata air di sana. Yoga meminta saya untuk tidak membuat foto-foto di sekitar mata air. Saya tentu saja mematuhi permintaan itu. Apa salahnya nurut.

Menurut penduduk setempat melabeli dengan Pamali akan lebih jitu. Misalnya tidak boleh menebang pohon sembarangan di sana karena pamali. Jika dipikir secara logika saya yang dangkal, mengatakan pamali bukan bermaksud mendewakan atau musyrik. Lah, kalau ditebang, mata air nanti hilang yang kena tulah bukan hanya yang menebang tapi semua penduduk di sana.

Tidak boleh selfie, selfie membuat hilang konsentrasi. Di sana arusnya deras dengan batuan licin, nanti malah sibuk pose bukan memperhatikan keselamatan.

Itu sih kira-kira menurut pikiran saya yang harus sering diupgrade.

Beruntung sekali dulu masih bisa main di sawah, menunggang kerbau, main bebas di alam secara gratis. Kalau sekarang kegiatan ini menjadi lahan bisnis.

Katanya. 😀

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di fenomena dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s