Tatib

Mungkin saya kurang gencar dalam mencari informasi sejak kapan setiap Senin dilaksanakan upacara bendera di sekolah. Dari enam bersaudara, empat orang di keluarga kami adalah anggota Paskibraka. Kakak dan adik saya adalah Paskibraka. Dan semuanya tidak memberikan jawaban pasti ketika saya tanya, “sejak kapan kita melaksanakan upacara di hari Senin?” Alasan saya tidak terbawa sakaba-kaba oleh mereka. Jadi anggota Paskibraka karena memang saya tidak suka dengan kegiatan yang berbau kemiliteran. Baris-berbaris dan sebagainya. Saya terlahir sebagai orang sipil yang bebas merdeka.

upacara

sumber foto viral di internet

Selama seminggu ini pencarian saya bisa dikatakan nihil. Selalu berujung pada tatib alias tata tertib pelaksanaan upacara itu sendiri yang diatur dalam Instruksi Presiden No. 14 tahun 1981.

Ada aturan khusus mengenai pelaksanaan upacara ini. Mulai dari cara hingga perangkat upacara itu sendiri . Untuk lengkapnya silahkan untuk googling sendiri.

Seperti kebanyakan orang, saya pun malas mengikuti upacara bendera. Apalagi jika setelah upacara di jam pelajaran pertama ada kuis, tes dan semacamnya. Lebih sial lagi jika di malam Senin itu, saya nonton pertandingan sepak bola. Lalu bangun kesiangan, datang ke sekolah terburu-buru. Menyelundupkan diri dalam barisan dengan memakai atribut tak lengkap. Itu mah, sudah lah jadi sasaran empuk untuk di-poé.  Hukumannya bisa bertingkat karena pelanggaran berlapis.

Setelah musim upacara berlalu dari kehidupan saya, baru saya menyadari jejak upacara dalam kehidupan saya. Upacara setiap Senin itu ternyata tidak merugikan juga. Tidak seperti yang pernah saya pikirkan dulu ketika sedang mengalaminya.  Ada manfaatnya. Saya memang tidak menyukai upacara tapi sejauh itu bolos upacara dengan sengaja tidak pernah saya lakukan.

Tidak mengiikuti upacara mungkin tidak akan mengurangi kadar nasionalisme pada diri seseorang. Nasionalisme bisa diuji. Contohnya, ketika Batik dan Reog Ponorogo di-klaim Negara tetangga, seluruh bangsa ini berusaha mempertahankannya. Sisi positif pengcaplokan itu adalah, membuktikan bahwa bangsa ini masih memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.

Bagi saya yang terbiasa bebas merdeka, upacara memberikan pelajaran tentang disiplin dan menghormati pada peraturan. Saya memang pernah dihukum berkat ketidaklengkapan atribut. Ke sekolah memakai seragam SMK  lain, Hal itu terjadi karena adik saya (laki-laki) bersekolah di SMK juga, ketika hari Senin tiba entah mengapa saya memakai bajunya.

Kalau saya berpikir ala om-om pengacara yang ada di TV, saya bisa saja ngeles dari hukuman. Toh,  dasi,  topi, Bet OSIS, ikat pinggang dan lokasi lengkap. Tapi tulisan lokasinya itu yaaa… lain sekolah. Padahal kan tidak diatur juga harus menggunakan lokasi sekolah yang dimaksud. Yang ada sih, cuma atribut kelengkapan. Dasi, topi dan lokasi. Terus kalau berdebat-debat terus padahal memang saya salah, untuk apa juga.

Disamping saya ada juga yang dihukum gara-gara ketinggalan dasi. Hanya karena dasi seuprit, harus di-poé. Tapi coba kalau tidak begitu, mungkin tidak ada kenangan yang mengingatkan.

Kalau sekarang saya pikir lagi, hal kecil saja sudah saya abaikan apalagi hal yang besar. Atribut itu memang benda, bukan bermaksud untuk mengagungkan atau menyembah benda tersebut. Melainkan belajar untuk bertanggung jawab.

Merapatkan barisan dan antri. Kalau sekarang banyak yang tidak bisa baris dan mengantri, tidak mengherankan. Wajar saja. Mungkin salah satu faktornya tidak dilatih. Kan practise makes perfect.

Memimpin dan dipimpin. Sesekali saya pernah memimpin barisan dan sering kali saya dipimpin. Ketika harus menjadi pemimpin ada rasa bangga ketika peserta menurut apa yang kita katakan. Dan ketika saya menjadi peserta saya menjadi peserta yang manut karena merasakan pernah menjadi pemimpin. Di mana rasanya nyesek ketika kita berteriak lantang pas saat jadi pemimpin.Eh, persertanya malah keasyikan ngobrol.

Sang pembina upacara.

“Oh, sekarang pembina upacaranya Pak H, guru geografi yang killer. Kalau tidak bisa menunjukan nama gunung. Mampus deh, disuruh bersihkan kamar mandi”. Menjadi orang yang bisa menginspirasi mungkin belum terpikirkan. Yang ada label killer atau membosankan. Sehingga ketika memberikan wejangan, pikiran kita pun ikut melayang kemana-mana.

Jujur saja wejangan pembina upacara tidak ada sedikit pun yang membekas. Entah letak salahnya dimana. Apakah di pembina upacaranya yang kurang menginspirasi atau di pihak sayanya yang sengaja mengabaikan.

Bagi Pak Wali Kota Bandung  jadi pembina upacara ini tidak disia-siakan. Pak Wali kota setiap Senin menjadi pembina upacara dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Tujuannya sih, katanya untuk menginspirasi siswa. Tapi mungkin sekalian sidak. Hehehe… Gak tau juga.

Mungkin untuk anak-anak sekolah sekarang, dengan adanya faktor Pak Wali yang suka road show upacara bisa meningkatkan semangat untuk upacara di hari Senin. Karena pasti nanti para peserta berlomba-lomba selfie sama beliau buat riya di medsos masing-masing.

Upacara bagi Pak Wali bisa dijadikan ajang untuk berbagi tetapi bagi saya, kegiatan upacara menjadikan saya lebih tertib. Lebih disiplin soal waktu dan belajar menjadi seoorang pemimpin. Meskipun saya tidak pernah ikut eksul berbau militer tapi saya pernah belajar cara baris juga 😉

Iklan

Tentang bioeti

If Love is chemistry so i must be the science freaks. Made from flesh and blood with angel and demon inside. An Animal Lover
Pos ini dipublikasikan di #1minggu1cerita, Me. Tandai permalink.

6 Balasan ke Tatib

  1. Tatat berkata:

    Wow..baru tau kalo Pak Wali sekarang suka jadi pembina upacara di sekolah2. Nah kalo begini wejangannya mungkin jadi lebih menarik ya.. Saya juga ga inget sama sekali blas apa yg pernah diomongin pembina upacara jaman dulu..haha

  2. ummiroyyan berkata:

    iya betul juga ya..jadi kepikiran..ucapan pembina itu senagian besar tidak ada yang berkesan…
    tapi ada satu guru pembina upacara yang ceritanya saya ingat sampai dewasa…yaitu waktu saya TK.. ya di TK saya ada juga tu upacara.. pembinanya cerita soal kisah anak yang suka berbohong tea.. lalu akhirnya kena batunya. . kayak yg didramain di film Ipin Upin….
    kesimpulan: kalau mau jadi oemvina upacara yg kata2nya berkesan..berceritalah kisah2 yang menarik..dan jgn panjang 2 apalagi kalo panas

  3. mia berkata:

    Lagi pembina ngomong pas amanat berharap mic mati biar cepet beres amanatnya hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s