Hitam dan Putih

Beberapa minggu lalu, saya membaca cerita tentang Karna. Sebagai pembaca wayang amatir, saya mengenal Adipati Karna sebagai sosok yang jahat. Sebabnya saya men-cap begitu  karena dia berada di kubu Kurawa. Pasti pernah dengar lah yaa…itu Kurawa genk apa.

Semisal kita datang berombongan terus menghabiskan seluruh hidangan lalu sok ada yang nyeletuk, “tadi ada gorombolan kurawa.” Kitu cenah..

Tapi da kalau wayang itu harus dibaca cerita utuh. Sejak mendengarkan Mamaos Cianjuran yang berjudul Ceurik Rahwana, saya kembali merenungi”ari Rahwana Teh, jahat kitu…??

Baru tarap merenungi, torojol ada buku Rahvayana karya Djunjungan Sujiwo Tejo. Meski bolak-balik agar bisa memahami karyanya, maklum atuda masih IQ melati, belum taraf IQ bintang tujuh.

Saya bukan lagi mikiran kisah cinta Sinta dan Rama yang menyaingi Romeo dan Juliet. Atau bisa-bisana eta Rahwana jadi pebinor. Saya malah kepikiran soal warna hitam identik dengan kejahatan. Black magic, black swan, kambingna hitam, pasar gelap.

Bagaimana jika warna putih yang membawa simbol kebaikan dipakai juga untuk melakukan kejahatan. Saruman penyihir kasta tertinggi di Lord of the Ring adalah penyihir putih. Tapi dia jahat minta ampun. Mengubah para Peri (teman-teman Legolas) menjadi Pasukan Urk-hi. Raja tega. Kelakuan dan penampakannya berbanding lurus. Sama-sama nyeremiin.

Hitam dan Putih

Abu-abu

Putih suci, Hitam jahat. Gandalf penyihir abu, lalu naik tingkat menjadi penyihir putih. Padahal hitam adalah pelindung semua warna. Jangan takut akan gelap…. kata Om Duta Sheila on 7 juga.

Tulisan yang diunggah di Pesbuk, di sini tentang Adipati Karna seakan menjawab penasaran saya. Mengapa orang tega berbuat jahat.

Karna adalah Kakak tertua para Pandawa. Lain ayah. Dia adalah anak hasil di luar pernikahan Dewi Kunti dengan Dewa Surya. Karena Malu, Karna dibuang lalu dipelihara oleh seorang Kusir. Karna tidak tahu bahwa dirinya seorang ksatria. Tetapi tingkah lakunya mencerminkan seorang Ksatria. Ciri-ciri Ksatria itu katanya adalah amanah, fathonah dan… eh, salah yaaah????

Lanjut lagi tentang Adipati Karna.

Karna di-bully sana-sini, termasuk oleh saudara-saudaranya sendiri. Yang tidak lain tidak bukan para Ksatria Pandawa.  Karna menjelajah untuk berguru. Diusir oleh banyak guru pula karena dia bukan Ksatria dan hanya anak kusir jelata. Lalu ada satu orang yang sangat menghargai Karna. Yaitu Prabu Duryudana (Raja Kurawa). Jadi tidak heran jika Karna rela mati untuknya.

Pokoknya kitu weh, mending buka link-nya kalau penasirun sama riwayat Adipati Karna.

The power of mem-bully. Adalah cikal bakal yang mampu mengubah seseorang. Kebanyakan menjadi jahat, hasil akhirnya.

Senasib dengan Adipati Karna (bukan Adipati Dolken yaaa… ) adalah Magneto (X-Man) dan Anakin Skywalker (Starwars). Untung mereka cuma tokoh rekaan.

Eh, tapi penembakan brutal dengan anak-anak SMA di Amerika motifnya. Pelaku pernah di-bully. Terus kalau tidak salah di Garut ada  yang dibunuh gara-gara ditanya-in terus kapan kawin. Semua gara-gara bully.

Apa saya juga sebetulnya berjiwa kurawa tapi berada di sisi Pandawa. Tanpa sadar ikut mem-bully. Jangan-jangan kita bagian dari alasan mengapaorang itu menjadi jahat.

Ehhh, enggak atuh yaaa, kan kita mah  warganet yang baik dan taat bayar pajak 😀

note :

Cianjuran adalah kesenian tradisional Sunda. Alat musik yang digunakan Kecapi, Suling dan Rebab. Kecapi yang digunakan biasanya berbagai macam. Tidak satu.

Ceurik Rahwana berisi tentang permintaan ma’af Rahwana pada istrinya (Banondari) karena tergoda oleh Dewi Sinta.

Istilah yang digunakan bukan menyanyikan tapi mamaos. Syair yang dilantunkan berisi petuah-petuah yang harus dilenyepan atau direnungkan.

sumber foto : i2.wp.com

 

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di #1minggu1cerita, Me dan tag , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Hitam dan Putih

  1. Yayu arundina berkata:

    Tulisan yang menarik. Bisa jadi yah ada karna lain sekarang 😉😀

  2. niaharyanto berkata:

    Wah wah, cerita wayang. Saya tahu semua cerita wayang dari alm. bapak. Termasuk tokoh Karna. Aku sebenernya kasian sama Karna, karena keadaan, dia jadi jahat. Tapi, begitulah hidup. Apalagi di dunia nyata. Segala kemungkinan bisa terjadi. Eh btw, alm. bapak juga seneng mamaos. Duh, jadi kangen bapak. Alfatihah. 😥

  3. Dian Andari Yuan berkata:

    Duh, saya kurang baca tentang perwayangan. Jadi pengen tahu tentang perwayangan. Makasih infonya ya, Teh. 😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s