[BUKU] Payung Butut

Cerita dalam buku ini diberi kategori sebagai Roman Pondok (Pondok=pendek, bhs. Sunda). Hasil Karya  Akhmad Bakri, seorang penulis kebanggaan orang Sunda. Karya-karyanya sering mendapat penghargaan, termasuk Payung Butut yang memenangkan Sayembara Mengarang yang diadakan oleh IKAPI pada tahun 1967.

Payung Butut bercerita tentang Bapak Naib* yang bangga karena berdarah biru. Kepada siapa saja dia akan menceritakan silsilah keluarganya yang masih keturunan bangsawan. Berharap dengan silsilah tersebut orang-orang akan menaruh hormat kepadanya. Apa yang terjadi justru sebaliknya. Malah banyak pemuda menjadikannya sebagai bahan anekdot. Silsilah keturunan yang dia ceritakan sukar untuk ditelusuri, sering kali membuat bingung yang menyimak.

Karena kesombongannya itu, Bapak Naib tidak ingin keturunannya terkotori dengan ‘darah biasa saja’. Sampai suatu hari Anak gadis Bapak Naib harus menjalani operasi usus buntu dan harus mendapatkan transfusi darah.

Tema roman ini sederhana. Bahasa Sunda yang digunakan mudah dimengerti, tetap enak dibaca di zaman now. Oh iya, karena sekarang penutur bahasa Sunda itu semakin berkurang, jadi banyak yang mengatakan kalau bahasa Sunda itu susah. Padahal tidak juga kok, mungkin kita akan melihat ada beberapa hurup yang dipakaikan aksesoris, seperti penulisan dalam bahasa Prancis.

Agul Ku Payung Butut

Roman Payung Butut

Berlatar pada tahun 1950 – 1960 an, membawa kita bisa berkhayal suasana kegiatan Urang Sunda pada masa itu. Seperti diceritakan pada halaman 17. Suasana pada bulan puasa. Bagaimana cara memberikan informasi pada khalayak ramai waktunya berbuka puasa. Ketika zaman sosial media belum tiba. Ketika Televisi masih langka.  Secara umum, Bapak Naib ini akan memberikan aba-aba kepada para pemuda yang bertugas memukul bedug. Pada waktu itu tidak semua orang mempunyai jam (baik itu jam tangan atau jam dinding). Jadi mereka bergantung pada aba-aba Bapak Naib.

Suatu sore di hari yang mendung. Para pemuda menunggu waktu berbuka puasa dengan gelisah. Karena langit tidak bisa dibaca oleh mereka. Sehingga tanda waktu berbuka benar-benar bergantung pada Bapak Naib.

Mereka menjadi was-was melihat Bapak Naib yang terlihat tidak bergerak. Berbeda dengan Bapak Naib sebelumnya yang suka berbaur. Bapak Naib keturunan bangsawan ini menunggu waktu buka dengan duduk di kursi goyang. Lenyeh-lenyeh sambil memegang arloji di teras rumahnya. Rumah Bapak Naib, dekat dengan mesjid dan terhalang oleh alun-alun.

Maka ketika tangan Bapak Naib bergerak, para pemuda itu langsung sigap memukul bedug. Sebelumnya mereka menjejalkan makan dulu ke mulutnya untuk membatalkan puasa.

Suara bedug sontak membuat Bapak Naib terbangun. Kaget dan langsung memarahi mereka.  Begitu pula dengan para pemuda. Mereka terkesima. Tidak bisa memberikan alasan karena mulut penuh dengan makanan, ketika Bapak Naib meminta pertanggung-jawaban atas perbuatannya itu. Padahal magrib masih setengah jam lagi.

Kondisi yang menggambarkan Bapak Naib, sering kali disebut Agul ku payung butut. Peribahasa Sunda yang menggambarkan seseorang  yang suka membangga-banggakan diri sebagai keturunan menak/bangsawan. Misalnya ada seseorang yang mengaku-aku keturunan raja Astina. Tujuannya tentu saja agar menjadi orang terpandang.Ya, boleh-boleh lah menyebut keturunan raja Kurawa kalau masih kurang greget.

Jika Agul ku payung butut,  menggambarkan kondisi seseorang yang sombong sebagai keturunan darah biru. Adean ku kuda beureum, adalah peribahasa yang berarti sombong alias suka pamer dengan benda kepunyaan orang lain, bukan miliknya. Atau mengaku-aku miliknya.

Yang pasti keduanya enggak banget lah yaaa… walaupun katanya, sombong untuk orang sombong itu ibadah. Tetapi tulisan ini dengan sombong saya pamerkan di #1minggu1cerita. Dalam rangka #rebonyunda. Upaya melestarikan bahasa Ibu. Saya baru bisa sebatas membaca dan belum bisa menulis dalam bahasa Sunda. Kecuali menulis status di medsos. 😀

But, Saya yakin di setiap daerah di Nusantara pasti ada upaya untuk melestarikan bahasa Ibu masing-masing.

 

* : Naib; merujuk KBBI naib adalah naib/na·ib/ n 1 wakil; pengganti; 2 penghulu urusan agama Islam; — ketua wakil ketua;
— laksamana ark laksamana muda

 

Judul buku : Payung Butut

Diterbitkan pertama kali tahun 1968, cupumanik

Terbitan kedua, 1984 oleh Rahmat Cijulang

Citakan ke-1 Kiblat Buku Utama, 2013

ISBN 978-979-8002-38-0

Rebo Nyunda

Payung Butut

Buku ini bisa diperoleh melalui facebook Kiblat Buku Utama

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di #1minggu1cerita, buku dan tag , , , . Tandai permalink.

19 Balasan ke [BUKU] Payung Butut

  1. Rara Febtarina berkata:

    dapet darimana bukunya teh?

  2. gamazet berkata:

    Paribasa sunda dugi ka kiwari masih tiasa digunakeun

  3. armitafibriyanti berkata:

    Aku sudah tinggal di Bandung sekitar 6 tahun, tapi bahasa Sundaku masih belat betot 😀

  4. hani berkata:

    Kayaknya menarik ya bukunya. Saya yg puluhan tahun tinggal di Bandung dan ga bisa-bisa (ga berani) bicara bhsa Sunda lemes, bakalan ngerti ga ya?…

  5. Rina Darma berkata:

    Bisa jadi buku bacaan sekaligus belajar bahasa sunda ya

  6. Herva Yulyanti berkata:

    aku lebih familiar sama adean ku kuda bereum dan agul ku payung butut nembe terang teh hahahaha..

    basa sunda emang gampang2 susah tapi buat aku bnyk susahnya drpd gampangnya 🤣

  7. lendyagasshi berkata:

    Wahh…ada buku berbahasa Sunda.
    Bagus buat aku ((imigran..wkkwk)) yang pingin belajar bahasa Sunda.

  8. Teh, aslinya pengin baca bukunya.
    Ada temen yang nyari-nyari buku Sunda juga. Jadi keingetan buat rekomendasiin.

  9. CatatanRia berkata:

    Latarnya tahun lampau ya, jd penasaran cerita sunda dijaman baheula

  10. Yasinta Astuti berkata:

    Udah lama pisan ga baca buku berbahasa Sunda. RIndu jadinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s