Minggu Pagi di Museum Sri Baduga

Minggu pagi, mentari masih tertutup awan. Jalan Caringin, Kopo dan sekitarnya masih lengang. Terlihat beberapa angkot ngetem di pengkolan.

Orang-orang lebih memilih berlari atau bersepeda menuju lapangan Tegalega. Saya bersama Gita terjebak di salah satu angkot yang ngetem dekat perempatan Kopo. Beberapa meter dari pintu keluar terminal Leuwi Panjang. Perempatan itu, entah post ke berapa untuk dijadikan tempat ngetem. Ajaibnya, selain ngetem, kami berdua dipaksa untuk mendengarkan ocehan Mamang angkot. Beliau curhat betapa Pemimpin sekarang. Gak adil. Tidak ada keberpihakan. Masa bikin trayek baru lagi. Bis kota lagi, ongkosnya lebih murah lagi. Pakai AC lagi. Dan lagi, dan lagi.

Aaaaah, tapi ma’af Mamang, saya justru menyambut gembira trayek baru itu. Mungkin Bapak pemimpin berpihak kepada rakyat jelita yang suka menderita karena transportasi umum. 

Mengapa?

Karena saya juga tidak perlu kesal ikutan ngetem di pengkolan. Belum lagi beberapa pengamen yang ikut show di pintu angkot. Pakai background kepulan asap rokok. Dramatis. Memang.

Sedikit drama, akhirnya kami sampai juga di Museum Sri Baduga. Suasana masih sepi. Taman Tegalega juga masih tertutup seng. Entah kapan akan dibuka. Belum terlihat tanda-tanda. Mau wisata kuliner dulu, takut tidak keburu. Padahal di sana ada surabi enak. Bahannya tepung beras, topping-nya masih original. Bubuk oncom.

Hari Minggu, keponakan saya, Gita akan belajar nari. Tarian Sunda klasik. Jadi nih, kawan-kawan yang mencari les menari bisa datang ke museum Sri Baduga.

Les tari diadakan setiap hari Minggu. Mulai pukul delapan pagi sampai jam sebelas. Karena Gita ikut private, jadi dia mulai lebih pagi.

Pusbitari

Belajar Tari Sunda Klasik

 

Di sini, gerakan tari diajarkan dari paling dasar. Dari mulai cara berdiri, berbagai macam posisi kaki, gerak tangan, rengkuh (agak susah nih translate-nya 😀 ), dan masih banyak lagi. Oalaaaah… ternyata, walau terlihat anggun gemulai gerakannya, ternyata bikin keringetan. Pantas saja badan mereka bagus-bagus. Tidak perlu diet atau nge-gym. Menari bikin ngos-ngosan rupanya. Dengan gerakan-gerakan yang agak njelimet gak perlu susah-susah ikutan body shapping.

Range usia yang mengikuti les tari antara 6 hingga 15 tahun. Dari SD sampai SMA. Seru lho, menyaksikan mereka nari. Dan saya salut pada mereka karena mau ikut melestarikan seni tradisi. Termasuk para orang tua yang mengizinkan anak-anaknya untuk belajar menari.

Tempat les tari di Bandung

Lokasi Museum Sri Baduga

Pendaftaran dibuka setiap saat. Tinggal datang saja ke Museum Sri Baduga, seberang lapangan Tegalega. Temui Teh Wiwin atau Teh Ipoy, pupuhu di sana.  Uang pendaftaran sebesar Rp100.00,- dan iuran perbulan Rp100.000,-

Les Tari Sunda Klasik

Belajar Tari Sunda Klasik

Oh ya, tidak hanya les nari, di Sri Baduga aja juga les penca silat. Kalau main ke Sri Baduga minggu pagi, serasa kita ditarik ke masa di mana para putri menari dan para ksatria sedang belajar bela diri.

Berhubung kemarin saya terpukau dengan penari-penari cilik ini. Hingga lupa mau tanya-tanya tentang penca silat. Hmmm… nanti kalau nganter nari lagi saya tanya-tanya deh..

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di #1minggu1cerita, Blogger Bandung, Familie dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s