Romantisme Gundah Tanah Leluhur

Hingga detik ini kehidupan saya tidak pernah beranjak dari Bandung. Saya lahir, bersekolah, besar, patah hati, jatuh cinta dan semua fase kehidupan lainnya saya lalui di Bandung.

Fanatik?

Pencinta Bandung Militan?

Bukan juga sih ­čśÇ

Pernah sekali dua, saya mencoba peruntungan mencari rezeki di kota lain. Tentu tawarannya menggiurkan. Saya lupa lagi, sebab apa saya akhirnya memutuskan terus di Bandung. Dan menolak tawaran dari luar kota Bandung. Kalau sekarang justru saya saya agak malas jauh dari Bandung. Mungkin lidahnya sudah terstandarisasi makanan sini. Kalau keluar dari Bandung, itu Bala-bala dan Batagor kok, lain rasanya. Cuanki juga gak ada. Wah, nestapa pisan.

Meski seluruh aktivitas dari lahir hingga sekarang konsisten di Bandung. Tetap saja saya masih dianggap Orang Bandung KW. Ibu saya berasal dari Ciamis. Dengan begitu saya boleh lah menyandang gelar Indo Perancis. Peranakan Ciamis. Berhubung kampung Ibu lebih dekat dengan Kota Administratif Banjar, ongkos angkutan ke sana lebih sering dikenakan biaya ke Banjar. Bahkan untuk berbelanja lebih sering ke pasar Banjar. Kerabat saya yang lain biasanya lebih suka bilangnya mudik ke Banjar.

Sedangkan Bapak berasal dari Banjaran. Jalan menuju ke Banjaran lebih crowded. Padahal jaraknya hanya 18 km dari Bandung (Bandung – Ciamis 124 km). Tetapi waktu tempuhnya tidak jauh beda. Kedua akses menuju Banjaran, baik itu melalui Soreang maupun Bale endah sering diterpa banjir.

Saya menyebut kedua kota tersebut sebagai tanah leluhur. Tempat lelulur saya berasal. Bandung, tanah leluhur dan tempat lainnya yang mungkin suatu saat akan saya singgahi adalah kampung halaman yang membuat saya tumbuh (tumbuh itu ke atas, kalau ke samping itu melar. I know laaaah).

Dulu, Setiap kali ada kesempatan berlibur pasti orang tua akan meng-eksport ke Ciamis atau ke Banjaran. Meskipun tidak full selama liburan. Pokoknya ada beberapa hari kita lewatkan di sana. Bertemu sepupu atau kerabat. Melakukan aksi teaterikal. Dan membawa aliran sesat buat anak tetangga di sana.

Tanah leluhur itu penuh romantisme. Di sana yang saya rasakan hanya bersenang-senang. Tentu saja karena tujuan saya kesana untuk berlibur. Melepaskan penat. Menjauh dari rutinitas.

Hamparan sawah yang hijau perlahan menguning di kaki bukit. ┬áMemancing di kali, tidak kalah seru dengan program TV ÔÇťMancing ManiaÔÇŁ. Sambil memancing sesekali ikut sepupu yang lain arung jeram. Coba kalau saya ikut sebuah tour berapa rupiah membayar kesenangan itu semua. Kadang┬ásekedar selfie dengan hewan-hewan peliharaan, kalau di Bandung aktivitas seperti itu kena charge. Dan┬á kegiatan yang paling standar adalah botram, alias makan di alam bebas bersama-sama. Konsep ini sudah banyak diadaptasi untuk dikomersilkan. Kalau di kampung mah, Bebasss lah.

Damai.

Jpeg

Sawah di Bantar Muncang

Dibalik semua romantisme itu, ternyata menyimpan kegundahan. Seperti kakak sepupu yang bertahan menjadi petani di Ciamis. Banyak sawah yang harus dia kelola. karena semakin banyak yang sudah tidak mau dan menyerahkan pada orang-orang seperti kakak sepupu. Jumlahnya menurun dengan drastis. Jadi kalau musim panen tiba dia kelimpungan sendiri. Rata-rata usia para buruh tani ini┬ádiatas 45 tahun. Karena generasi mudanya didorong untuk ke kota. Jadi petani itu uangnya susah. Lamaaaaa… mesti nunggu masa panen. Belum lagi kalau kena hama. Mending ke kota. Begitu sih, sehingga hanya tenaga-tenaga menjelang lansia yang tersisa┬ádi kampung.

