woman empowerment

Karena Kebaikan Orang

Di awal bulan Agustus ini, ada dua kejadian yang tidak lekas hilang dari ingatan saya. Setiap kali saya mengingatnya, masih sulit untuk dipercaya.

Hari Senin pagi, sudah diniatkan dari beberapa minggu lalu. Saya akan mengambil beberapa foto di trotoar. TKP-nya di Leuwi Panjang sambil nunggu jemputan datang. Ketika saya sedang fokus memotret tiba-tiba ada seorang Aa yang nawarin saya Ojek. Saya menolak tawaran itu. Dengan menjawab pendek “gak”.   

Carita ti Khayangan
Suatu Sore di Jalan Bengawan

Agak kaget juga. Sudah bertahun-tahun nunggu di sana tiba-tiba ada yang nawarin ojek. Apalagi sekarang sudah banyak yang pakai ojek online. Rasa takut dan kaget membuat sikap saya jadi defensif (alias rada-rada judes). Tetapi setelah mendapat penolakan dari saya, Aa ojek tadi berjalan lagi. Kali ini penumpang yang turun dari angkot. Ditolak juga. Terus menghampiri Seorang Bapak yang menjingjing tas ransel. Ditolak lagi. Ada mungkin beberapa meter dari saya. Saya melihat dia begitu gigih menawarkan jasanya. Dengan persaingan dagang seperti sekarang.

Saya menangkap raut mukanya yang kelelahan. Saya menjadi merasa bersalah. Dalam pikiran saya jadi banyak drama. Bagaimana jika orang tua Aa Ojek sedang sakit? Atau mungkin istrinya? Atau anaknya? Karena kegigihan menawarkan jasanya. Sedangkan teman-temannya yang lain hanya bergerombol di warung kopi.

Aduuh, saya jadi menangis. Saya sudah jahat. Diam-diam saya mendo’akannya. Semoga hari ini Aa ojek dimudahkan mencari rezekinya. Jika ada keluarga sakit semoga segera disembuhkan. Tidak lupa saya memohon ampunan jika tadi saya juga ikut menolak. Saya memang tidak akan menaiki Ojek karena menggunakan jemputan dari kantor.

Dan sepanjang hari itu, saya beneran mellow dan merasa menjadi orang jahat.

Di Sabtu sore  sebelumnya, saya sangat gembira akan bertemu dengan kawan lama. Huhuhuy, asa ajaib gitu dia bisa ke Bandung. Tidak disangka-sangka hari Sabtu jadi ada reuni dadakan. Nah, karena kegembiraan saya tidak didukung dengan sinyal yang manteng. Di saat saya membutuhkan dengan sangat. Mendadak eta provider gak mau bekerjasama. Nge-whatsapp kotak saja. Telpon manual dibilangnya sedang sibuk. Begitu pun sebaliknya.

Teman saya nyasar karena sudah lama tidak ke Bandung. Jadi lupa jalan-jalan tikusnya. Mau nge-guide karena susah sinyal. Lup-lep begitu. Jadi sepotong-sepotong. Parahnya saya masuk kategori perempuan yang kemampuan membaca petanya pabaliut. Berniat menolong malah kebalikannya.

Saya pengguna kartu kuning. Ini provider rasanya memang harus di kartu kuning beneran. Soalnya sering juga pulsa saya dicurangi, katanya saya terdaftar jadi anggota ini itu. Padahal saya tidak merasa menyutujuinya. SMS dari nomor 5 digit yang mengenaskan. Eh, jadi curhat.

Ketika bertemu dengan riang gembira, saya masukin henpon ke saku jaket jeans. Dan seperti umumnya saku jaket jeans itu dangkal. Langsung cle, naik motor sama dia. Teman saya ini sejenis emak-emak yang menjalankan motornya beda tipis dengan Valentino Rossi. Nyempil-nyempil di antara bis. Itu mah hal biasa. Berhadapan dengan mamang sopir angkot mah, lewat laaah. Lumayan matak soak, apalagi kita duduk di bangku belakang. Cara berkendara teman saya ini hasil tempaan di jalur pantura.

Tepat di perempatan Kopo – Soekarno Hatta, ada kemacetan yang amat sangat stuck. Tiba-tiba dari belakang saya, ada pria yang membonceng wanita memanggil saya.

“Bu, ini HP-nya jatuh. Ini Hp ibu kan?” Kata dia sambil menyodorkan HP saya yang sudah uzur dan bocel-bocel.

Saya sangat terkesima. Pertama saya tidak menyadari kalau HP saya jatuh. Kedua ternyata masih ada orang berbaik hati. Mengantar HP seseorang asing pada pemiliknya. Mau bersusah payah mengenjar. Padahal saya bukan orang baik-baik amat. Rupanya  Ada seorang ibu melihat HP terjatuh dari saku jaket. Dia meminta bapak ini mengejar saya. Mengejar kehebatan teman saya menjalankan motornya di tengah himpitan bis.

HP sudah di depan mata, saya masih terpana. Ternyata masih banyak orang baik di dunia ini. Kalau mengingat perlakukan saya pada Aa ojek. Saya adalah bagian orang jahat. Jika tidak ada ibu dan bapak yang berbaik hati, saya tidak bisa meng-uplod cerita-cerita lagi sampai mendapat penggantinya. Berkat mereka saya masih diberi kesempatan untuk mengirim tulisan ini. Juga beberapa aktivitas lainnya yang harus dilakukan via HP uzur saya. Tidak lupa saya meng-uplod rasa terima kasih ini di status whatsapp. Biarin jika orang-orang yang dimaksud tidak dapat membacanya. Kejadian yang membuat saya rada-rada ngahuleng pada saat reuni dadakan.

** ngahuleng = jika digambarkan kurang lebih kondisi Nge-hang pada komputer atau gawai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s