Netizen dan Empat Pilar Kebangsaan

Salah satu fenomena media sosial menurut saya adalah mampu mengeluarkan sisi ‘asli’ yang terpendam dari diri seseorang. Misalnya seseorang yang begitu alim, lemah lembut di dunia nyata tetapi begitu ganas di dunia maya (media sosial). menyebarkan rayuan gombal pada lawan jenis. Berkata-kata tidak senonoh (kalau bahasa Sunda mah disebut cawokah).

Contoh yang paling umum adalah seseorang yang terkenal pendiam dalam keseharian. Santun, shaleh, tidak pernah berkata kasar tetapi di media sosial berani mengutarkan kalimat-kalimat hujatan penuh kebencian yang kasar. Melibatkan binatang buas sampai kata-kata ancaman.

Begitu pula sebaliknya. Tidak sedikit yang bermuka garang. Kasar, tetapi mereka  mengutip quotes, menulis caption bijak. Bahkan mengutip dari kitab suci. Foto-fotonya pun diatur agar sisi liarnya di dunia nyata tidak terendus sama sekali.

Masih menurut saya juga ini mah, kekisruhan kemarin pilkada faktor penyumbang terbesarnya adalah media sosial. Kata berita di TV mah, terjadi polarisasi di tengah masyarakat. Entah yah, mengapa ketika mendengar kata polar mengingatkan saya pada beruang kutub (Polar Bear).

Seandainya saja makna polarisasi itu sesederhana seperti Bernard The Bear. Atau beruang yang mengadopsi Marsha dalam film animasi Marsha and The Bear. Mungkin kita tidak perlu senewen atas postingan tersebut.

Sayangnya tidak seperti itu. Media sosial membagi menjadi warga Netizen yang gemar menyulut dan warga netizen yang tidak tahan godaan akhirnya tersulut.

Hari gini melihat medsos memang jadi ujian keimanan, selain ujian kesabaran juga.

Di hari Sabtu, tanggal 20 Mei 2017, bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional. Di Bandung digelar Netizen Gathering. Diskusi santai antara MPR RI dengan para penggiat di dunia maya. Khususnya blogger. Blogger yang juga ada berprofesi sebagai buzzer, influencer.

Ibu Raras, Kepala bagian pemberitaan dan informasi lembaga MPR RI mengklasifikasikan blogger dalam dua. Ada blogger Ikhlas dan blogger komersil. Eh, tapi ada juga blogger pemburu goody bag. 😀 duuuh apa itu yaa… jangan-jangan si aku kategori yang ntuuuh.

Dari MPR RI sebagai nara sumber diwakili oleh Ibu Titi,  kepala biro Humas. Ibu Raras, yang membuat klasifikasi blogger. Acara dipandu  oleh Bang Sammy alias  Pak Andri.

empat pilar

Bang Sammy! Eh, Pak Andri

Bang Aswi, pupuhu Blogger Bandung mewakili para blogger. Dan ternyata para blogger yang datang bukan dari Bandung saja. Ada dari Perkumpulan Blogger Cianjur, Blogger Garut, Blogger Indramayu dan Blogger Cirebon.

Netizen Gathering yang diadakan di Ruang Voltaire, hotel Novotel ini boleh-boleh lah disebut sebagai pertemuan antara MPR RI dengan Blogger Jawa Barat.

empat pilar

Disamping kanan saya adalah contoh Blogger Garut

Dengan kondisi negara kita yang terdiri berbagai macam. Senjata yang paling sering dipakai untuk menghancurkan bangsa sendiri adalah isu SARA. Isu yang sekarang mulai mengikis jiwa nasionalisme di setiap warga. Oleh karena itu blogger berperan sebagai instrument untuk membumikan empat pilar agar mampu meredam friksi tersebut. Supaya Persatuan dan Kesatuan tetap terjaga.

Bagaimana caranya?

