Payung Uang

Semua akan indah kalau ada duitnya ~ Safir Senduk, pakar perencana Keuangan

Membicarakan tentang uang adalah membicarakan hal yang sensitif. Apalagi akhir-akhir ini, definisi miskin dan kaya  menjadi bias. Banyak orang kaya tetapi menggunakan barang-barang yang diperuntukan bagi orang miskin. Misalnya, menggunakan bensin bersubsidi. Berobat dengan kartu miskin, memasukan anak ke sekolah menggunakan surat keterangan miskin.

Tak sedikit pula yang berpenghasilan pas-pasan mengaku (berlagak) kaya. Mengambil jatah uang pendidikan anaknya dipergunakan untuk membeli perhiasan, ada juga yang digunakan foya-foya. Memaksakan diri demi diterima dan dibilang wah dalam pergaulan.

Lantas apa itu dengan kaya dan kekayaan?

Siapa sih yang lebih kaya:  karyawan, pengusaha dan profesional?

Berkat arahan Mas Safir Senduk, akhirnya jadi tahu apa yang disebut kaya. Menurut Mas Safir Senduk orang kaya bisa dilihat dari investasinya. Meski dia karyawan tapi pandai berinvestasi bisa jadi assetnya melebihi pengusaha. Dan tetap harus diingat, meski kaya, investasinya dimana-mana tapi uangnya hasil korupsi, ini tidak bisa dikatakan kaya. Dianulir langsung deh. Tidak masuk kriteria.

Jpeg

Safir Senduk

Nah, agar tidak menggalau dikarenakan masalah finansial. Karena masalah uang yang sensitif ini, jika dibiarkan berlarut-larut bisa mengancam persatuan dan kesatuan keluarga terus berdampak pada stabilitas negara. Mas Safir Senduk memberikan wejangan nyata untuk menangkalnya dengan tiga langkah.

  1. Investasi
  2. Dana untuk masa depan
  3. Mengatur Pengeluaran

ketiga langkah di atas sangat dipengaruhi oleh karakter dan pola pikir. Kepribadian kita akan mempengaruhi semua keputusan yang diambil. Orang-orang yang cenderung menggunakan otak kanan lebih sering menggunakan insting, sedangkan orang yang cenderung menggunakan otak kiri selalu menghitung dan  harus memenuhi logika mereka.

Sama seperti halnya ketika saya ingin membeli baju karena tergoda diskon, terus si Akang langsung ngomen kalau baju itu mirip dengan baju yang kemarin dibeli secara online dan sampai sekarang masih terbungkus. Terus saya bersikukuh ini beda, lucu, mumpung sekarang sedang diskon. Perseteruan diskon yang bisa memicu pecah perang dunia kesekian jadinya 😀 .

Kalau orang yang didominasi otak kiri untuk memulai bisnis atau berinvestasi tentunya akan banyak pertimbangan, berbeda dengan orang yang cenderung menggunakan otak kanan. Mereka tetap berhitung tetapi berani mengambil resiko dan mencari cara meminimalisir resiko tersebut.

Ada kiat-kiat tersendiri dalam berinvestasi, kita harus cermat karena diluar sana banyak sekali investasi bodong yang menggiurkan. Bukangnya untung malah merongrong dan membuat emosi jiwa.

Salah satu ciri dari investasi bodong adalah mereka selalu menawarkan bunga yang tinggi, memberi jaminan uang tunai setiap bulan, ada bonus setiap kali ada member baru, tetapi akan selalu berkilah jika disuruh presentasi langsung.

Langkah kedua adalah menyiapkan dana. Entah itu tunai atau menggunakan kredit. Konvesional atau syariah. Mempersiapkan dana, taruhlah ketika akan membeli rumah. Disitu kadang saya merasa sedih. Oh bukan itu, tetapi di situ kita harus sering bertanya dan mempelajari semua penawaran. Mana yang lebih masuk akal pada dompet. Biar nanti gak sedih.

