Sombong

Sombong

Begitu kata teman saya, setelah saya tidak merespon broadcast yang dia bagikan. Awalnya dia membagikan hanya digrup (whatsapp). Lalu karena saya sering kali tidak merespon. Walaupun hanya sekedar memberi jempol sebagai tanda, apa yang dia bagikan bermanfaat. Akhirnya dia bergerilya dengan japri.

Saya hanya tersenyum saja ketika divonis sombong. Soalnya itu tidak seberapa. Sejak media sosial turut serta dalam ajang pemilihan. Men-cap seseorang itu sangat mudah. Sombong mah biasa saja. Lalu-lalu saya sampai ditanya kadar “kewarasan”. “Apakah saya sehat?” “Bodoh!”  Dan lain-lain. Gara-gara saya menjawab pertanyaan, siapa yang akan saya pilih. Sekarang pertanyaan seputaran memilih calon pemimpin menjadi jebakan pada tingkat kewarasan dan kesehatan metal. Jadi kalau ada yang bertanya seputaran pemilihan lebih baik tidak dijawab saja.   

Pesan kebajikan menggunakan emoticon bunga, pelangi, embun, kura-kura begitu mudah disebarkan. Tetapi entahlah saya kok, menjadi muak. Muak dengan kata-kata bijak.Terlebih lagi saya mengetahui orang yang menyebarkan jauh dari nilai-nilai kebajikan yang dia sebarkan. Ok lah, boleh dikatakan orang itu agak menyebalkan. Pisssss…… 😀

Pernah saya protes, karena postingan yang disebarkan disadur dari sebuah cerpen klasik dari seorang penulis kenamaan. Hanya diganti nama-namanya lebih agamis. Dia hanya tersenyum-senyum saja, karena sesungguhnya dia pun mendapatkannya dari orang lain yang sumbernya  tidak jelas. Dan dia tidak tahu kalau itu cerpen. Menurut dia adalah kisah nyata. Selain menyadur cerpen banyak juga kisah-kisah lain yang disadur dan mendapat perlakukan kurang lebih sama.

“Mungkin dia ingin jadi penceramah…” kata teman saya yang lain. Yang sama-sama jengah dengan pesan-pesan bijak.

“Iya atuh, kalau jadi penceramah mah gak perlu sertifikasi.” Timpal teman saya satunya lagi. Yang sedang pusing harus mengikuti sertifikasi dan masa berlakunya cuma dua tahun. Teman saya ini pernah berkomentar dengan menulis, bahwa pesan-pesan kebaikan seperti itu. Yang terselubung dalam balutan tema inspirasi pagi, amalan hari Jumat, Senin, Selasa dan hari lainnya lebih baik diamalkan bukan disebarkan. Lalu direspon dengan ‘sadis’ oleh teman saya yang menyebarkannya.

Sekelumit kisah ini akhirnya saya memutuskan untuk tidak menghiraukan kisah-kisah seperti itu lagi. Siapa pun yang menyebarkannya. Yaa… hukum nila setitik akhirnya mempengaruhi saya dalam menilai penyebaran pesan berantai. Ma’afkan lah!

Karena menurut pemikiran saya (pribadi), peyebarkannya saja sepertinya tidak memahami isi pesan yang terkandung. Nilai-nilai apa yang ada di dalamnya. Jadi mentah begitu saja. Itu penyebar yang saya ketahui penampakannya langsung. Apalagi penyebar yang tidak tampak. Gak adil ya … saya ini?

Sekarang saya lebih suka memperhatikan sekeliling untuk mendapatkan kisah-kisah bijak. Lalu saya simpan dalam otak sebagai pelajaran untuk saya. Misalnya ketika pergi bekerja dan bertemu dengan para pedagang buah dari Pasar Induk Caringin. Mendengarkan mereka tentang analisis pasar. Di mana di pintu angkot bergelantungan para pengamen yang menyatakan seolah-olah kami pelit untuk sedekah.

Melihat pasangan lansia yang sedang berjalan kaki. Banyak kisah yang mereka ceritakan. Lucu,unik dan membuat mereka langgeng sampai sekarang. Semoga mereka tetap sehat.

Melihat dua anak yang sedang mengumpulkan sampah plastik. Mereka bergantian mendorong gerobak di sepanjang jalan Kopo. Menurut saya apa yang saya lihat itu lebih inspiratif dari sekedar kata-kata.

Kisah inspiratif

Dua Bersaudara saling bantu mengumpulkan sampah

Kedua teman saya yang sama-sama jengah dengan dunia kata-kata bijak akhirnya mengikuti jejak saya. Berhenti menghiraukan bahkan mem-bisukan nama-nama teman yang sering japri bergerilya untuk menyebarkan “kata-kata”. Tanpa takut akan dicap sombong.

“Sombong buat orang sombong itu ibadah,” teman saya berkelakar.

 

 

 

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di #1minggu1cerita, fenomena dan tag , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Sombong

  1. gamazet berkata:

    Ada juga yang bilang sombong buat orang sombong itu sedekah.

  2. Arha berkata:

    Kalo sy pribadi, menyebarkan pesan kebajikan nggak pa2 asal tau waktu dan kondisi saja. Soalnya pesan kebaikan yang dikirm terus menerus tnpa memperhatikan kondisi penerima pesan, malah akan membuat pesan kebajikan itu jd spam. Saya prnah bilang terus terang ke teman yg suka kirim pesan seperti itu terus menerus dan tak tahu waktu, kalo saya akan memblokir dia krna sering mengirim pesan spam. Dan si dia nya cuma bilang kalo tak apa di blokir, krna yg ia lakukan adalah sebuah kebaikan. Akhirnya hbungan sy dan dia jadi kurang baik sekarang hikss…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s