Tentu ada seribu cara seperti jalan ke Roma. Salah satunya dengan berbagi kisah yang berkesesuaian dengan empat pilar. Dari berbagai sisi, berbagai kondisi. Baik itu melalui gambar, tulisan maupun video.

Banyak usulan pada diskusi ini. Ada yang mengusulkan dibuat film. Baik Film pendek maupun panjang. Melibatkan pesohor. Pesohor di berbagai media. Selebgram, selebtweet dan lain-lain.  Cerita-cerita di blog.

Setidaknya cara yang paling sederhana bisa dilakukan adalah dengan tidak ikut menyebar berita bohong (HOAX). Selalu cek dan ricek.

Jujur saja, saya juga baru mengenal istilah Empat Pilar itu di tanggal 20 Mei kemarin. Tetapi isi empat pilar menurut saya sih, bukan hal baru. Lantas mengapa harus disosialisasikan kembali? Sampai-sampai Lembaga tertinggi MPR RI harus turun  gunung untuk mensosialisasikannya.

Apa itu empat pilar?

empat pilar

Bersama Pak Ma’ruf dan Ibu Titi                             Foto : Teh Tian Lustiana (Blogger Bandung)

Pak Ma’ruf Cahyono, Sekjen MPR RI memberi penjelasan mengenai empat pilar secara panjang lebar. Me-reminder tentang keempat kekuatan agar bangsa menjadi bangsa yang maju. Agar jangan sampai benturan yang sekarang terjadi membuat kita menjadi bangsa yang mengalami kemunduran. Empat Pilar itu adalah:

  1. Pilar Pancasila, ideologi Bangsa. Bagi generasi yang mengenyam pendidikan Sekolah Dasar hingga menengah tahun 90-an, mungkin tahu pelajaran PMP, PPKN. Akan paham betul dengan Pancasila dan ke 36 butirnya.
  2. Pilar Undang-Undang Dasar 45. Sebagai landasan hukum utama.
  3. Pilar NKRI. Negara kita adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, berbagai bahasa, berbagai keyakinan. UUD’45  Bab I, Pasal 1, ayat 1. Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik.
  4. Pilar Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan negara yang dapat mudah kita temukan pada lambang negara Burung Garuda. Berbagai suku bangsa dan bahasa bukan berarti menjadi amunisi untuk saling meniadakan. Karena perbedaan itu adalah kekayaan.

Masih menurut saya juga ini mah, yang begitu riang gembira mendapat buku berlambang Garuda.

Buku bergambar Garuda Kebanggaan

Ke-empat pilar tadi tidak perlu dihapalkan. Jangan sekedar dibaca berulang-ulang. Lalu hapal diluar kepala, tetapi tindak tanduk diri sendiri tidak mencerminkan perilaku sesuai empat pilar tersebut. Di luar kepala, di luar hati. Tidak akan ada manfaatnya.

Empat Pilar bukan wacana, tetapi harus kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Agar kehidupan berbangsa dan bernegara ini sesuai dengan yang kita harapkan. Sesuai Sila-sila dalam Pancasila.

 

Iklan

Tentang bioeti

If Love is chemistry so i must be the science freaks. Made from flesh and blood with angel and demon inside. An Animal Lover
Pos ini dipublikasikan di Blogger Bandung dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Netizen dan Empat Pilar Kebangsaan

  1. Bener Teh Uti.. 4 Pilar jauh lebih penting untuk diamalkan dalam keseharian plus ditularkan ke orang-orang di sekeliling kita.. Kalo denger istilahnya emang berat, padahal prak-prakannya mah sesimple berbuat baik kepada sesama, da itu juga udah mencerminkan 4 Pilar.. 😀

  2. wida berkata:

    asyik ya mak, jadi inget ada materi diklat pilar-pilar kebangsaan, kalau menurut pengajarnya waktu itu pancasila harusnya tidak menjadi pilar tapi menjadi pondasi.
    Mupeng sama bukunya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s