Langkah terakhir yaitu mengelola pengeluaran. Ini langkah penting pemirsah, langkah ini sering kali menimbulkan benturan-benturan antara saya dan si Akang 😀 , persis seperti pertanyaan pada pre test (dan post test) ketika mengikuti event ini. Langkah ketiga ini menghasilkan tiga langkah turunan, yakni :

Pertanyaaan terakhir

Pertanyaaan terakhir

  1. Ketahui dimana boros kita. Terus kurangi pelan-pelan. Misalnya seperti saya yang sering kali tergoda Sale Sepatu dan tas. Hati-hati! dengan Sale, belajar berhitung lagi. Begitu pesan Mas Safir yang terhormat. Saya sering tergiur dengan perawatan kecantikan. Ramuan-ramuan dan racikan-racikan untuk melawan penuaan. Ya, saya termasuk anggota yang ingin melambatkan rotasi bumi pada porosnya. Agar waktu berjalan lebih lama. Kelompok yang melakukan aksi perlawanan pada penuaan. Kalau si Akang, Meski bukan penggemar batu akik atau berburu binatang langka (untungnya….), tapi hobby mempermak si Geulis (mobil) itu hobby yang menguras dana juga.
  2. Kendalikan keinginan. Ingat tentang hukum Tekanan. Bedakan antara wajib, butuh dan ingin.
Tekanan dan Gaya. Gaya yang membuat Tertekan

Tekanan dan Gaya. Gaya yang membuat Tertekan

3. Lakukan prioritas pada pengeluaran. Formula sederhananya seperti ini:

  • Cicilan – Utang 30% dari income. Jika penghasilan suami – istri terus ada cicilan rumah bisa di-up menjadi 40% dari income.
  • Tabungan 10% dari income.
  • Asuransi 10% dari income.
  • Biaya hidup 50% dari income.

Asuransi bukan investasi. Sekarang banyak investasi via manajer investasi atau dikelola oleh pihak ke-3 sehingga lebih mudah. Misalnya unit link, reksa dana yang ada asuransinya. Menurut Mas Safir Senduk Asuransi itu ibarat payung. Payung tidak menjamin hujan akan turun tetapi menjamin kita tidak akan basah kalau ada hujan.

Besarnya payung disesuaikan dengan kapasitas perlindungan yang kita inginkan. Hidup tidak akan makin mudah, bukan berarti akan menjadi lebih sulit. Banyak hal sehingga kita harus belajar mengelola keuangan dengan bijak.  Agar tidak menggalau. Entah apapun profesi kita. Baik sebagai karyawan, Pengusaha, Profesional tanpa atau sambil menyambi sebagai blogger.

Semua ilmu tentang keuangan ini saya dapatkan ketika mengikuti event yang diadakan oleh Sun Life Finansial Indonesia pada tanggal 3 Oktober 2015 lalu, bertempat di Mozaic Cafe Trans Studio Mall – Bandung.  Sun Life Financial adalah perusahaan penyedia layanan jasa Keuangan internasional yang terkemuka. Ibu Elin Waty, Presiden Direktur PT Sun Life Financial Indonesia langsung membuka acara dan memberikan paparan dan kiprah Sun Life Financial Indonesia dalam memberikan perlindungan  bagi masyarakat Indonesia.

Ibu Elin Waty

Ibu Elin Waty

Beruntung sekali bisa mengikuti event yang sarat ilmu ini. Terima kasih kepada Sun Life Financial sebagai penyelenggara juga pada Bang Aswi yang memberikan kesempatan pada saya sehingga bisa menghadiri event ini dan belajar mengelola keuangan lebih bijak.

Tips-tips kelola keuangan dari Mas Safir Senduk sangat sederhana. Se-sederhana seperti kalimat penutup yang menyudahi materi ilmu kelola keuangan dengan bijak yang dibawakannya, “hidup ini indah yang ribet itu tagihan-tagihannya.”

Aaah, memang. Karena uang tidak ada artinya, tapi fungsinya. 😀

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di cicit cuit, fenomena dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s