YOWIS BEN : Ter-encep Nasional

Ketika pertama muncul potongan YoWis Ben pada saat nonton Dilan 1990. Saat itu saya sudah berniat untuk menontonnya. Saya berharap pas kemunculannya, kondisi saya sedang tidak huru-hara, jadi bisa meluangkan waktu untuk menonton.

Bukan genre komedi, alasan saya nonton film ini. Atau Kehadiran Brandon Salim (hehehehe…), saya penasaran apakah penggunaan bahasa daerah (Bahasa Jawa, dialek Jawa Timur please CMIIW) akan digunakan utuh. Setidaknya mendominasi dialog dari awal sampai akhir. Atau hanya mengadopsi logatnya saja. Seperti yang sudah-sudah. Sedangkan kontennya tetap bahasa nasional.

Apakah salah menggunakan logat daerah tetapi kontennya bahasa Nasional? Bukan tentang salah atau benar. Da aku mah atuh bukan hakim yang bisa memutuskan perkara salah atau benar. aku mah cuma penonton. Penonton berbayar apalagi. Bukan pisan.

YOWIS BEN

Bukti saya bayar 😀

Menggunakan bahasa daerah dalam satu durasi utuh sepertinya tantangan besar. Kalau cuma logat doang mah sudah mainstream. Sudah banyak itu mah. Nanti malah bias, ini film apa sinetron. Gak ada greget-gregetnya. Hahahaha…

Terus cenah nanti ada ke-khawatiran kalau pakai bahasa daerah, penontonnya bakalan roaming. Bikin otak jadi ruam. Entar jidatnya bruntus. Ya, enggak lah… Apan sudah ditemukan sebuah teknologi canggih yaitu yang namanya teknologi sub-tittle… 😀

Yang Korea aja bisa ngerti kan yaaaa… Apalagi ini. Gampil.

Pada suatu kesempatan Bayu, bassist Yo Wis Ben, mendapati dirinya dalam temu penggemar ‘dadakan’ di alun-alun kota Malang. Para fans yang tergabung dalam YWBFC United menanyakan kapan Yo Wis Ben akan mengadakan pertunjukan lagi. Pertanyaan itu, dijawab oleh Bayu dengan pilu. Bahwa Yo Wis Ben sudah bubar.

Para anggota YWBFC United tentu saja kecewa mendengar kabar itu. Lalu mereka meminta penjelasan langung pada Bayu mengapa hal itu bisa terjadi.

Selain bahasa yang digunakan, alur mundur (flash back), eh campuran deng… alurnya jadi maju. Tema di film ini cucok buat dedek-dedek abege yang dilanda galau. Gak merasa pede, Gak merasa jadi something.

Semoga setelah beres UTS, film YO WIS BEN Masih ter-encep nasional di bioskop terdekat kita semua.

Bayu dan Doni memutuskan melakukan perubahan agar tidak selalu dipandang sebelah mata. Mereka sepakat membuat Band.

Ide mereka tentu dicemooh oleh teman-temannya. Bagaimana seseorang yang ‘biasa’ saja bisa berhasil membentuk Band.  Tetapi mereka maju, terus. Ada Yayan yang menjadi satu-satunya calon tunggal drummer. Yayan adalah pemukul bedug dalam kesehariannya. Lalu Nando, yang direkrut dengan sedikit drama.

Dengan segala keterbatasan mereka. Gak populer, gak pinter, terus yang terusik karena punya ganteng maksimal, yang berbeda dari kebanyakan. Tidak usah minder. Begitu cenah. Mereka berhasil mematahkan sangkaan -sangkaan sebelumnya. Termasuk salah seorang juri yang sempat merendahkan band mereka.

Saya suka film ini, karena cerita dan tokohnya tidak melulu galau karena gebetan disabet sama yang lebih popular. Tetapi menjadi diri sendiri yang bermanfaat (punya prestasi).

Di film ini kita akan belajar menghadapi dinamika persahabatan. Betapa tidak mudah  mempertahankan kekompakan satu persahabatan. Dan bagaimana band ini menghadapi gangguan, ancaman, hambatan dan tantangan. Laaah… Kenapa ini malah seperti nulis tugas pendidikan kewarganegaraan.

Jadi sok.. Mangga geura nonton film ieu.

