Kelompok Minoritas

Untuk kesekian kalinya saya dianjurkan untuk membawa kendaraan sendiri. Alasannya karena saya mobile. Tega banget menyetarakan saya  dengan gadget. Padahal kan cuma sedikit wara-wiri. Gak muter-muter seperti setrika juga.  Hanya sedikit kesana kemari.

Secara garis besar ada tiga alasan utama yang dijadikan alasan mengapa saya harus mau membawa kendaraan sendiri. Berikut ini adalah jawaban saya jika ditanya mengapa tidak bisa (mau) membawa kendaraan sendiri.

  1. Boros Waktu dan Uang

Tidak dipungkiri menggunakan angkutan umum memang menghabiskan waktu lebih banyak. Oleh sebab itu alasan menggunakan kendaraan roda dua (motor, karena kalau becak itu roda 3) menjadi legalisasi. Lebih hemat dan efisien. Pernyataan itu memang benar adanya. Sehingga menyebabkan serbuan kendaraan roda dua sangat mewabah.

Alasan saya gak mau ikut euforia untuk berani naik motor kemana saja bukan karena takut dimasukan ke dalam golongan emak-emak yang dikenal sebagai raja jalanan.

 

 

sumber foto dari sebaran di media sosial

Potongan berita yang tersebar dari grup setidaknya menambah wawasan saya tentang kepekaan motor matic.

matic.jpg

Kedahsyatan motor Matic. Sumber dari grup Wasap

Konon katanya begitu kedahsyatan motor matic. Mungkin suatu saat kecanggihannya akan bertambah lagi. Misalnya ada fitur auto pilot. Saya tidak perlu susah-susah mengendalikannya, bisa naik motor sambil nundutan.

Baiklah. Sebetulnya alasan saya kenapa tidak mau  menyetir baik itu roda dua, tiga, empat sampai delapan karena saya tidak bisa nundutan. nundutan secara terjemahan bebas adalah suatu kondisi dalam keadaan sadar dan tidak sadar. Nikmatnya luar biasa, apalagi jika ada semilir angin. Tetapi nundutan bisa membawa korban jiwa seperti dalam bait berikut ini :

‘Trang trang kolentrang … Si Londok paeh nundutan…”

Sebuah lagu rakyat yang membuktikan bahwa nundutan bisa merengut korban jiwa, dalam hal ini si Londok alias bunglon. Jadi intinya apabila menggunakan kendaraan umum lebih baik waspada daripada nundutan.

Selain soal nundutan, alasan lainnya waktu yang panjang lumayan bisa digunakan untuk membaca buku atau aktif memantau medsos. Tinggal diperkirakan saja lebih banyak membaca buku atau memantau medsos. Keduanya sama-sama dibaca 😀

Jpeg

Tebalnya 5 cm

Buku Dee Lestari terbaru, Inteligensi Embun Pagi tebalnya 5 cm. Jadi lumayan  dalam angkot tiap ngetem atau macet bisa nyicil 1 cm. Metoda baru membaca buku, bukan hitung halaman tapi ketebalan 😀 . Dicicil saja, karena kalau sudah membaca apalagi kalau bukunya bisa bikin tersesat buat berimaginasi suka lupa sama yang lain. Sudah janji soalnya #GakAkanCuekLagi.

Selain untuk membaca buku atau memantau media sosial, aktivitas yang bisa dilakukan di angkot adalah menikmati kota. Kalau saya sih, sudah tentu menikmati kota Bandung beserta isinya. Angkot sekarang sering kali menjalankan misi pariwisata terselubung. Berhenti beberapa saat (bisa sampai satu jam kalau lagi sial) di satu tempat. Misalnya perempatan, pas tingkungan atau tempat-tempat lain yang menurut dia strategis. Tak mengapa menimbulkan kemacetan yang penting bisa rehat dengan nikmat. Kata Pak Sopirnya, bukan kata saya lho…

Kalau dari segi ongkos, jawabannya saya biasanya cukup diplomatis saja, “selama rezekinya ada mah, kenapa tidak…”

Jangan pernah berpikir rezeki akan tertukar.  Seperti putri yang tertukar atau jodoh yang tertukar. Katanya itu juga siiih, saya gak tahu.

2. Tidak Mandiri

Jangan gegabah, gak bisa berkendaraan bukan berarti tidak mandiri. Justru mandiri dan terorganisir dengan baik, karena memperkirakan waktu tempuh dengan seksama. Lihat gadget kami, pasti dong ada aplikasi ojek online, nomor telpon taksi dan orang yang akan dimintai untuk antar jemput (keukeuh)

3. Tidak Kekinian

Berkendara dalam jarak dekat atau untuk tujuan geje sudah lumrah di negeri ini. Konsumtif dalam urusan bahan bakar minyak hanya gara-gara ingin beli bakso yang jaraknya hanya 100 langkah .

Bukan bermaksud anti mainstream, bukan saya tidak butuh berkendara, tentu saya sangat butuh untuk menunjang mobilitas. Tetapi melihat keganasan lalu lintas, serta trauma membuat saya minder untuk berhadapan dengan jalan raya sendirian sehingga lebih mempercayakan pada orang lain. Menjadi sopir itu menguras energi dan emosi.

Populasi orang-orang yang setia ngangkot, berkendara angkutan umum memang masih sedikit,  tidak banyak, dapat disebut kaum minortitas.

Tapi da aku mah apah atuh, buka pintu mobil saja dibukain.

1-minggu-1-cerita

 

 

Iklan

Tentang bioeti

If Love is chemistry so i must be the science freaks. Made from flesh and blood with angel and demon inside. An Animal Lover
Pos ini dipublikasikan di fenomena dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s