Kita Butuh Hutan

Suka ada perasaan was-was kalau ngajak Kakang Prabu jalan-jalan ke pegunungan. Takut pulangnya tiba-tiba pilek. Demam. Nanti keluarganya komplen ūüėÄ . Gara-gara saya anaknya jadi sakit. Aheu heu heu heu…

Maklum saya dan Kakang Prabu tumbuh berbeda kebiasaan. Kalau saya suka apruk-aprukan. Kakang Prabu mah dibesarkan jauh dari kegiatan alam. Mau main ke pekarangan saja langsung dibalur Au**n. Bukan tipe jarambah seperti saya, dia mah ikut arus kekinian. Jalan-jalannya ke mall. Mau nanjak tinggal pakai ekskalator.

Berhubung sekarang Kakang Prabu berprofesi sebagai Mamang-mamang Coding, dan acap kali dia membaca kalau melihat yang hijau-hijau itu sangat disarankan untuk kesehatan mata. Lihat pepohonan maksudnya, kalau lihat uang juga gak apa-apa. Asal gak hanya lihat tapi bisa meng-keep :D. Dan Juga atas bujuk rayu yang tidak henti-henti, akhirnya Kakang Prabu mau diajak jalan-jalan ke pegunungan.

Sekali dua kali dia masih mengeluh karena jalannya nanjak. Padahal senanjak-nanjaknya level Tahura – dago (Taman Hutan Raya Djuanda) dan Puncak Bintang – Padasuka. Jalannya saja pakai paving block. Nikmat mana lagi yang kami dustakan?

Kalau menurut saya sih, kurang nendang. Tapi daripada tidak sama sekali.

HCS Approach Toolkit

Memandang Alam dari Atas Bukit

Sekarang keadaan malah berbalik, kalau sudah lama tidak jalan-jalan ke pegunungan Kakang Prabu yang suka ngingetin saya. Rupanya dia juga mulai ketagihan. Badannya jadi segar, begitu katanya. Mata gak cepat lelah. Terus jarang batuk-batuk. Maklum dia biasa bekerja di bawah naungan AC.

Berjalan-jalan ke pegunungan sekalian membersihkan paru-paru. Menurut dia mah begitu.

HCS Approach Toolkit

menerobos daun

Mungkin itu dampak langsung yang dirasakan dengan adanya kawasan hutan di lingkungan kita. Bagi kebanyakan orang ‘kota’,¬† hutan adalah tempat wisata. Di mana mereka bisa rekreasi.

Dampak secara tidak langsung lebih banyak lagi. Dan sangat krusial. Kalau tidak ada hutan, celaka lah!.

Salah satunya untuk mencegah pemanasan global. Menjaga iklim agar tetap normal. Tidak seperti sekarang kadang hujan, kadang kemarau. Musim tak bisa diprediksi lagi. Mencegah banjir. Hutan adalah tempat menyimpan cadangan air. Tak hanya air, juga menyimpang cadangan karbon penting. Tempat habibat para satwa yang keberadaannya saling menguntungkan satu sama lain. Sesama makhluk hidup.

Cukup miris juga ketika mengetahui fakta jika di negara kita pertahun kawasan hutan mengalami penyusutan sekitar 2% atau sekitar 1,1 Hektar setiap tahunnya. Dari 130 Juta Hektar hutan yang tersisa, 42 juta Hektar sudah habis ditebang (sumber : www.wwf.or.id)

Penebangan liar, penambangan, alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian dan pemukiman adalah sekian dari penyebab kita kehilangan hutan. Jika pada zaman dahulu, leluhur kita untuk menjaga hutan mereka membuatnya keramat. Agar tidak ada yang semena-mena membabat hutan.

Mengenai HIGH CARBON STOCK APPROACH (HCSA)

Highcarbonstock

sumber foto : @Highcarbonstock

Suatu organisasi yang berkomitmen untuk menghentikan deforestasi. Serta berupaya untuk melindungi kawasan High Conservation value. Hutan sekunder yang menyediakan cadangan karbon penting, habitat untuk keanekaragaman hayati serta berbagai produk lokal hutan bagi komunitas di sekitarnya.

Versi pertama dari pendekatan HCS Toolkits dirilis pada bulan April 2015.  Membakukan metodologi untuk memberikan panduan praktis yang sangat ilmiah dan efektif dalam membedakan dan melindungi kawasan hutan yang layak. Versi ini mencakup komoditas perkebunan atau agribisnis di daerah tropis yang lembab. Di mana pengembangan, uji coba, dan implementasinya fokus utamanya pada lahan yang terfragmentasi di Asia dan Afrika serta perkebunan kelapa sawit juga perkebunan untuk pulp dan kertas.Bertempat di Bali, pada Bulan Mei 2017, dirilis versi kedua. Versi ini merupakan penyempurnaan dari versi sebelumnya. Berdasarkan riset yang dilakukan lebih dari dua tahun. Menggunakan penelitian ilmiah terbaru, evaluasi dari percobaan lapangan, isu baru mengenai perusakan hutan serta masukan-masukan dari berbagai kelompok kerja (mitra) HSC Steering group.

Anggota HCS approach

Sumber : HCSA -Toolkit V 2.0 modul

‚ÄúMembiarkan deforestasi atau pembabatan hutan alam demi perkebunan sudah merupakan suatu hal di masa lalu. Hari ini, kami meluncurkan sebuah toolkit dengan metodologi yang memberikan panduan teknis yang praktis dan terbukti kuat secara ilmiah, untuk mengidentifikasi dan melindungi hutan alam tropis,‚ÄĚ kata Grant Rosoman selaku Co-Chair dari High Carbon Stock (HCS) Steering Group.

HCS approach

Sumber foto : @Highcarbonstock

HSC Steering group adalah suatu badan yang mengatur dan mengawasi HCS Approach, dibentuk pada tahun 2014. Termasuk penyempurnaan sistem dengan berbagai pendekatan untuk menghentikan praktek penggundulan hutan.

HCS approach

sumber foto : @Highcarbonstock

Penambahan dilakukan untuk memperjelas aturan karbon juga memberi panduan dalam penerapan HCS bagi para petani kecil sesuai dengan pemastian mutu pendekatan HCS dalam penerapannya tidak ada lagi penggundulan hutan.

Namun Aspek inti dari pendekatan HCS tetap tidak berubah. Tujuan utama yaitu membedakan hutan sebagai kawasan yang sesuai untuk pengembangan. Tetap menekankan pada menghormati hak adat serta mata pencaharian. Dari itu semua pendekatan HCA tetap menjadi alat pragmatis untuk perencanaan penggunaan lahan daripada penilaian karbon. Ini merupakan pergeseran paradigma menuju integrasi komprehensif sebagai konservasi hutan dalam perluasan pertanian atau perkebunan di lanskap hutan tropis

Sekarang melalui pendekatan HCS merupakan tahap awal penerapan dengan komoditas lain termasuk di dalamnya karet dan coklat. Juga biomassa tropis di Kawasan latin dan Amerika tengah.

Informasi lebih jauh mengenai HCS Approach Toolkit Versi 2.0

http://highcarbonstock.org/the-hcs-approach-toolkit/

situs : http://highcarbonstock.org,

Twitter : @Highcarbonstock

Youtube channel : High Carbon Stock Approac

 

 

Iklan

Tentang bioeti

If Love is chemistry so i must be the science freaks. Made from flesh and blood with angel and demon inside. An Animal Lover
Pos ini dipublikasikan di fenomena dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s