Kita Butuh Hutan

Suka ada perasaan was-was kalau ngajak Kakang Prabu jalan-jalan ke pegunungan. Takut pulangnya tiba-tiba pilek. Demam. Nanti keluarganya komplen ūüėÄ . Gara-gara saya anaknya jadi sakit. Aheu heu heu heu…

Maklum saya dan Kakang Prabu tumbuh berbeda kebiasaan. Kalau saya suka apruk-aprukan. Kakang Prabu mah dibesarkan jauh dari kegiatan alam. Mau main ke pekarangan saja langsung dibalur Au**n. Bukan tipe jarambah seperti saya, dia mah ikut arus kekinian. Jalan-jalannya ke mall. Mau nanjak tinggal pakai ekskalator.

Berhubung sekarang Kakang Prabu berprofesi sebagai Mamang-mamang Coding, dan acap kali dia membaca kalau melihat yang hijau-hijau itu sangat disarankan untuk kesehatan mata. Lihat pepohonan maksudnya, kalau lihat uang juga gak apa-apa. Asal gak hanya lihat tapi bisa meng-keep :D. Dan Juga atas bujuk rayu yang tidak henti-henti, akhirnya Kakang Prabu mau diajak jalan-jalan ke pegunungan. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di fenomena | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Motor & Kasta

“Masa kerja bertahun-tahun, motor gak kebeli??!”

Selain pertanyaan ‘kapan kawin?’, ditanya kenapa tidak mampu membeli motor setelah bekerja (apalagi diembel-embeli bertahun-tahun) saya kategortikan sebagai pertanyaan menggelikan. Rasanya, sedang di-prospek oleh agen MLM.

Teman-teman saya yang sekarang sudah bertranformasi menjadi macan ternak alias mami cantik anter anak, wara-wiri mengantar anaknya pakai kendaraan bermotor. Baik itu roda empat mau pun roda dua. Dan kata mereka saya itu terlalu konsisten kemana-mana jalan kaki dan mengandalkan kendaraan umum. Padahal pemerintah saja tidak peduli dengan fasilitas publik ini. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di #1minggu1cerita, fenomena | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Serba Serbi Buka Puasa Bersama

Sudah memasuki minggu kedua puasa. Undangan buka puasa   bersama alias bukber alias bubar pasti sudah ngantri.

Undangan bukber teman arisan. Dari kawan sejawat karena minat. Dari rekan kerja agar team kerja makin solid nanti profit-profit-profit. Yesss hidup profit!

Demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, undangan dari jenis kelompok ini biasanya saya suka turut hadir. Apalagi kalau orang-orangnya bersinggungan setiap hari.  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di #1minggu1cerita, cicit cuit | Tag , , , | 3 Komentar

Netizen dan Empat Pilar Kebangsaan

Salah satu fenomena media sosial menurut saya adalah mampu mengeluarkan sisi ‘asli’ yang terpendam¬†dari diri seseorang. Misalnya seseorang yang begitu alim, lemah lembut di dunia nyata tetapi begitu ganas di dunia maya (media sosial). menyebarkan rayuan gombal pada lawan jenis. Berkata-kata tidak senonoh (kalau bahasa Sunda mah disebut¬†cawokah).

Contoh yang paling umum adalah seseorang yang terkenal pendiam dalam keseharian. Santun, shaleh, tidak pernah berkata kasar tetapi di media sosial berani mengutarkan kalimat-kalimat hujatan penuh kebencian yang kasar. Melibatkan binatang buas sampai kata-kata ancaman. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Blogger Bandung | Tag , , , , , , | 3 Komentar

Kesepian

Dalam KBBI kesepian (nomina) diartikan sebagai :

(1) keadaan sepi; kesunyian; kelengangan: radio itu dipasangnya keras-keras untuk mengusir -;
(2) perasaan sunyi (tidak berteman dan sebagainya)

Tetapi kalau di rumah, kesepian mengalami perluasan makna. Para bocah sering kali menyebut kesepian untuk mengungkapkan kondisi di mana mulut tidak mengunyah sesuatu. Sepi.

Siaga kesepian akan meningkat statusnya ketika formasi lengkap, alias para bocah ngumpul semua. Biasanya pada musim liburan tiba. Para bocah-bocah akan mengutarkan keluh kesah seputaran kekurangan pasokan cemilan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Blogger Bandung, Kuliner, Me | Tag , , , , | 2 Komentar

Inspirasi Patah Hati

Bertepatan dengan hari buruh, pada tanggal 1 Mei lalu, bertempat di Gramedia Jalan Merdeka Bandung. Digelar meet and great¬†“Luka dalam Bara”. Selain Bernard Batubara sebagai penulis Luka dalam Bara, acara dihadiri oleh Alvin sebagai ilustrator buku ini. Acara dipandu oleh Teguh Afandi yang sekaligus penyunting Luka dalam Bara. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Blogger Bandung, fenomena, Reportase | Tag , , , | 2 Komentar

