[Surat Cinta Untuk Kartini]: Sudut Pandang Anomali

Salah satu oleh-oleh di bulan April adalah mendapat kesempatan untuk menonton film Surat Cinta Untuk Kartini di Blitz Miko Mall Bandung bersama para pemeran beserta sutradaranya pada tanggal 30 April 2016 lalu.

meet and Great.jpg

Mengemas film sejarah dari sudut pandang yang berbeda. Itu kesan saya menonton film ini. Cerita ibu Kartini memang nyata tapi di film ini disampaikan secara fiksi.

Diawal film dibuka oleh seorang guru yang datang terpogoh-pogoh karena kesiangan. Biasanya sih murid yah, yang kesiangan. Isi tas Bu Guru berhamburan saking terburu-burunya. Kalau gurunya kesiangan muridnya? ……………… Tentu tidak!

Ooh, ada pesan heuseuss dibalik kejadian rurusuhan tadi rupanya.

Bu Guru yang berkebaya lengkap dalam rangka memperingati hari Kartini bersiap menceritakan perjuangan Kartini dihadapan muridnya. Apa daya murid-murid keburu bosan. Cerita tentang Kartini memang sudah pada tahu. Sekedar tahu tetapi tidak mengerti esensinya. Bagaimana agar pesan ini sampai kepada murid-muridnya? kepada penontonnya? Itu yang menjadi tantangan dari film ini.

Dalam film ini sosok Ibu Kartini yang inspirastif diceritakan ulang dari sisi Pak Pos yang mengantar surat-surat bagi beliau.

Pemikiran Kartini adalah lompatan, begitu juga Pak Pos yang diperankan oleh Chicco Jerikho. Meski namanya tolong menolong lazimya nama-nama urang Sunda. Seperti nama Ian Damian, Chicco Jerikho sama sekali bukan  urang Sunda.

Tak kalah dengan Ibu Kartini yang memiliki pemikiran selangkah lebih maju pada jamannya, Pak Pos yang bernama Sawardi ini pun memiliki pemikiran anomali. Bahkan bagi lelaki yang hidup di zaman sekarang. Puluhan tahun dari era Kartini. Pemikiran Sawardi sangat tidak biasa.

Sawardi, tukang pos yang ditinggalkan istri dan harus membesarkan anak perempuan seorang diri. Sahabatnya menganjurkan agar Sawardi untuk segera mencari pengganti ibu bagi anak semata wayangnya, Ningrum. Anjuran sahabatnya itu tidak terlalu diindahkan oleh Sawardi. Rupanya dia menganggumi sosok perempuan yang kerap kali menerima surat yang diantarkannya. Meskipun surat itu diterima oleh si Mbok, seorang abdi dalem di lingkungan tempat Kartini berada.

Pemikiran Kartini menginspirasi Sawardi agar Ningrum pun bisa seperti Kartini. Bisa membaca dan menulis, sayangnya kedua keahlian itu bagi perempuan belum bisa dipakai untuk mengemukakan pendapat pada saat itu. Sawardi ingin anak gadisnya well educated. Karena melalui Kartini dia tahu pendidikan pertama yang diperoleh anak adalah dari Ibu. Seorang perempuan harus mempunyai pengetahuan agar bisa menjadikan manusia baru sebagai pribadi yang bermanfaat bagi lingkungannya.

Baik Kartini maupun Sawardi adalah lompatan. Pemikirannya dianggap tidak lazim pada masanya. Sawardi mewakili tokoh laki-laki bukan kebanyakan (bukan berarti memiliki kelainan) yang dimana kebanyakan laki-laki itu jangankan sudah ditinggalkan oleh istri, masih beristri pun masih mencari istri baru. Hal ini diwakili oleh Bupati yang meminang Kartini sebagai istri ke-3.

Laki-laki seperti Sawardi sangat sedikit populasinya. Bahkan di zaman sekarang di mana perempuan dan laki-laki sudah setara. Di zaman Suwardi hidup tentunya akan menjadi pro dan kontra tersendiri. Pemikiran Sawardi dianggap aneh, sebagai seorang laki-laki. Apakah pemikiran Sawardi sekarang juga masih tidak lazim? (duuuh entah yaaa, poligami masih merajalele kok..)

Dalam film ini mungkin untuk menghemat ongkos produksi. Kabarnya yang lokasi syuting dilakukan di Yogya. Setting tempat  agak mononton, jalanan yang sama. Ruangan yang sama, sisi sungai yang sama.  Tetapi, terobati oleh senja yang tampil memukau.

Dibutuhkan keberanian untuk mengangkat tema seperti ini menjadi sebuah film. Surat Cinta untuk Kartini bukan film pertama yang mengangkat tema Perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan. Jadi sangat mengapresiasi kepada para kreator Film Surat Cinta untuk Kartini, karena telah memberikan tontonan yang baik dan jadi alternatif belajar sejarah dari sisi lain. Jika mencerdaskan kehidupan bangsa adalah suatu kata-kata yang terlalu muluk dan idealis, setidaknya memberikan tontonan yang tidak membodohi penontonnya.

Sekian.

 

 

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Blogger Bandung dan tag , , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke [Surat Cinta Untuk Kartini]: Sudut Pandang Anomali

  1. celina2609 berkata:

    wah…seneng banget ada yang nulis tentang film ini. film ini benar-benar membuka mata saya bahwa Ibu Kartini memang seorang wanita luar biasa dengan pemikirannya yang luar biasa. memang layak beliau disebut sebagai : Putri sejati; Putri yang mulia. gara2 film ini juga saya jadi pengen tahu banyak tentang beliau.. dan mengenai Sawardi? saya jadi jatuh cinta sama Chicco gara2 si Sawardi ini.. betul2 pria anti mainstream…

  2. Koko Nata berkata:

    Dibutuhkan minat yang tinggi terhadap kehidupan Kartini untuk bisa menikmati film ini ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s