Ini teh Gehu

Bagi warga Bandung atau orang yang pernah menyambangi Bandung makanan ini pasti moal bireuk deui. Satu gank dengan bala-bala, pisang goreng dan combro. Gehu sendiri merupakan kependekan dari toGe dan taHu. Banyak penamaan makanan di Bandung merupakan akronim dari bahan bakunya itu sendiri. Gehu alias toge tahu sebagian (kecil) ada yang menyebutnya tahu isi.

Budaya K-POP sedikit berpengaruh pada perkembangan Gehu. Beredar luas di Bandung gehu dengan tingkat kepedasan yang bisa di-request. Umumnya disebut gehu pedas atau ada juga yang melabeli dengan gehu setan. Tingkat pedas yang mungkin bisa menjadikan manusia jadi kesetanan.

Tahu yang digunakan adalah tahu masak (sejenis tahu Sumedang) berwarna kecoklatan dan berisi campuran bihun, wortel, cacahan kol dan amunisi yang membuat lidah terbakar. Menurut saya yang kurang suka dengan makan pedas. Jadi curiga di dalamnya berisi campuran semut rangrang dan balsem selain rawit dan cabe. ūüėÄ

Gehu Pedas

Penampakan Gehu Pedas di Caringin

Malah di beberapa tempat saya menemukan dengan terang-terangan isinya sambel. Sambel pemirsaaahh… itu kan sudah penipuan publik sih sebetulnya. Meski begitu orang sudah kadung, tetap menyebutnya gehu (pedas), meski tanpa toge juga.

Saya kangen juga sih, dengan gehu yang dulu dengan tahu kuning dan isian toge. Rasa asin dan gurih. Kalau mau pedas tinggal mengambil cèngèk alias cabe rawit. Tapi Kebudayaan dan kebiasaan baru sudah sedikit menyingkirkan gehu jenis klasik ini.

Keberadaan gehu original, sekarang memang agak sedikit sulit dicari. Kebanyakan sih, para penjual gorengan sekarang beralih menjual gehu pedas ini. Mungkin penyebabnya karena sekarang orang cenderung suka makanan pedas (soalnya kalau makanan yang manis-manis takut diabetes). Ya, hukum supply and demand memang sangaad kuasa. Kata kolot baheula mah ini bisa dipakai sebagai totondèn. Asupan pedas yang jor-jor an ini bisa mengindikasikan bahwa suasana sedang panas.  Gak di mana. Gak Di mana semua jadi sering bertengkar. Sedikit-sedikit naik pitam. Sedikit-sedikit langsung menggelar demo. Semua pengen mengobarkan peperangan.

Eh, ini jadi  ngomongin apa yah?

Tak perlu dipermasalahkan mengapa pendatang baru yang tanpa toge tetap menyandang nama gehu. Ah, biarkan saja. Begitu pun sebagai pendatang baru, tidak usah memojokan kaum gehu lama. Bersatu dalam gehu. Walaupun berbeda tetapi tetap sama. Sama-sama Gehu. Sama-sama enak. Sama-sama memuaskan perut-perut orang lapar. Sama-sama diburu oleh para pencinta kuliner. Tidak usah jadi penyebab peperangan karena isinya berbeda.

Berhubung gehu yang klasik belum nemu, jadi saya pakai gehu yang kekinian dulu. Nanti kalau sudah nemu. Fotonya direvisi kembali.

moal bireuk : Tidak ada yang tidak tahu | Semua pasti sudah mengenalnya |Populer

Totondèn : pertanda

Kolot baheula : Para sepuh yang hidup di jaman dahulu

 

 

 

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di #1minggu1cerita, fenomena, Kuliner dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s