Do’a

Terkadang saya suka takut salah membaca list nama-nama teman-teman Nyi Iteung, keponakan saya yang sekarang beranjak Abeugeuh. Takut salah menyebut. Banyak ejaan dan huruf di mana saya sebagai orang Sunda agak sulit melafalkan.

Tetapi saya tidak sendirian. Ternyata si empunya nama kesulitan dengan  nama mereka sendiri. Saya ingat, ketika Iteung masuk Sekolah Dasar, semua murid baru dipanggil namanya dengan lengkap. Hanya sedikit yang mengetahui nama mereka dengan pasti. Begitu pun ketika mereka diminta menyebutkan namanya dengan lengkap.

Rata-rata nama mereka terdiri minimal empat kata. Dengan penulisan yang agak-agak sulit. Jadi kalau empunya agak kesulitan melafalkan, wajar sih menurut saya mah.

Ada beberapa orang tua yang memberi nama terpengaruhi oleh nama selebritis atau tokoh sinetron. Dulu sempat booming nama Billa, Dilla dan Nadia. Bisa dimasukan sebagai nama pasaran alias banyak digunakan. Atau mengambil serapan dari bahasa asing. Sekarang nama-nama bayi yang baru lahir lebih variatif. Seru sekali ketika ada seseorang hunting nama. Malah saya pernah bertemu dengan konsultan spesial mencari nama baik.

Mau panjang, mau pendek. Mau nulisnya susah atau ditulis sesuai bacaannya. Mau membawa nama panutannya. Tidak ada larangan, karena dalam nama terselip do’a dan harapan. Ada orang tua yang mempersiapkan nama anaknya jauh-jauh hari. Karena harapan dan do’a mereka sematkan dalam nama.

Orang tua dulu, memberikan nama dihitung agar tidak menjadi beban bagi anaknya kelak. Jangan sampai nama yang berbau religius dengan arti yang sebagus-bagusnya do’a malah disalah gunakan. Misalnya anaknya kemudian menjadi seorang koruptor, seorang bandar narkoba. Sayang banget kan…

Kadang yang bikin rungsing itu, nama sebagus-bagus yang diberikan oleh orang tua kita berubah begitu saja karena pergaulan (lingkungan pertemanan).

Misalnya saja teman saya yang bernama Puspita yang di rumahnya dipanggil Neng Puspa, berubah menjadi Empuss alias Puss. Ya, mirip panggilan kucing gitu laah.

Ada juga yang bernama Grace, tiba-tiba dipanggil Rahmat. Alasannya dalam Bahasa Indonesia Grace berarti Rahmat. Sampai Mami-nya Grace agak-agak ngahuleng ketika tahu anaknya di luar rumah dipanggil Rahmat.

Karena lesung pipit yang dalam bahasa Sunda disebut kempot. Lalu dibuat bahasa alay kompet. Ria Yulianti berubah nama menjadi Kokom. Ria memiliki lesung pipit yang membuat senyumnya tambah manis. Lalu kami memberi panggilan kesayangan Kokom

Senyuman manis Ria menginspirasi netbook saya yang suka saya panggil Kokom komarikom. Iya, soalnya netbook saya itu manis, gak pernah nyebelin. 😀

Lalu karena pendatang dari Kudus, Diyah Pudji Astuti berubah namanya menjadi Mboknè. Semua itu tentu tanpa sepengetahuan orang tua masing-masing.

Dan Saya yang bernama di KTP sebagai Yeni Kurniatin. Pasrah ketika dipanggil Uti.

Salam,

Yeni alias Uti alias bioeti alias Endolita Utii

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di #1minggu1cerita, Me dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s