Déjà vu Penanda Waktu

Sering kali penanda waktu tidak melulu dipandu oleh putaran jarum jam. Orang-orang yang setiap saat bertemu, bersinggungan, berpapasan menjadi penunjuk waktu bagi saya tanpa harus melihat jam.

Tanpa disadari, hampir setiap hari pemandangan yang saya temui terlihat berjalan dengan konstan. Serasa mengalami déjà vu. Pengulangan peristiwa. Entah itu terjadi dalam mimpi lalu menjadi nyata sehingga saya serasa pernah mengalami. Atau memang peristiwa itu berulang kembali.

Setelah menutup pintu pagar, bersiap menunaikan tugas negara. Sebagai warga negara yang baik dan benar 😉 . Ada beberapa yang sedikit histeris begitu melihat saya. Karena bagi mereka saya adalah penanda waktu. Seorang ibu yang mendadak histeris karena bagi dia, penampakan saya bisa mengartikan anaknya akan terlambat ke sekolah.

Hukum ini juga berlaku pada saya. Saya memakai penanda dari aktivitas orang-orang. Misalnya jika saya berpapasan dengan Ibu A (sebut wéh kitunya) yang pulang membeli sayuran satu becak penuh di belokan. Berarti saya tidak akan kesiangan. Jika saya bertemu dengan Bapak L yang bekerja di Departemen kehakiman saya juga masih dalam batas aman. Tidak akan kesiangan ke tempat kerja. Tapi kalau bertemu dengan Bapak D yang menggunakan serangam putih dengan strip pink di setiap ujung bajunya. Apalagi sebelum belokan dari arah saya. Itu tandanya saya nyaris kesiangan.

Jika saya pergi kepagian maka saya akan bertemu dengan Pak Haji. Bapak ini pernah menjadi TKI di negri Raja Salman. Pekerjaannya menjadi supir pribadi. Setelah hampir satu dekade mengadu nasib di sana, Pak Haji memutuskan untuk pulang. Uang tabungan beserta pesangon (Pak Haji termasuk yang beruntung mendapat majikan yang baik hati dan tidak pelit),  dia investkan untuk membeli kios di pasar dan beberapa angkot.

Pagi-pagi dia akan inspeksi kios-kiosnya. Biasanya ketika inspek Pak Haji ditemani oleh istrinya.

Selain Pak Haji, ada Bapak R yang mengantar rombongan karyawan. Setiap Pagi angkotnya sudah di-carter oleh mereka. Katanya dari Katapang dan mereka buruh di Kompleks industri Kopo Mas.

Baik Pak Haji maupun Bapak R, setiap melihat saya di jalan, mereka langsung menawari saya ikut. Perkenalan saya dengan mereka karena peristiwa berulang itu. Mereka sering melihat saya di pagi hari. Menunggu angkot menuju terminal Leuwi Panjang. Setelah perkenalan singkat, akhirnya umur pertemanan saya dengan mereka melebihi masa periode jabatan Presiden di Republik ini.

Oh ya, saya termasuk golongan pejalan kaki. Anggota kelompok yang makan bubur ayam di mana kerupuknya dicampur aduk beserta buburnya. Eh, gak ada hubungannya ya 😀

ekonomi

Membahas masalah ekonomi yang mengancam stabilitas NKRI dari dalam angkot

Banyak hal yang saya temukan dalam perjalanan menuju tempat kerja. Mahmud yang berjuang keras menertibkan balita. Mamang sayur sebagai pemenuhan kebutuhan logistik dan sebagai pengedar gosip lokal. Lansia yang sedang berjemur. Para kakek-kakek penunggu kotak amal.

“Neng, naha gentos deui?” 

Salah satu komentar mereka yang pernah membuat Kakang Prabu agak gundah gulana. Dan setelah dijelaskan panjang dan lebar, akhirnya Kakang Prabu…. ah,syudahlaaah.

Jika saya sakit atau ada keperluan sehingga kami tidak bertemu di pagi hari.  Esoknya mereka akan bertanya kabar.  Begitu pun sebaliknya. Saya akan bertanya-tanya mengapa jika salah satu dari mereka tidak ada dalam sistem.

Rutin?

Memang.

Hal rutin yang sering saya istilahkan sebagai déjà vu. Sebagian besar orang membenci rutinitas.  Mereka terang-terangan mengatakan anti rutinitas. Karena akan menimbulkan kebosanan.

Menurut saya sih, rutinitas tidak membosankan juga. Karena  berkat rutinitas saya menemukan kenalan baru.

Bukankah banyak kenalan banyak rezeki?

 

 

 

Iklan

Tentang bioeti

If Love is chemistry so i must be the science freaks. Made from flesh and blood with angel and demon inside. An Animal Lover
Pos ini dipublikasikan di #1minggu1cerita, fenomena dan tag , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Déjà vu Penanda Waktu

  1. Ani berkata:

    Enak dibaca, mengalir.

  2. Chika berkata:

    Masalahnya aku rutinitasnya di dalam rumah. Jd kadang deja vu itu kurang menarik…

  3. Ping balik: Tulisan Terfavorit Minggu #6 : Goodbye, Mojok – 1minggu1cerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s