Belajar Membumi di Sinar Resmi

“Culture meets Nature”

Tema yang diusung pada Ciletuh Geopark Festival(CGF) 2017. Festival dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Barat pada hari Minggu 27 Agustus kemarin. Bertempat di GOR venue tinju Palabuhan Ratu-Sukabumi. Ditandai oleh bunyi angklung serta tabuhan kendang.

Ciletuh Festival

Pembukaan Festival Ciletuh

Delapan kecamatan berpartisipasi pada acara pembukaan festival. Masing-masing kecamatan menampilkan atraksi kesenian. Kecamatan Ciracap, Surade, Ciemas, Waluran, Simpenan, Palabuhan ratu, Cikakak dan Cisolok.

Festival ini sendiri diadakan sebagai upaya agar Kawasan Ciletuh dapat lolos penilaian dan menjadi bagian UGG (UNESCO Global Geopark). Penentuan nominasi akan dilaksanakan pada tanggal 19 September di China. Berdo’a semoga Ciletuh bisa lolos.

Ciletuh

Atraksi Ngahiras & Liliuran dari kecamatan Waluran

Hari cukup terik, tidak menyurutkan para partisipan yang sebagian besar adalah anak-anak mempertontonkan atraksinya. Tetap semangat.

Ngahiras

Ngahiras

Makna dari tema yang diusung sangat terasa ketika rombongan Famtrip Ciletuh 2017 mengunjungi Kasepuhan Sinar Resmi. Bukan sekedar sebuah berkunjung untuk berwisata tetapi lebih tepatnya ‘belajar’. Menurut saya mah.

Petualangan bagian pertama ada di Menyambut Mentari di Sukabumi

Hampir tengah malam ketika kami tiba di Kasepuhan Sinar Resmi. Disambut oleh Abah Asep Nugraha. Pupuhu di Kasepuhan Sinar Resmi.

Kasepuhan Sinar Resmi terletak di desa Sirna Resmi, Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Berada Diantara perbatasan Jawa Barat dan Banten.

Berhubung di rumah Abah sudah penuh, kami bermalam di rumah Ambu, Ibu-nya Abah. Seperti rumah Abah, rumah Ambu juga rumah Panggung.

Ambu baru tinggal di sana sekitar lima bulan. Rumah lama Ambu habis terbakar. Ketika Ambu berobat ke Sukabumi.

Ternyata Ambu itu suka travelling. Bandung, Jakarta, bahkan ke Bali. Ambu masih mempunyai kerabat di Cibodas – Maribaya. Sudah tiga tahun Ambu tidak menengok kesana. Karena kondisi kesehatan Ambu. Biasanya kalau ke berkunjung ke Cibodas Ambu menyempatkan juga berbelanja di Pasar Baru Bandung. Ambu juga mengutarkan keinginannya  untuk Umroh. Semoga Ambu tetap sehat dan keinginan umroh segera terwujud.

kasepuhan Sinar Resmi

Nongki Cantik bersama Ambu

Kami mengobrol  di depan hawu. Sejenis tungku. Di samping hawu ada goah. Goah adalah kawasan kekuasaan perempuan. Sesuai peraturan goah hanya bisa dimasuki oleh kaum perempuan. Aduh, sayangnya, saking asyik saya mendengarkan Ambu bercerita, sampai tidak ingat untuk mengambil foto Goah dan Hawu. Biasanya difoto sih, jadi suka lupa kalau harus moto. 😀

Kasepuhan Sinar Resmi

Di depan rumah Ambu (foto: Teh Efi Fitriyah)

Bagi warga Kasepuhan Sinar Resmi, bertanam padi adalah bagian budaya. Jiwa dan nafas mereka. Bukan sekedar menanam padi, memelihara lalu memanen. Kemudian dimasak lalu disantap.

Menanan padi atau paré (bahasa Sunda) harus parélé. Maksudnya harus tertib. Sesuai dengan aturan. Padi bukan sekedar tanaman. Tetapi sebuah renungan kehidupan. Menanam padi ibarat mengenal diri sendiri. Ada awal ada akhir. Selaras dengan alam. Tanah, langit, air dan udara. Termasuk tidak menyakiti mahluk lain.

Ada sekitar 68 jenis benih padi. Semuanya merupakan benih unggulan, sering kali disebut paré gede.

Kasepuhan Sinar Resmi

Benih Padi

 

Menanam padi dengan tanaman lain (Haraka Paré). Menguntungkan satu dengan yang lain. Abah menanam wijen untuk mencegah serangan ulat. Ulat akan memakan wijen. Untuk menangkis serangan dari udara, Abah menyebutnya begitu. Maksudnya serangan burung. Abah menanam kunyit. Kunyit yang dimaksud Abah bukan sejenis rimpang, tetapi sejenis rerumputan yang tingginya melebihi tanaman padi. Burung akan memangsa kunyit daripada padi.

