Puskesmas????!!

Beberapa minggu sebelum bulan puasa, tambalan yang ada di gigi tiba-tiba coplok. Tidak begitu sakit tapi rasanya tidak nyaman. Apalagi kalau ada makanan yang nyungsep ke sana.

Karena beberapa sebab, paling dominan mah karena malas dan takut. Gigi yang bermasalah baru diperiksakan ke dokter setelah Lebaran. Tepatnya setelah pulang mudik.

Biar tambah seru tantangannya, saya memeriksakan ke Puskesmas.

Yesss…. Puskesmas!!!!

Kalau bilang males banget harus ke Puskesmas itu memang bukan tanpa sebab. Walau pun hanya untuk membuat surat keterangan sehat.

Pasti  semua pernah mengalami membuat surat keterangan sehat. Apalagi yang pernah ikut melamar jadi CPNS 😀 . Prosedurnya tidak perlu saya jelaskan deh.

Membayangkannya sudah malas. Terbayang para personil di Puskesmas yang jutek. Jam kerja pendek, padahal kalau liat jadwalnya tutup jam 14.00 tapi jam 11 sudah pada hilang petugasnya. Sana-sini ngantri. Ditelantarkan karena petugas sedang fotocopy blanko ( dan beribu alasan lainnya). Kalau nanya-nanya nanti dijawab dengan ketus. Ah, malesin.

Cerita suram pelayanan kesehatan  oleh pemerintah tidak saya temukan kemarin. Tidak ada antrian panjang. Tidak ada pasien kebingungan terus dicuekin sama petugas. Malah, si Akang petugas (pada hari sabtu itu semua petugas berseragam batik) sigap membantu lansia.

Tempat duduk yang layak juga memadai. Jarang yang menunggu harus berdiri. Semua duduk.  Agak takjub juga melihat pemandangan seperti itu.  Terutama semua tertib tidak ada yang merokok. Dulu mah jangankan pasien. Petugasnya juga memberi contoh merokok di sembarang tempat.

Berobat ke Puskesmas

Antrian Pasien

Dokter umum ada dua, dibantu oleh asisten. Dokter gigi satu orang bersama satu asisten. Untuk ibu dan anak, konsultasi KB terpisah. Jadi antrian tidak mengular.

Meskipun  masih ada petugas senior yang rada-rada ketus. Tapi dia berusaha menjawab pertanyaan dari pasien dengan ramah. Tetap semangat berusaha yah, bapak-ibu. Walaupun lelah.

Di Poli gigi dokter yang bertugas adalah drg. Alya. Sebelum ketemu  saya sudah pasrah jika diperlakukan dengan jutek. Eh, ternyata pikiran saya salah (makanya Tabbayun *notetomyself). drg. Alya baik. Dia cukup lembut. Gigi saya yang ngilu-ngilu karena ketakutan jadi cenghar

berobat ke Puskesmas

Agak-agak menyeramkan bagaimana gituuu

Saya tidak tahu prosedur mamanfaatkan jasa layanan Puskesmas di tempat lain. Kalau saya begini.

Datang ke Puskesmas. Waktu itu sengaja rada pagi. Puskesmas bukan jam 08.oo saya datang 07.30. Kemudian ambil kartu antrian untuk daftar. Di sana ada petugas Satpan yang dapat membantu.

berobat ke puskesmas

nomor antrian

Ambil nomor sesuai kebutuhannya. meskipun saya datang cukup pagi, tetap saja saya kebagian nomor hampir dua digit.Nomor dan kartu diserahkan ke loket pendaftaran. Kalau belum punya kartu, tinggal diinfokan saja ke petugas agar dibuatkan kartu berobat.

Administrasi kena charge Rp. 3.000,-

Setelah beres dengan administrasi kurang lebih sekitar lima menit. Saya dipersilahkan untuk menunggu di Poli klinik gigi. Eits, tapi sebelumnya dicegat untuk diperiksa berat badan dan tekanan darah. Lumayan berat badan saya cenderung menurun. Biasanya kalau lebaran itu semakin melar sekarang cenderung stabil agak menurun. Efek positif sakit gigi berikut gusinya.

Beruntungnya, meskipun nomor hampir dua digit, saya menunggu tidak terlama. Mungkin keluhan pasiennnya tidak banyak sehingga sang dokter bisa memaksimalkan waktu.

Dokter mengotak-atik gigi saya yang tambalannya coplok. Rupanya bolongnya makin dalam. Terus diputuskan kalau saya harus ditambal sementara dan minggu depan saya harus datang lagi. Penanganannya sih, kalau menurut saya tidak kalah dengan dokter gigi di luar sana yang praktek sendiri, atau di RS Swasta.  drg. Alya menerangkan bagaimana rasa ngilu itu bisa terjadi. Semoga ke depannya di puskesmas bisa pasang kawat gigi – Behel juga yaaa… Gak apa-apa Behel generik juga.

Lalu saya diberi resep untuk meredakan sakitnya. Paracetamol. Familiar sebagai obat penurun panas. Seingat saya kalau ke puskesmas suka diberi obat curah. Malah pernah melihat petugasnya memasukan obat ke dalam plastik dengan tangan telanjang. Awww…, ngeri. Soalnya di pabriknya saja perlakuan pada obat sangat ketat. Masa pas sampai kepada pengguna seperti itu.

berobat ke puskesmas

Paracetamol dari Puskesmas. Gratis. Untuk meredakan sakit

Sekarang lebih rapi. Penandaanya juga jelas. Dan saya tidak perlu membayar untuk obat tersebut alias gratis. Ok! tiga ribu dan tidak perlu bayar obat.  Untuk tambal sementara cuma lima ribu. Dan tambal permanen tujuh ribu.

Saya semakin takjub. WoW….

puskesmas

Puskesmas Caringin

 

 

Iklan

Tentang bioeti

If Love is chemistry so i must be the science freaks. Made from flesh and blood with angel and demon inside. An Animal Lover
Pos ini dipublikasikan di #1minggu1cerita, Blogger Bandung, fenomena dan tag , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Puskesmas????!!

  1. Tatat berkata:

    Ternyata bener ya..skarang pelayanan kesehatan di tingkat terbawah udah keren gini

  2. Hastira berkata:

    nah meamng sehrsnya begitu ya pelayanan itu, sku trauma abnget ke rmhs sakit umum, kalau gak sustrenya galak adminnya juga jutek, kenapa semau keluhan sama ya, tp beberapa sdh mulaii berubah walau masih ada yang malas melayani

    • bioeti berkata:

      Saya juga paling males. Buat surat keterangan sehat saja haddduh, jutek dan judes. Suka kepikiran, soalnya mereka sudah tentram jadi PNS, begitu dapat hal-hal diluar kebiasaan jutek melulu…
      Asumsi pirbadii
      Hehehehe…

  3. adi pradana berkata:

    Salut buat bu menkes yang sdh memperbaiki sistem pelayanan kesehatan mulai dari yang paling bawah…. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s