Belajar Jalan

Diantara kakak-kakaknya, Aluy memang termasuk telat untuk bisa berjalan. Kadang suka ada yang iseng juga sih membandingkan dengan anak tetangga, tapi gak perlu respot mikirin ini dan itu karena sesungguhnya every child is unique.

Usianya genap setahun di 10 Juli kemarin, tadinya akan seperti kakaknya yang bisa berjalan sebelum berusia genap setahun. Rupanya perkiraan itu meleset, Aluy tetap saja belum mau berjalan sendiri. Dia masih terus meminta pertolongan, mencari-cari lengan yang kosong. Jadi bisa disimpulkan, kalau Aluy sebetulnya sih sudah bisa berjalan tapi dia tidak berani.

Jpeg

Aluy jalan-jalan

Awal September kemarin akhirnya Aluy berani berjalan sendiri. Setelah ketahuan dia berjalan untuk mengambil main yang dia inginkan tanpa dia sadari. Untuk merayakan Aluy yang berani jalan sendiri, kakeknya berinisiatif membuat nasi tumpeng. Dan tentu saja, sesuai perkiraan. Pasti banyak yang teriak sama Aluy buat diem. 😀 . Karena dia tidak mau duduk. Terus melakukan blusukan, kesana-kemari.

Sebelum berani jalan sendiri setengah dipaksa-paksa buat jalan. Sudah bisa jalan, banyak orang dewasa yang memohon-mohon agar diem. Begitu pikir Aluy.

Berhubung saya sudah lama gak nulis, karena ini dan lain hal.  Bukan karena Aluy pastinya 😀 . Ketika di satu Weekend, di weekend yang sama ketika kami akan merayakan Aluy berani berjalan sendiri. Saya mengunjungi kawasan Oto Iskandar Dinata. Di sana saya mencari kebutuhan untuk membuat tas. Tepat di parkiran saya melihat seorang perempuan, seorang kakek dan baby sitter (saya bisa menyimpulkan ini karena melihat seragamnya. Tapi tidak menutup kemungkinan orang yang memakai seragam baby sitter itu adalah selebritis yang sedang menyamar).

Di antara mobil yang terparkir, sang Kakek berusaha berjalan dengan tertatih-tatih. Dia menggapai apa pun agar dia bisa berjalan dan melangkah.

Kakinya gemetar, begitu juga tangannya. Hampir saja dia terjatuh. Baby sitter di belakangnya bersiap untuk menolong. Tapi perempuan itu terlihat berkuasa dan melarang Baby sitter menolong sang kakek dengan membentaknya. Lalu memaksa Kakek untuk berjalan tanpa tanganya menopang pada mobil yang terparkir. Kakek bilang dia gak bisa Tapi anak perempuannya itu terus ngomel-ngomel kalau kakek harus bisa. Harus belajar jalan.

Terlihat ketakutan dari wajah sang baby sitter. Entah takut tuannya terjatuh atau takut sama sang nyonya yang berkuasa.

Pikiran saya berjalan maju mundur. Mundur ketika saya jadi ingat, masa-masa Aluy yang sedang belajar. Maju ketika saya memikirkan jika sang kakek itu adalah bapak saya, atau saya sendiri yang menjadi renta. Lalu nyonya yang berkuasa itu adalah Aluy. Dan Sang Baby Sitter adalah anggota girl band yang paling terkenal pada saatnya 😀 .

Keduanya sama-sama belajar berjalan. Sang kakek dan Aluy. Jika kami sengaja membiarkan Aluy untuk berani belajar sendiri dengan melepaskan tangan kami, saya kira kita tidak perlu melakukan itu jika yang belajar berjalan adalah Kakek (orang tua) . Tak harus melepaskan pegangan. Mungkin saatnya kita menuntunnya.

Tapi itu hanya pikiran saya saja koq, yang memperhatikan mereka di parkiran.

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Familie, fenomena dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Belajar Jalan

  1. Ping balik: Belajar Jalan | carita ti khayangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s