Terus kalau emak-emak dan tante-tante gak cocok gitu nonton film ini? Iiiih, enggak atuh. Cucok-cucok saja. Kan, bisa lihat-lihat kecantikan kampung warna-warni di Malang. Museum angkut. Dan yang utama adalah memahami apa gerangan sih, yang sedang dialami sama anak-anak abege sekarang.

Berikut ini beberapa adegan yang menjadi favorit saya suka.:

  1. Munaslub Yo Wis Ben yang diadakan di balkon kediaman Bayu. Diputuskan untuk membeli kamera agar YoWis Ben bisa ditonton orang banyak (via You Tube). Harga Kamera 4 juta. Masing-masing iuran satu juta. Dengan uang jajan yang terbatas, Doni (Joshua Suherman) akan membobol kartu kredit orang tuanya. Nando (Brandon Salim) akan mengambil uang dari mesin kasir Bapaknya. Yayan (Tutus Thomas) yang religus akan menggodol kotak amal. Bayu (–SKAK), kebingungan. 😀 . Suka banget lah eksekusi dari kegalauan dari situasi ini.
  2. Ketika Yayan meminta izin kepada Bapak Nando (Richard Oh), mencari mesjid untuk menunaikan sholat. Bapak Nando malah mempersilahkan Yayan untuk sholat di tempat yang mereka sediakan. Meskipun Keluarga Nando berbeda keyakinan
  3. Lagu-lagunya. Ini enak pisaaan…. Kayaknya bakal jadi anggota YWBFC United garis keras. Sampai … Ora Iso Turu

Sebetulnya banyak adegan dan dialog favorit saya, tapi menurut saya mah lebih baik nonton saja. Siapa tahu akan mendapat adegan favorit sendiri.

Adegan yang mengganggu?

Ada juga sih, cuma gak usah dibahas lah. Totally Film ini bagus. Kalau disuruh kasih Bintang (duuuh, berasa naik Ojek Online yaaaa…. ), saya kasih 4,5 deh dari 5.

Terakhir, saya hanya ingin menyampaikan kesalutan kepada tim kreatif yang sudah membuat film ini. Pasti banyak tantangan. Walaupun saya orang Sunda, saya menikmati film ini dengan baik. Makin berasa banget, Indonesia kaya.

Semoga semakin banyak lagi film-film daerah yang tampil kepermukaan. Eh, dulu ada “Uang Panai” jadi pioneer, menggunakan bahasa daerah. Film bukan sekedar menghibur, tetapi sekaligus menginspirasi dan menjadi kendaraan untuk memperkenalkan daerahnya masing-masing. Indonesia Kaya! Senang banget nontonnya. Asyiik pisan.

Kepada Brandon Salim yang sangat berbeda ketika menjadi Benny dan sekarang menjadi Nando dengan logat menggemaskan.

Begitu juga kepada Bayu Skak dan Joshua dan lain-lainnya. Terutama yang nulis skenario, nulis lagu-lagu-nya, sutradaranya.

Ah, pokoknya pada semua yang terlibat di dalamnya. Awosome!!

Sutradara : Fajar Nugros, Bayu Skak

Pemain:  Bayu Skak, Brandon Salim,Joshua Suherman, Tutus Thomson,Cut Meyriska, Arief Didu dan lain-lain

Durasi: 99 menit

Genre: Drama, Comedy

YWBFC United = YoWis Ben Fans Club United.

 

 

 

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di #1minggu1cerita, fenomena, Film dan tag , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke YOWIS BEN : Ter-encep Nasional

  1. Firda Winandini berkata:

    saya juga penasaran nih sama film ini hehe, kayanya lebih banyak bikin ketawanya ya Teh ? hehe

  2. raynorkayla berkata:

    Hahhaa….belum nonton n baru baca ini aja udah kepengin ngakak deh, hahahaa….kebayang mukanya si Joshua n jawa yang medhok banget itu sama jalan cerita filmnya, pasti emang bikin ngakak, wakakaka

  3. annisaaica berkata:

    Saat pertama kali liat cuplikan filmnya udah ngerasa kalau film ini akan keren sih. Apalagi bahasanya pake bahasa daerah dan pemerannya anak2 muda.
    Tapi kayanya nunggu di tipi aja nontonnya, ga sempet. Hehe. #baladaemakpunyaanakbatita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s