[Review Buku] : Luka Dalam Bara

Luka Dalam Bara

Judul Buku: LUKA DALAM BARA

Ilustrasi sampul dan isi: @alvinxki

Penulis: Bernard Batubara

Penyunting: Teguh Afandi

Penyelaras aksara: Nunung Wiyati

Foto penulis: Pundan Katresnan

Penata letak: CDDC/NA

Penerbit: Noura (PT. Mizan Publika)

Cetakan: Kesatu, Maret 2017

Jumlah hal.: 108 halaman

ISBN: 978-602-385-232-1

“Bukankan rindu datangnya dari hati, dan hati adalah sesuatu yang bebas dan tidak memiliki kendali. Maka, tidak selamanya pula rindu menemukan penerima, dan tidak setiap saat rindu harus memiliki tujuan. Sebab, sekali waktu kita akan merasa bahwa rindu yang paling hakiki adalah rindu terhadap rindu itu sendiri.” (Hal. 74)

Entah karena kerinduan akan sosok istimewa  yang telah membuat dunia sang penulis warna-warni atau semacan terapi untuk patah hati sehingga buku ini lahir?

Kedua alasan tadi tidak menjadi masalah. Tidak  ada yang salah apakah penulis menulis untuk mengobati kerinduannya pada kekasihnya yang sekarang sudah berpisah. Atau penulis ingin berbagi sekaligus menularkan kegalauannya pada pembaca 😀

Nah lhooo…..

Hakekatnya rindu merupakan besaran vektor. Setidaknya melibatkan minimal 2 pihak. Yang merindukan dan ada yang dirindukan.

Komposisi ideal rindu adalah dua arah. Kenyataannya seringkali pihak yang dirindukan tidak merasa apa yang dirasa oleh pihak yang merindukan. Rasa rindu berjalan linear (satu arah).

Rindu

Buku ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan Bernard Batubara ketika sedang menjalani hubungan dengan seseorang yang sangat istimewa. Dan sekarang berstatus menjadi mantan.

Seseorang istimewa ini sepertinya membawa pengaruh besar pada sang penulis. Kekaguman penulis pada beliau tertuang dalam untaian kalimat-kalimat puitis. kekaguman pada sang kekasih membuat penulis tidak perlu lagi bermimpi karena mendapati bahwa kenyataan lebih indah dari mimpi.

“… seindah-indahnya mimpuku, kenyataanku lebih indah.” (Hal. 9)

Membaca buku ini seakan diajak terbang menyelami keindahan perasaan melalui kata-kata. Untaian kalimat yang melambungkan rasa. Tenggelam. Menjelajahi dunia yang tiada cacat. Ada rasa rindu, cemas, cemburu, senang, konyol dan sejuta rasa lainnya.

Semua peristiwa menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Kenangan yang mampu memberikan ‘nyawa’ pada benda mati.

“Bagiku, sepasang sepatu itu bukan benda. Dia adalah memori. Dia adalah emosi. Oleh sebab itu, tidak dapat tergantikan” (Hal. 26)

Jika berakhir menyandang status sebagai “mantan” bagi keduanya. Bukan berarti buku ini tidak indah. Menulis dan bercinta sama-sama proses. Membuat jiwa terbarukan.

“Cinta bukan sekedar persoalan melangkah bersama, tetapi juga mempertahankan langkah pada saat salah satu mulai lelah, agar tetap mampu berjalan.” (hal. 14)

Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi menarik. Dimensi buku  pas untuk dijadikan teman dalam perjalanan. Banyak sekali ditemukan quotes yang bisa dijadikan bahan renungan.

Bagi yang tidak berjiwa romantis seperti saya (dan bisa dipastikan kalau saya bukan penggemar drama Korea) jangan takut untuk membaca buku ini. Bersampul biru dengan hard cover. Jadi kemungkinan untuk lepek, lecet akan lebih lama umurnya. Lepek dan lecek akibat dibaca dong yaaa….

Justru sesekali memang perlu membaca diluar hal yang tidak pernah kita lakukan untuk memberi angin segar. Agar dunia tidak berjalan monokrom.

Apakah akan saya terapkan kepada Kakang Prabu jika rindu melanda? Hmmmm…   😀

*mikir… mikir… mikir…

*kriiiik… kriiiik… kriiiik…

Saya yang baru pertama membaca karya Bernard Batubara sangat menikmati susunan kata-katanya. Mungkin di halaman 95, paragraf ke-dua. Hanya kesalahan ketik (mungkin). Bukan sesuatu yang krusial.

Kamu memilih untuk menemanimu seharian.

Anyway, perasaan jatuh cinta memang menyenangkan. Jika toh, berakhir tidak sesuai dengan harapan. Setidaknya bisa dicurhatkan. Siapa tahu esok lusa ada penerbit yang mau menerbitkan. 😀

 

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di #1minggu1cerita, Blogger Bandung, buku dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke [Review Buku] : Luka Dalam Bara

  1. Hastira berkata:

    mkasih reviewnya ,belum baca semoag bisa baca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s