Motor & Kasta

“Masa kerja bertahun-tahun, motor gak kebeli??!”

Selain pertanyaan ‘kapan kawin?’, ditanya kenapa tidak mampu membeli motor setelah bekerja (apalagi diembel-embeli bertahun-tahun) saya kategortikan sebagai pertanyaan menggelikan. Rasanya, sedang di-prospek oleh agen MLM.

Teman-teman saya yang sekarang sudah bertranformasi menjadi macan ternak alias mami cantik anter anak, wara-wiri mengantar anaknya pakai kendaraan bermotor. Baik itu roda empat mau pun roda dua. Dan kata mereka saya itu terlalu konsisten kemana-mana jalan kaki dan mengandalkan kendaraan umum. Padahal pemerintah saja tidak peduli dengan fasilitas publik ini.

Kata mereka, “betah-betah amat sih, naik angkot?!!”. Padahal kalau mau jujur-jujuran mah saya males naik angkot. Sumpah. Saya mah betah di rumah. Males meninggalkan rumah. Tapi da kudu kumaha atuh. Saya terpaksa. šŸ˜€ demi se-guruntul berlian dan impian masa depan.

sumber : liputan6.com

Dulu sempat mau kredit motor saat harga motor berperang. Sampai ada DP 0% (eh, eta mah DP rumah yaaah? Bukan DP motor). Pokoknya DP lima ratus ribu juga jadi. Tapi selain saya-nya yang rada mugen. Mandeg-mayong. Adik saya malah menyarankan kalau saya ini lebih baik kredit panci presto daripada motor.

Dan kalau pun iya saya waktu itu akad kredit. Jadi bingung juga, itu motor mau disopirin siapa? lhaaa, saya kan gak bisa mengendalikannya. Mau dijadikan hiasan, mendampingi pot-pot kuping gajah juga tidak mungkin. Nanti nambah heurin. Udah mahĀ space halamannya se-iprit,ditambahi motor pula.

Tetangga saya, motornya banyak. Semua anaknya dikasih motor. Sampai anaknya yang masih SMP sudah dikasih inventaris motor. Hebat pisan pokokna mah.

kelakuan pemotor di Indonesia

Bukan hanya tetangga saya itu saja, tapi banyak Ā keluarga-keluarga yang berpikir seperti itu. Asal kebeli (kredit) motor. Yang penting bisa keliling-keliling pakai motor. Tidak peduli usia dan kemapanan. Gak ada garasi Ā buat menyimpangnya juga gak apa-apa. Bisa tidur sekamar sama motor juga. Alhamdulillah.

Di gang, bersliweran motor. Mau menempuh jarak lima meter, tiga meter. Naik motor. Cuma beli shampo ke warung sebelah sekarang sudah naik motor. Malas untuk berjalan. Besok-besok shalat ied di lapang juga perginya naik motor. Jadi panitia sekarang harus menyiapkan parkiran juga.

Harusnya Car Free Day, keukeuh saja bawa motor. Males kalau jalan. Kalau ada motor buat apa dianggurin. Kitu cenah.

Pemikiran tadi membuat saya dalam posisi, “Kok, aneh ada orang (hareee geeeeneeee) masih mau jalan kaki?” Saya dianggap sebagai orang aneh di mata mereka. Ya, tak sedikit yang mulai menyoal sisi ekonomi saya. Dan berbagai asumsi saya tidak mau membeli / kredit motor. Terkadang karena saya tidak pakai kendaraan sendiri sering kali diposisikan pada kasta serendah-rendahnya. Aiiih, lucu juga.

Kemudahan memiliki kendaraan bermotor meningkatkan populasi motor itu sendiri. Meningkatkan pula kebutuhan akan bahan bakar. Terutama bahan bakar yang berasal dari fosil.

Ketika subsidi pemerintah pada bahan bakar dikurangi (otomatis harga bahan bakar akan naik) lalu dialihkan pada yang memang diperlukan. Semua berteriak-teriak. Orang miskin ditindas.

Padahal sumpah mereka tidak miskin. Anak-anaknya saja kalau ngabuburit momotoran. Cuma bermain-main saja pakai motor. Keliling-keliling di lapang. Leuheung di lapang, ini mah di jalan raya. Mengganggu. Tak sedikit memancing musibah. Anak berseragam SD atau SMP kebut-kebutan tanpa helm. Matak paur. Pejalan kaki kalau lihat rombongan anak SD atau SMP bawa motor mending minggir, dari pada nanti celaka. Banyak kecelakaan lalu lintas roda dua disebabkan oleh hal-hal konyol.

Saya juga suka takjub sama gank motor. Hebat gak itu? Gank motor adalah konsumen terbaik. Setiap malam patroli. Harusnya minta dana pada produsen motor karena turut membahagiakan para pemilik dan pemangku kebijakan pabrik motor.

Saya menulis ini bukan berarti saya anti motor. Tidak sama sekali. Keberadaan kendaraan beroda, sudah seharusnya ada karena membantu manusia. Sayangnya sering kali kita kebablasan.

Kebablasan bagaimana?

Ya, itu tadi seperti contoh-contoh diatas. Koleksi motor matic lengkap. Aksesoris sampai dipermak macam-macam motornya. Giliran berobat ingin pakai jamkesmas. Atau minta surat keterangan miskin.

Memang ada yah?

Yah, ada. Dan entah kenapa ketika ada kejadian seperti itu, kasta saya yang sering kali direndahkan karena kemana-mana ‘nikreuh’ (jalan kaki). Serasa sedikit naik tingkat. Setidaknya ketika saya memerlukan pengobatan tidak perlu rujukan dari kelurahan.

Padahal menurut saya mereka itu pasti keluarga mampu, tetapi untuk beberapa urusan mereka lebih suka menyerahkan (menyalahkan) pada pemerintah. Misalnya urusan kesehatan. Padahal jalan kaki sehat lhoooo…….. laluĀ *kibas-kibas poni.

Tapi iya deh, pemerintah memang kejam uy! Para pemilik kendaraan saja saja merasa teraniaya apalagi kepada saya yang hanya rakyat jelita.

 

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di #1minggu1cerita, fenomena dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s