Kepingan

Hidup adalah kepingan pilihan.

Sejak bangun tidur kita dihadapkan pada pilihan. Apakah mau mandi atau berleha-leha dulu dalam selimut. Secara Bandung dalam kondisi muncicid. You know muncicid?? I’ll tell you later.

Setelah mandi, bersih-bersih dan rapi dihadapkan pada pilihan mau sarapan apa? Nasi uduk, nasi kuning, bubur aya atau kupat tahu. Walaupun pada kenyataannya tidak sempat kepikiran sarapan. Lulumpatan (berlari) mengejar angkot karena kesiangan (euugh, ini mah saya ketang). Ujung-ujungnya hanya sempat membeli gorengan atau cilok saja.

Saya jadi teringat ketika melabuhkan hati pada seseorang. Ketika orang-orang mengatakan mengapa kamu dadaekanan sama si eta. Dia mah begini, begitu dan sebagainya. Karena hati tidak memilih tapi tahu kemana harus berlabuh (prinsip waktu itu) saya keukeuh menjalaninya. Saya merasa yakin dengan keputusan saya.

Berkat saya, dia jadi anak baik. Orang mengenalnya sebagai bad  boy. Saya mengubahnya menjadi good boy. Seperti cerita FTV begitu lah. Bangga luar biasa. Merasa jadi sesuatu bagi seseorang.

Sampai ada seorang perempuan yang tiba-tiba meminta pertolongan pada saya. Kata dia tolong, akui anaknya. Mau bikin akte, buat syarat masuk sekolah. Wah, saya rada kaget-kaget gimana begitu. Dan yang membuat saya makin terpukul adalah ketika sang mantan, malah memberikan jawaban. “Mungkin dia bukan anak aa, kan gak sama aa saja.”
Wah, itu mah langsung il-feel. Entah kumaha (bagaimana), pokoknya saya merasa bodoh kacida (sangat). Drama pisan (sangat). Kalau mengingatnya sekarang suka jijik sendiri. Benar kata orang-orang. Dadaekanan (mau-maunya).

Saya akui ternyata pilihan saya salah. Eh, salah. Saya mah kan tidak memilih. Hati saya salah mencari tempat berlabuh. Intinya drama percintaan ala FTV itu gak cucok buat saya.Kalau jadi tayang di FTV Judul nu pantes-nya apa atuh yah??

“Anakmu bukan anakku”

Itu meureun (mungkin).

Ada saatnya pula kita dihadapkan pada situasi tidak bisa memilih.

Seperti sepasang kekasih. Sang lelaki belum bisa menikahi karena belum berpenghasilan. Sesuai prosedur standar. Membantu kekasih mencari peluang agar berpenghasilan adalah pilihan yang membuat riang gembira. Harapannya kan, nanti bisa menikah. Membantu orang yang disayang.

Kenyataannya sang lelaki ingkar, padahal dia bisa bekerja atas bantuan sang kekasih.

“Aku bisa saja tidak menerima tawaran dari kamu,” bela si Lelaki. Ketika sang perempuan menagih janji. “Aku bisa Bekerja di tempat lain. Bukan di tempat yang direkomendasikan kamu.”

Walaupun nyatanya lelaki itu bekerja sana. Di tempat yang direkomendasikan. Malahan di tempat itu semacam pekerjaan idaman sang lelaki selepas lulus kuliah. Profesi kekinian dengan jam kerja flexibel semaunya.

Sang Lelaki tetap tidak mau mengakui. Kalau dia bekerja atas bantuan sang perempuan.

1 Minggu 1 Cerita

Gak usah dikasih kepsyeen

Menyedihkan tetapi tidak perlu diratapi. Rasanya memang gak adil. Merujuk pada teori rezeki sudah ada yang mengatur. Tidak perlu menyesali karena membantu seseorang mencarikan peluang walaupun diingkari.

Karena Tuhan tahu mana yang hak dan yang bathil. Mana hak-nya. Mana janjinya.

1 Minggu 1 cerita

Pilihan Makanan

Memang yang paling menakutkan, resiko atas pilihan. Setiap pilihan yang kita pilih pasti ada resikonya. Bahkan ketika memilih untuk diam, pasti akan ada konsekuensinya. Apalagi memilih mengingkari.

*muncicid: Kedinginan amat sangat.

Iklan

Tentang bioeti

Blogger pemalu tingkat pemula Part of Blogger Bandung | KEB | Blogger Perempuan | 1 Minggu 1 Cerita reach me at bioeti@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di #1minggu1cerita, Blogger Bandung, cicit cuit dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kepingan

  1. Diah berkata:

    yaahh, karena hidup adalah pilihan, dan kita harus bisa bertanggung jawab dgn apa yg telah kita pilih.

    dapat kosakata baru nih, muncicid 😀

  2. gamazet berkata:

    ” Kapan mati ? itu tak bisa di ubah. yang bisa di ubah-ubah bagaimana menjalani hidup” gamz’quote 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s