Petuah

Hampir tiga kali dalam sepekan saya mendapat petuah dari para pengamen unyu-unyu yang berkeliaran seputaran Jalan Soekarno-Hatta, Leuwi Panjang dan Kopo. Setiap kali mengamen mereka menggunakan prolog yang hampir seragam. Berbeda dengan para pengamen solo.

Jika pengamen solo hanya berani di lawang panto angkot. Kalau pengamen jenis ini biasanya langsung duduk di kursi penumpang. Terkadang membuat kaget penumpang yang duduk paling sisi (paling dekat ke pintu). Ini membuat kapok sebetulnya, bisi weh kalau disebut trauma mah, nanti dibilang lebay. Pembagiaan tugas mereka begini:

  1. Satu orang berorasi
  2. Satu lagi menyanyi.

Jika lebih dari dua, pembagian tetap sama. Satu orang Orasi, sisanya menjadi backing vocal satu sama lain

Dilihat dari formasi, kira-kira semacam pidato yang diberi soundtrack lagu.

Saya tidak begitu memperhatikan lagu yang mereka nyanyikan. Justru saya lebih tertarik pada prolog yang mereka sering ucapkan. Berikut beberapa petikan dari prolog mereka.

  1. Ma’af kami numpang ngamen. Dari pada kami mencuri atau mencopet.
  2. Seribu dua ribu untuk makan (biasanya sambil memperagakan. Gesture tangan masuk ke mulut).  Seribu, dua ribu yang tidak akan mengurangi harta Bunda (jadi jangan kasih koin lima ratus rupiah apalagi dua ratus. Kalau tidak ingin terjadi huru-hara)
  3. Semoga dibalik kerudung Bunda tersimpan jiwa sosialnya
  4. Harta tidak dibawa mati, hanya amal yang akan menolong nanti di akherat.

Rata-rata prolog isinya sama. Mengingatkan pada penumpang angkot bahwa amal baik, kelak yang bisa menolong dari siksa akherat. Jadi pengamen-pengamen unyu-unyu ini tahu dan sadar mengenai tentang adanya kehidupan setelah kematian.Seperti yang mereka katakan, lebih baik mengamen dari pada mencuri atau mencopet. Menyarankan agar kita taat pada Sang Pecipta. Mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Akhirnya dengan segala hormat, saya hampir tidak pernah memberikan seribu dua ribu pada mereka. Karena dengan kedangkalan pola pikir saya. Saya malah menangkap ketidak nyambungan antara prolog, atribut serta tingkah laku. Bertolak belakang kitu tah.

Jika pada pengamen solo saya masih suka memberikan. Upppsss…. Padahal sudah dianjurkan untuk tidak memberi uang pada pengamen jalanan yaaa… Alasan saya memberi karena, terkadang saya ikut menyanyi dalam hati lagu yang dia nyanyikan. Mereka berlaku sopan. Suka menemukan pengamen dengan kualitas suara yang OK. Aku Yess! Kalau pengamen seperti itu ikut kontes. Atau berharap ada pemilik rumah makan, café dan sejenisnya merekrut mereka menjadi pengisi di tempat usahanya.

Oke, balik lagi ke pengamen unyu-unyu tadi. Setelah petuah-petuah dari mereka. Petuah lain di dapat dari Media Sosial. Sekarang dengan mudah petuah-petuah bertebaran di media sosial.

Ada teman (laki-laki) yang setiap postingannya berbagi artikel tentang indahnya poligami. Bahwa sesungguhnya istri yang mau dipoligami, adalah calon surga. Agak muak yaah… jadi mending di unfollow saja.

Ada juga yang sering membagikan petikan tulisan penulis kesayangan. Penulis yang kemarin jadi pelopor memprotes pajak untuk para rekan se-profesi dia. Tapi saya akui, gara-gara teman saya itu sering membagikan petikan tulisan dia, saya jadi ikut membaca buku-buku dia. Euuugh, serasa dijebak lah pokoknya. Tapi gak rugi juga sih, terjebak yang menyenangkan.

Tak sedikit yang berbagi postingan para ustadz dan ustadzah. Ada sebagian yang dibacanya adem. Banyak pula malah yang menyulut emsosi. Komplikasi jadinya. Kok, malah begini. Ini bukannya menentramkan. Kok, malah ngajak berperang. Yang paling menyebalkan itu, kalau orasi dan tulisan-tulisannya  mengajak berbuat kebaikan, menyiapkan diri untuk kehidupan sempurna, dunia dan akherat, eh… selang tak berapa lama kemudian terjerat ‘kasus’.

Apalagi kasusnya itu seputar, Harta, tahta dan Wanita… ta… ta… ta…

Miris kalau sudah begini. Apa daya kalau hidup diakhir zaman. Mungkin ini yang disebut era menjual ayat.

Yoda di 1 minggu 1 cerita

Sumber foto : Pixabay

 

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di #1minggu1cerita, cicit cuit dan tag , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Petuah

  1. Ruli retno berkata:

    Sama mba,alasan sy ngasi pengamen jg biasanya krn sy terhibur sm aksinya. Sy berterimakasih

  2. gemaulani berkata:

    Waduh, aku baru sadar teh, itu serebu duarebu kode biar nggak ngasih di bawah itu yaa hehehe. Aku ge jarang banget sih ngasih sama yang pake prolog. Kecuali sieun pisan. Pernah tah ada teteh-teteh nu langsung pake headset malah ditambahin kalimatna : “tolong dengarkan karena suara kami bukan suara binatang” -_-

    Tapi kalau yang pengamen solo dan nyanyian sama gitarnya ok, aku sok ngasih sih. Da bagus, patut diapresiasi.

  3. Maria G Soemitro berkata:

    menjual ayat? Aduh sedih pisan ya? Tapi apa boleh buat, emang nyata #sedih

  4. evisrirezeki berkata:

    Aku udah jarang banget ngasih pengamen

  5. Firda Winandini berkata:

    sama teh aku juga suka males kalo ngasih pengamen yang begitu. Udah mah bikin serem juga hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s