[Festival Film Bandung] : Harapan dan Berharap

Jika warga Bandung bangga dengan kotanya. Itu bukan hal yang aneh. Ada kuliner, fashion. Spot-spot instagramable. Dan ada satu hal yang tidak dimiliki kota lain selain di Bandung . Yang menjadi kebanggaan warga Bandung, yakni FFB alias Festival Film Bandung. (CMIIW, sejauh ini saya hanya tahu Bandung yang punya Festival Film, jika kota lain ada. Please let me know) .

Maka, ketika FFB yang ke-30 dihelat di Jakarta, beberapa kawan saya (termasuk mereka yang jarang-jarang menonton film nasional) langsung protes.

“Mengapa tidak ada angin tidak ada hujan ujug-ujug aya di Jakarta?” tanya teman saya setengah protes. Teman saya melihat tayangan FFB gara-gara saya update status. Kalau saya gak update status dia tidak tahu FFB sedang ‘hajat’. Kata dia lagi.

Hari itu saya mendapat banyak pertanyaan bernada serupa, mengenai lokasi festival. Mengalahkan pertanyaan seputar Aliando dan Prilly. Varrel dan Natasha Wilona. Jumlah titipan salam yang akan disampaikan pada Chicco Jericco.

Dan untuk kesekian kalinya saya menjawab, “meskipun di Jakarta tidak akan ganti menjadi Festival Film Batawi,” sedikit ngawur sih. Setidaknya bisa meredam pertanyaan-pertanyaan seputar penyelenggaraan FFB yang ke-30.

Naha, gak di Garut atau di Sumedang saja?” pertanyaan lainnya mengenai lokasi. Karena sebagian sudah mendengar FFB milik masyarakat Jawa Barat bukan milik urang Bandung semata.

Pertanyaan bagus, yang saya jawab aamiin dalam hati. Semoga suatu saat FFB bisa berkeliling, menyambangi seluruh wilayah Jawa Barat bukan hanya Bandung saja.

Q :”Bekasi???”

A :”Why not!”

                          Q :”Tasik??”

A: “Komo, moal dicaram.”

Rupanya kawan-kawan saya ini masih belum move on dari kemeriahan FFB sebelumnya yang digelar di Monumen perjuangan (Monju). Mereka berharap FFB berikutnya pasti lebih meriah, secara film nasional tumbuh pesat. Dan jika diselenggarakan di Bandung mereka bisa nonton langsung di TKP. 😀

Festival Film Bandung

Lokasi Acara

Perihal lokasi penyelanggaraan, alasan digelar di Jakarta tidak di Bandung. Biarlah menjadi urusan panitia. Tetapi saya sedikit mendapat titik terang ketika membaca tulisan Pak Eddy D. Iskandar dan Pak Chand Parwez Servia di Majalah Edisi 2017 Khusus Festival Film Bandung  beserta supplemen yang menyelip di majalah FFB.

Festival Film Bandung

Two Big Stars Talked Behind me 😀

Berawal dari proyek “iseng” (halaman 1 supplemen Majalah FFB tahun 2017). Bertukar pikiran setelah menonton film-film di Preview room PT Kharisma Jabar Film, lahirlah gagasan membentuk FFB. Festival Film Bandung.

Penggunaan kata ‘Festival’ kemudian diprotes oleh Departemen Penerangan RI. Dengan alasan hanya satu Festival Film di Indonesia yaitu FFI. Sehingga FFB berubah menjadi Forum Film Bandung.

Pada akhir tahun 90-an, atas saran para penggiat perfilman, FFB dikembalikan ke bentuk semula. Menjadi Festival Film Bandung. Dimana Forum Film Bandung tetap dipertahan sebagai pihak penyelenggara.

Proyek ‘iseng’ ini justru telah memberikan kontribusi pada perfilman nasional. FFB tidak pernah absen untuk memberikan apresiasi meskipun film nasional tengah dilanda ‘paceklik’. Tidak hanya untuk tontonan layar lebar, layar kaca pun diapresiasi.

