Goyobod

Goyobod, minuman yang terdiri dari alpukat, pacar cina (gak tahu juga sih, mengapa disebut pacar cina. Aku mah suka pacar lokal saja daa…), kolang-kaling alias cangkaleng, peuyeum sampeu, peuyeum ketan hitam, hunkwe dan lain-lain yang dibanjur larutan santan encer ditambah sedikit susu. Tidak lupa dikasih parutan es sesukanya.

Dulu saya cuma tahu dua tempat yang menurut saya goyobodnya enak. Di jalan Kliningan- Bandung. Suka disingkat Gokil. Goyobod Kliningan. Dulu memang hanya ada goyobod di sana, sekarang sudah jadi sentra jajanan murah.

Satu lagi di Garut, tepatnya alun-alun kota Garut. Jauh sih, kalau dari Bandung mah. Biasanya kalau pulang mengunjungi tanah leluhur, saya menyempatkan untuk berburu kuliner di Garut. Kabar-kabarnya pemilik goyobod Kliningan dan goyobod Garut masih bersaudara. Ya, itu bisa saja, soalnya dari segi formula dan komposisi ada kemiripan.

Sekarang kalau ngebet pengin goyobod saya gak perlu jauh-jauh ke Garut atau menembus kemacetan kota Bandung menuju jalan Kliningan. Di jalan Caringin, tepatnya dekat pertigaan ada kedai goyobod. Satu porsi Rp.8000,- . Nah, saya masih kurang paham juga karena belum melakukan interogasi yang menelisik apakah ada persaudaraan antara si Akang penjual Goyobod Caringin dengan Goyobod Garut dan Goyobod Kliningan. Apakah mereka masih member of goyobod brotherhood? 

Jpeg

Goyobod di Jalan Caringin Bandung

Awalnya si Akang berjualan di depan Perpustakan, terus pindah ke depan butik (Nama butiknya lupa lagi). Katanya sih, biar aman. Soalnya kalau trotoar sepanjang perpus dipatok pengumuman ini :

Jpeg

PENGUMUMAN.

Siplah kalau begitu mah, berarti saya gak makan di sembarangan tempat. Soalnya kadang saya ngomel-ngomel, gak kebagian trotoar dengan berbagai sebab.

“Saya kan kaum pedestrian, bayar pajak pula. Saya biayai lhooo jalan yang bapak lewati ini. Di aspalnya ada uang dengan tetesan keringat saya lhoo. Meski 0,005 ml tetes juga. Masa kalau trotoar saja yang lebarnya se-iprit saya masih dipepet juga??”

Hihihi… itu sih omelan saya kalau pas apes gak kebagian lahan buat jalan. Tapi nyata saya juga ikut menyumbang menyebabkan hal itu terjadi. Menyumbang dengan cara membeli barang-brangan di zona larangan.

Terlebih lagi gak ingin kejadian pas kita lagi enak-enak makan eh, ada satpol PP. Si Akang penjualnya lari tunggang-langgang. Meninggalkan kita dengan sendok dan seporsi makanan. Sudah mah ditinggalkan dengan tidak hormat, eh satpol PP siap menanti. Jangan sampai lah, di denda karena gak bisa baca.

1-minggu-1-cerita

Iklan

Tentang bioeti

If Love is chemistry so i must be the science freaks. Made from flesh and blood with angel and demon inside. An Animal Lover
Pos ini dipublikasikan di fenomena dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s