Kakak sepupu pernah mengungkapkan kegusaran ini. Apa perlu saya ekspor gerombolan anak-anak yang suka ngamen di perempatan? Daripada luntang-lantung tidak karuan mending bantuin panen. Usul saya waktu itu hanya┬ádijawab, “aduuuuh”.

img00093-20140801-0906

Masih segar bugar moe pare padahal sudah lansia

Apalagi ketika ada serbuan para penjaring Calon TKW. Banyak kaum perempuan yang tergiur kemudahan mencari uang  dengan mengadu di negeri sebrang. Makin berkurang saja yang mau turun ke sawah. Padahal ada era di mana, kaum perempuan pegang kendali ketika panen tiba.

Dan yang terjadi malah masalah bukan uang. Ketika suami yang ditinggalkan merongrong sang istri yang tengah berjuang di sana agar dibelikan motor dengan dalih agar bisa berpenghasilan.  Jadi sopir ojek. Soalnya kalau mengandalkan jadi buruh sedang sepi orderan. Lalu masalah  dimulai ketika sang supir ojek bermain dengan salah satu nasabahnya karena terlalu lama ditinggal istri. Hamil diluar nikah. Mirip lagu dangdut gitu lah, jadinya. Perceraian. Anak-anak terlantar. Wah, jadi pusing pala berbie.

Kegundahan serupa juga terasa di kampung Bapak. Sawah-sawah mulai dijadikan perumahan. Sebagian lagi menjadi objek wisata (biasanya sejenis waterboom). Penduduk yang dulu memiliki tanah berubah menjadi tenaga kerja di tempat wisata. Paling umum adalah menjadi penjaga keamanan kompleks perumahan.

Jpeg

Nun jauh di ujung, ada water boom baru. Kalau di sebelah sini water boom tradisional alias empang

Kemacetan saat akhir pekan. Sampah. Pencemaran. Jadi kalau sering banjir, kekeringan ketika kemarau, sudah uyuhan juga sih.

Pabrik lama terbengkalai. Masih ada bangunannya dibiarkan saja, tapi ada pembangunan pabrik baru. Katanya sih, pindahan dari kota. Karena UMK disana tinggi jadi pindah ke pasisian, yang UMK-nya masih rendah. Para pekerjanya sebagian kena PHK, tapi ada yang bilang karena sebagian besar buruh pabrik berasal dari sana jadi kan gak usah jauh-jauh. Gak merantau. Gak perlu bayar kontrakan. Iya gitu??

Jpeg

Sampah elektronik yang sudah ada dalam lapisan tanah.

Agak-agak rumit sih, kalau mikirin itu mah. Karena toh, maunya piknik aja kalau ke sana. Tapi lebih mumet juga pas pulang ditanyain kapan nikah?

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di #1minggu1cerita, Familie dan tag , , , , . Tandai permalink.

16 Balasan ke Romantisme Gundah Tanah Leluhur

  1. Mia berkata:

    Jadi kangen bdg ­čśü

    Mau ng like tpi harus login ya….

  2. Tatat berkata:

    Sediih bacanya…gimana orang mau jadi petani kalo hidup petani susah kayak gtu :(. Heran orang belum nyadar juga kalo duit ga bisa dimakan. Huh!
    Btw, tulisannya baguuus… suka deh ­čÖé

    • bioeti berkata:

      Terima kasih Teteh…
      Iya, ini teh sebetulnya Peer ketika ditanya tentang regenerasi ke sawah.Masalahnya banyak yang mikir lebih keren jadi ojekers daripada bawa2 cangkul.

  3. phadliharahap berkata:

    dibanyak studi penelitian anak muda enggan berkerja di lahan pertanian. orang tua sajalah yang berkerja. salam

  4. novyaekawati berkata:

    Kondisi realistis di daerah ya mbak…mungkin generasi muda mikirnya kl di sawah dpt hasilnya lama..minimal 3 atau 4 bulan kalo lancar baru bisa dapat uang

  5. dewi Nielsen berkata:

    Kasihan liat petani-petani ya..belum lagi kalau cuaca buruk, jadinya panennya tertunda..harga pupuk yang mahal, Ah kasihan..

  6. prananingrum berkata:

    jadi pingin jalan2 ke sawah nih mbak…sekarang jarang banget lihat sawah ditempatku. di bandung masih byk y

  7. saribainbridge berkata:

    Aku selalu Bandung, tapi ini sisi lain lagi yang aku baca dari Bandung.. kasian petani disana ­čśŽ

  8. Efi Fitriyyah berkata:

    Aku pun termasuk yang baper sama Bandung jadi weh betah siga kuncen hahaha… ke luar kota mah buat melancong aja lah ­čÖé Tapi suka seneng kalau pas jalan ke luar kota itu masih bisa lihat hamparan sawah. Huaaa adem deh. Kan ga kayak di Bandung, sepet. Masih mending sekarang sih, karena banyak taman. Parafgraf terakhirmu itu Yen, i feel you pisan. Pertanyaan yang nyebelin meski mestinya anggap aja sebagai doa ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s