Sejauh yang saya ketahui, belum pernah ada peraih “Terpuji” yang memprotes keputusan regu pengamat. Tidak ada keputusan kontroversi hingga menimbulkan pro dan kontra yang berkepanjangan.

Semua kerja keras dilakukan secara swadaya. FFB independen. Penilaian tidak ditumpangi oleh kepentingan pribadi dari seseorang.

Apa yang dilakukan FFB semata-mata mendorong, memotivasi para penggiat film di tanah air untuk lebih semangat lagi melahirkan karya-karya terbaik. Karya berkualitas. Sehingga penonton mendapat tontonan yang layak.

Hormat saya pada tim pengamat.

Oh ya, sangat salut kepada para pengamat sinema elektronik dan FTV. Menurut saya mereka adalah orang-orang yang tangguh. karena harus mengamati sinetron dan FTV yang jumlahnya lebih banyak dari film layar lebar. Durasi yang lebih panjang. Setiap hari dengan ide yang sama (alias mononton). Mengamati perkembangan akting  pemeran. Membandingkan akting aktor tersebut dengan peran sinetron sebelumnya.

Sering kali kualitas sinetron bisa ditebak dari judulnya.  Tetapi para pengamat ini bisa dengan jeli mendapat FTV yang terpuji.  Sebuah kerja keras.

Hal yang selama ini mengapresiasi sinetron adalah rating. Maka, tidak heran jika banyak yang mengatakan sinetron adalah pembodohan. Itu mungkin karena para praktisi sinetron tidak mendapat apresiasi yang baik.

Banyak rumah produksi yang mengejar rating dan tidak mengindahkan kualitas konten.

Semoga dengan kehadiran FFB bisa mengapreasi dan memberikan tontonan yang lebih layak di Televisi. Mendengar Pidato Mbak Lintang sebagai pemenang penulis Skenario Terpuji Film Televisi – FFB 2017, saya sangat terharu.

Betapa sulit mereka membuat Film Televisi yang bermutu.

Festival Film Bandung

Pemenang Penulis Skenario Film Televisi Terpuji

Sebagai warga Bandung yang senang menonton, Saya mengibaratkan tontonan sebagai  sebuah kendaraan. Menonton bukan sekedar menghibur lagi bagi saya.

Bagaimana produk Korea membombardir pasar kita? Dari mulai produk elektronik, pakaian, wisata hingga bisnis kecantikan. Semua diawali dari tontonan. Maksudnya kurang lebih begitu. Film akan ‘membawa’ sebuah tujuan. Disamarkan oleh hiburan.

Melalui film kita bisa mengenalkan keanekaragam budaya yang kita punya pada dunia. Kuliner, gaya hidup dan banyak lagi.

Bagi saya Festival Film Bandung adalah aset. Sudah sepantasnya  kita mendukung dan menjaganya. Sesuai dengan tema pada perayaan FFB ke 30 kemarin, “Berjaya untuk Selamanya.”

Harapan saya FFB akan selalu ada. Berjaya untuk selamanya. Memberikan kontribusi  terbaik pada tanah air. Karena baik film layar lebar, sinetron, film pendek memberikan dampak nyata. Sudah tidak boleh dipandang sebelah mata.

Bapak Gubernur Jabar saat ini sangat support pada FFB. Saya berharap pada pemerintahan (Pemprov Jabar) mendatang, untuk tetap mendukung kelangsungan FFB. Tidak ketinggalan harapan pada Pemkot Bandung. Bagaimana pun FFB turut mengharumkan kota Bandung. Jangan biarkan FFB bergerilya sendirian. Padahal manfaatnya dirasakan oleh banyak pihak.

Jayalah terus FFB.

 

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di fenomena, Film dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke [Festival Film Bandung] : Harapan dan Berharap

  1. Mia berkata:

    FFB itu tentang film indie bukan?? Atau flm nasional.. ?

  2. Raja Lubis berkata:

    Mantap tulisannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s