Kunyit bisa diolah menjadi penganan. Seperti cuhcur atau olahan lainnya. Bahkan Peneliti dari Italia tertarik untuk mengembangkan kunyit menjadi slow food. 

Kasepuhan Sinar Resmi

Kunyit

Mengolah kunyit harus ditumbuk sebanyak tujuh kali. Mengingat Kunyit terdiri dari tujuh lapis. Oh iya, di sini, proses padi menjadi beras tidak menggunakan mesin heler. Tetapi ditumbuk. Tempatnya di saung lisung.

Kasepuhan Sinar Resmi

Lisung

Padi hasil panen tidak bisa diperjualbelikan, tetapi disimpan di leuit. Sebuah bangunan mungil untuk menyimpan beras. Digunakan untuk kemakmuran warga Kasepuhan Sinar Resmi. Sistem yang diterapkan ini sering kali menjadi bahan studi banding untuk kajian ketahanan pangan. Bisa disebut Oldies but Goldies buat sistemnya.

Leuit

Leuit

Leuit bisa menampung sampai 3 ton. Padi diikat. Satu ikat disebut sa-pocong. Biasanya kurang lebih 5 Kg. Dalam sekali tanggungan biasanya terdiri dari 20 pocong. Jadi sekitar satu kuital. Padi dalam bentuk pocong, digantung pada bilah bambu.  Jadi jangan heran kalau di Sinar Resmi banyak pocong bergelantungan.

Masa simpan bisa mencapai puluhan tahun. Tergantung pada jenis padi serta harus taat mematuhi tata tertib proses dari awal (penanaman) hingga akhir (masa setelah panen).

Tidak sembarang orang dapat memasuki leuit. Ada aturan-aturan khusus. Sama halnya ketika menanam padi. Abah tidak khawatir padi-padi yang disimpan akan dirusak oleh tikus.

“Semua ada hak-nya”

Jangan lupa untuk bermanfaat bagi alam sekitar. Tidak perlu takut dicuri tikus, tidak perlu takut diambil ayam. Berikan hak mereka. Maka mereka tidak akan mencuri. Begitu kira-kira pesan Abah yang saya tangkap. Siloka, yang dapat diaplikasi untuk banyak hal.

Abah tidak setuju membunuh makhluk lain. Merusak habitat mereka hanya untuk kesenangan. Mengambil keuntungan semata. Oleh karenanya, untuk merawat padi Abah tidak menggunakan peptisida.

Kasepuhan Sinar Resmi

Abah Asep Nugraha

Abah lebih suka berbagi. Hama  terjadi  karena lahan digunakan untuk kepentingan manusia dan makanan bagi mereka (hewan pengganggu-hama) tidak ada. Jika disediakan tentu mereka tidak akan menjadi hama. Mereka mengambil secukupnya. Sisanya diambil lagi oleh manusia.

Kasepuhan Sinar resmi

Ayam yang dibiarkan, untuk mengambil haknya

Hidup harus ada dalam koridor yang dicontohkan oleh Rasul, Abah menyebutnya Kandang Rasul. Tidak melebihkan, tidak mengurangi. Dirumat, dirawat dan diruwat. Nu sajatina ti gusti. Nu sanyatana tinu kawasa.

Menyimak dan mencermati cara menanam padi. Seolah belajar tentang kehidupan. Sebuah filosofi yang menarik.

Menurut Abah kunjungan ke Sinar Resmi dan bertemu Abah. Bukan sebuah kebetulan semata bagi setiap peserta Fam Tour, tetapi sudah menjadi ketentuan dari-Nya.

Abah juga mengingatkan, agar kita jangan sampai hilang jejak akan budaya. Adat dan Budaya adalah identitas. Sebuah bangsa bisa rusak jika sudah kehilangan identitas. Negara kita terdiri dari berbagai suku. Berbagai adat dan budaya. Paling banyak dari negara lain. Bisa mejadi kekuatan apabila ada kesatuan.

Sekarang ini jaman bukti. Kalau dulu jaman Sakti. Ingatkan Abah, agar kita tidak semena-mena pada kehidupan. Kita tetap harus membumi.

Banyak hal yang saya dapat dari kuliah pagi dari Abah. Sayangnya, kami harus segera kembali ke Bandung.

Walau hanya sebentar, tetapi kuliah singkat dari Abah akan terus diingat. Hidup itu bagaimana cara kita mensyukuri nikmat-Nya.

Kasepuhan Sinar Resmi

Pagi Di Sinar Resmi

kasepuhan Sinar Resmi

Rumah Panggung tahan gempa

Kasepuhan Sinar Resmi

Pipir

Kasepuhan Sinar Resmi

Kuliah Pagi

Kasepuhan Sinar Resmi

Terima kasih Abah, Atas ilmunya

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Blogger Bandung, fenomena, Reportase dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Belajar Membumi di Sinar Resmi

  1. phadliharahap berkata:

    Semoga ciletuh geopark benaran menjadi wisata apik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s