Keberagaman di Media Sosial

Mengapa orang betah berselancar  di dunia maya?

Menurut penelitian, 20 menit berselancar di dunia maya dapat meningkatkan hormon oksitosin sebanyak 40%. Mengalahkan peran coklat yang selama ini diyakini sebagai penghasil oksitoksin terbaik. Aha, sebuah hasil kajian menarik. Mungkin sebab lainnya orang bisa riang gembira tanpa harus mengalami kegemukan atau jadi jerawatan karena makan coklat.

Hasil penelitian tadi disampaikan oleh Prof. Dr. H. Karim Suryadi, M.Si pada saat acara Flash Blogging yang bertempat di Hotel Holiday Inn – Pasteur Bandung. Hari ini, Jam 9 pagi tepatnya. Tema yang kita diskusikan adalah “72 Tahun Meperkokoh Kebhinekaan dalam Membangun Negeri”.

Acara yang digelar oleh Kominfo dihadiri oleh kurang lebih 50 blogger wilayah Jawa Barat. Saya adalah partisipan dari Bandung, bagian wilayah Kopo.

flash blogging

Bergerak membangun negeri

Prof. Karim menganalaogikan keberagaman seperti menanam padi. Sebagai bangsa agraris, orang tua dulu menanam padi dari bibit yang umur masa tanamnya lebih lama. Padi yang dihasilkan pun lebih lama untuk disimpan. Dan bisa dijadikan cadangan makanan. Tidak hanya itu, para orang tua dulu menaman dengan berbagai jenis bibit. Tidak hanya satu bibit.

Kemudian ada masa ketika para petani diharuskan menanam padi dengan benih yang masa tanam sebentar. Benih ini seragam. Keuntungannya, hasil panen padi yang biasanya setahun dua kali. Menjadi 4 sampai lima kali. Lebih banyak. Kekurangannya, daya tanan padi kurang kuat. Cepat rusak jika disimpan lama. Dan karena seluruh petani menanam bibit yang sama, ketika diserang oleh hama, hama akan menyerang varietas yang sama.  Analogi pada keberagaman hayati. Semakin beragam semakin kuat.

Analogi lainnya adalah perkawinan. Perkawinan adalah menyatukan perbedaan-perbedaan bukan untuk saling menjajah. Tetapi pada satu commitment & agreement.

Era media sosial, ada pihak-pihak tertentu yang sengaja menjadikan keberagaman sebagai senjata untuk memecah belah bangsa ini. Amerika adalah negara yang terdiri dari multi etnis. Beragam karena migrasi. Banyak imigran yang datang ke wilayah yang ditemukan oleh Colombus. Tetapi Indonesia beragam dari awal. Berbeda-beda dari awal. Itu sebuah kekuatan, bukan untuk saling menjatuhkan.

Bijak menulis blog

Panduan

Jika kuda merespon lingkungannya dengan mengubah anatominya, Misalnya yang satu menjadi jerapah untuk menggapai makanan kesukaan, Yang satu menjadi Zebra untuk mengelabui. Ada yang lahir imut-imut untuk menjadi kuda poni. Dan ada yang bikin kaget dan menghibur melihat kuda renggong.

Maka manusia merespon dengan mengubah pola kebudayaan.

Pada Era ini, kebebasan seakan tidak ada batasan. Dunia Maya dan dunia nyata tidak paralel. Orang bebas memaki, menghujat bahkan mengeluarkan berita-berita bohong. Hal ini sangat disayangkan.

Zaman dahulu, jika ingin menguasai dunia harus menguasai lautan, atau daratan bahkan udara. Sekarang adalah menguasai Informasi (dunia maya).

Dalam kata sambutan Ibu Rosarita Niken Widiastuti dari Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementrian Kominfo mengingatkan untuk bijak dalam bermedia sosial. Selama ini pola 10 to 90 sedang marak. 10 orang membuat berita (dan biasanya berita bohong/HOAX) akan direspon lalu diviralkan oleh 90 orang lainnya. Bayangkan jika satu berita diberi harga tiga ribu, dan yang memviralkan sembilan ratus orang. Berapa jumlah nominal yang dihasilkan. Dampaknya, tentu kita alami akhir-akhir ini. Seakan semua orang mudah terpecah belah. Gampang main hakim sendiri. Sudah tidak ada nurani.

Untuk itu Baik prof. Karim maupun Ibu Niken sangat menyarankan agar menulis konten-konten yang mengunggah rasa nasionalisme. Kebencian jangan dilawan oleh kebencian. Untuk itu menulis hal-hal baik itu lebih utama daripada menyebar kebencian. Menebar hal-hal positif. Untuk membawa cahaya dan mengakhiri zaman kegelapan akibat mabok informasi.

Sebuah tulisan yang baik, tidak menghasut. Tidak mencaci. Tulisan tipe seperti itu akhir-akhir ini marak. Mencaci pejabat publik di media sosial. Padahal belum tentu kita pun mampu jika diberikan amanah. Mencaci mereka ibarat mencoreng lipstik pada dahi sendiri.

Sebuah blog yang baik yang memenuhi unsur :

  1. Informatif
  2. Spesifik
  3. Berguna
  4. Personal
  5. Unik/Khas
  6. ‘gaul’

Apa yang disampaikan memberikan manfaat dan berguna. Tetapi ada kekhas dan milik sendiri. Media sosial berbeda dengan media massa. Tidak kaku dalam menyampaikan. Kekuatan media sosial bisa diakses oleh siapa saja sehingga pesan yang diinginkan sampai kepada pembacanya. Walapun pada akhirnya blog akan menemukan pembacanya sendiri.

Mengenai ilmu blogging pada pagi ini, disampaikan oleh Enda Nasution. Siapa yang tidak kenal dia? 😀 kalau enggak kenal coba googling saja.

Oh ya, Pagi ini acara dibuka oleh Bapak Dr. Widyatmoko. Beliau adalah Dirjen keminfo Prov- Jawa Barat (CIIMW). Banyak Universitas terkemuka di Jawa Barat. Penggunannya cukup aktif di media sosial. Di dunia tanpa batas, tetapi kita harus tetap berada dalam koridor etika. Karena era media sosial telah mengubah peradaban dan tentunya peradaban tidak ingin hancur karena kebebasan yang kebablasan.

 

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Blogger Bandung dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s