Darurat Membaca

Ketika Gramedia membuka sale ‘edan-edanan’ di beberapa kota akhir tahun kemarin, saya sempat tercengang dengan antusias masyarakat menyambut obral buku di gudang Gramedia. Mengingat katanya, minat baca orang Indonesia di dunia berada pada posisi kedua dari urutan paling buncit. Di mana tujuan diadakan sale besar-besaran ini untuk menyelamatkan daripada dimusnakan lalu dijadikan tissue. Itu kata teman saya yang mengirim brosur sale via whatsapp.

Di Bandung sale ini digelar di jalan Caringin sekitar bulan Oktober 2016. Lalu di-extend sampai pertengahan November atas permintaan peminat. Setiap hari, tanpa libur dari jam 8 hingga jam 4 sore.

Sebelum memasuki gudang, kami diberi tiket yang akan ditukarkan dengan kalung dengan warna tertentu. Hanya ada dua warna, biru dan merah. Setiap kelompok berjumlah seratus orang dan diberi waktu 1 jam untuk mencari buku yang disukai. Kalung itu berfungsi sebagai penanda kelompok mana yang diperbolehkan mencari buku.

Saya antri dari jam 9 pagi kebagian masuk jam 1 siang. Untung rumah saya berada di sekitar sana, jadi sambil menunggu bisa pulang dulu. Imbasnya dari sale ini omset pedagang sekitar gudang Gramedia ikutan naik. Belum lagi pedagang dadakan yang menyambut para peminat dari jauh. Penduduk sekitar jeli membaca situasi. Tuh, kan berkat bisa membaca mereka mendapatkan keuntungan.

Jika dalam 1 hari terbagi dalam 8 kelompok berarti ada 800 orang sedikitnya yang berkunjung kesana. Untuk anak yang berseragam mereka bebas masuk tanpa harus membawa tiket. Setiap pengunjung jarang yang membeli satu buku. Keponakan saya dalam seminggu hampir dua kali kesana, dan setiap kunjungan dia membeli lebih dari tiga buku. Bersama teman-temannya memakai seragam putih biru. Jadi mereka bebas tanpa harus ngantri tiket.

Pembeli dengan jumlah kardus besar juga banyak. Sepintas secara kasar saya meragukan kalau minat baca orang Indonesia itu berada di posisi rendah. Jika melihat euforia menyambut pesta diskon buku ini. Apalagi respon di semua kota hampir sama. Tumpang ruah pengunjung.

Tetapi kenyataan kalau minta baca orang Indonesia itu memang rendah cukup mudah dibuktikan. Bukan masalah tentang penyebaran Hoax atau berita bohong yang boombastis. Saya yakin yang menyebarkan selain (jajauheun laaah) mengecek kebenaran berita yang disebarkannya. Dibaca saja tidak. Mungkin dia hanya membaca judulnya yang sering kali diawali dengan kalimat perintah “SEBARKAN!!” atau “VIRALKAN”. Otaknya serasa dihipnotis untuk menyebarkan.

Kalau saya pribadi sih, kalau ada judul diawali dengan kata tadi  atau mengandung dua kata tadi, mengindikasikan kalau si penulis kurang PD dan tahu tulisannya kurang bermanfaat sehingga minta tolong agar dibuat viral.

Mungkin acara sale Gramedia di berbagai kota bisa sukses karena kata diskon. Apapun dagangannya asal diskon pasti dilirik. Hmm… apa ini gara-gara minat baca rendah juga? Emak-emak modis. Modal diskon.

Kok rewel sekali ya, orang membuat rangking mengenai minat baca. Belum lagi banyak anjuran agar lebih giat membaca.

Karena membaca itu vital, selain penyebaran Hoax, kakang Prabu tidak peka itu juga akibat dari kurang minat baca. Membaca hatiku. 😀

Berikut ini adalah gambar-gambar bahaya dari minat baca rendah

kotak-saran

Salah sasaran. Kotak Saran alih Fungsi jadi kotak amal. Sumber foto : Sebaran Media Sosial

Masih untung kotak saran tertukar jadi kotak amal, bukan sebaliknya. Kalau itu terjadi bisa timbul angkara murka.

1487431943308

Versi Pengumuman dengan format Eufemisme. Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi

Tertib Buang sampah

Tulisan tangan yang bisa dibaca karakter penulisnya seperti apa. Sumber foto : Dokumentasi pribadi

Dari dua jenis pengumuman tadi apakah orang-orang akan mengerti bahwa mereka tidak boleh membuang sampah sembarangan?

Tertib Buang Sampah

Dihantui. Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi

Jawabannya tetap tidak, sampah tetap berserakan.

Redaksi peringatan agar membuang sampah  berbagai versi dari kasar sampai halus. Dari yang melibatkan Fauna hingga makhluk kasat mata. Tetap saja tidak sampai pada maksudnya.

Buku-buku mungkin malas karena harus membaca berlembar-lembar. Bawaanya jadi ngantuk. Masih membuang sampah sembarangan karena  anjuran-anjuran untuk tertib membuang sampah lebih dari satu kalimat. Masih malas. Tapi bagaimana lagi  Lha, yang satu huruf pun juga bernasib sama.

youtube

sumber foto : Youtube

Iklan

Tentang bioeti

If Love is chemistry so i must be the science freaks. Made from flesh and blood with angel and demon inside. An Animal Lover
Pos ini dipublikasikan di #1minggu1cerita dan tag , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Darurat Membaca

  1. Tatat berkata:

    Walopun sale gramedia di mana-mana rame pengunjung, (mungkin) bukunya belum tentu dibaca. Saya juga suka laper mata pengen beli, pdhl di rumah banyak buku blom dibaca 🙋

    Itu yg kotak saran jadi kotak amal uangnya diapain atuh? Haha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s