[Review Buku] : Luka Dalam Bara

Luka Dalam Bara

Judul Buku: LUKA DALAM BARA

Ilustrasi sampul dan isi: @alvinxki

Penulis: Bernard Batubara

Penyunting: Teguh Afandi

Penyelaras aksara: Nunung Wiyati

Foto penulis: Pundan Katresnan

Penata letak: CDDC/NA

Penerbit: Noura (PT. Mizan Publika)

Cetakan: Kesatu, Maret 2017

Jumlah hal.: 108 halaman

ISBN: 978-602-385-232-1

“Bukankan rindu datangnya dari hati, dan hati adalah sesuatu yang bebas dan tidak memiliki kendali. Maka, tidak selamanya pula rindu menemukan penerima, dan tidak setiap saat rindu harus memiliki tujuan. Sebab, sekali waktu kita akan merasa bahwa rindu yang paling hakiki adalah rindu terhadap rindu itu sendiri.” (Hal. 74)

Entah karena kerinduan akan sosok istimewa  yang telah membuat dunia sang penulis warna-warni atau semacan terapi untuk patah hati sehingga buku ini lahir?

Kedua alasan¬†tadi tidak menjadi masalah. Tidak¬†¬†ada yang salah apakah penulis menulis untuk mengobati kerinduannya pada kekasihnya yang sekarang sudah berpisah. Atau penulis ingin berbagi sekaligus menularkan kegalauannya pada pembaca ūüėÄ Baca lebih lanjut

Dipublikasi di #1minggu1cerita, Blogger Bandung, buku | Tag , , , , | 1 Komentar

[The Fate and Furious] : Once again!

Alasan saya menjadi pengikut franchise film “The Fast and The Furious” itu cewek banget. Bukan tertarik karena mobilnya tapi pada karakter tokoh utama di film ini. Cewek banget pan?

Persis ketika perempuan ditanya alasan¬†mengapa dia memilih pasangannya. Pasti alasannya seputar : “Karena si aa¬†ini lebih dewasa lah, bertanggung jawab lah, perhatian lah, pengertian lah and the bray and the bray.

Beda jawabannya ketika cowok ditanya hal yang sama. Pasti jawabannya, “karena si Neng Cantik, kulitnya putih atau senyumnya manis. Karena langsing and so on, so on, so on, so oooon…” ¬†sampai duta sampo beralih menjadi duta salep. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di #1minggu1cerita, Familie, Film | Tag , , , , , | 4 Komentar

Happy April

Bulan April termasuk bulan yang spesial bagi kami karena Ada 3 orang yang berulang tahun di bulan ini. Mamah, Teh Endah dan Mila. Teh Endah dan Mila adalah ipar saya. Mereka berulang tahun tanggal 14, 1 dan 28 April.

Beruntungnya karena tanggal 14 April, tanggal ulang tahun Mamah bertepatan dengan libur nasional Jumat Agung. Jadi, sekalian saja kami merencanakan acara kumpul keluarga sekaligus sedikit kejutan untuk Mamah. Mengumpulkan anak cucu-nya.

Konsepnya sederhana tetapi pada kenyataannya mengumpulkan keluarga untuk satu kegiatan tidak mudah. Selalu saja ada yang berhalangan hadir. Meskipun dilihat dari posisi tanggal yang tidak tua-tua amat. Mungkin situasi dompet sudah tidak kondusif. Atau memang ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan.

Intinya acara keluarga itu selalu menyisakan ketidaklengkapan. Eits, mungkin itu berlaku bagi saya saja deng, tidak bagi keluarga yang lainnya. Saya pernah curhat tentang rencana pembuatan potret keluarga yang hingga saat ini belum terlaksana. ‘Cost’-nya sangat mahal. Mahal sekali bagi saya, karena selalu menyisakan drama.

Acara kumpul-kumpul ini sendiri tidak memerlukan banyak biaya. Untuk kebutuhan konsumsi kami bergotong-royong. Kali ini menu yang dihadirkan adalah Nasi tumpeng.

Kami penganut old fashion untuk urusan tumpeng. Bukan tumpeng yang berupa nasi kuning tapi tumpeng dengan bumbu rempah dan jika kita bongkar akan ditemukan harta karun ūüėÄ . Paha ayam, telur, kentang atau asin teri. Tumpeng ini disponsori oleh Ceu Yuli, anak Mamah nomor 2.

Jpeg

Tumpeng Jadul dan kawan-kawannya

Proses pembuatannya agak sedikit rumit dan menggunakan Seeng (alat masak yang terbuat dari tembaga. Nanti saya akan ceritakan soal seeng ini). Dimasaknya pun menggunakan kayu bakar di Hawu (semacam tungku). Rasanya tentu berbeda dengan tumpeng-tumpeng yang biasa dihias.

 

Jpeg

Nagasari dan cemilan lainnya.  

Nagasari dan cemilan lainnya bisa di dapat di toko kue terdekat. Jika kesulitan mendapat nagasari yang enak, gurih dan rasa pisangnya yang agak-agak asam dan manis boleh lah hubungi saya ūüėÄ (gak maksud dagang tapinya). Nagasari¬†ini adalah sumbangan Bu Neneng, anak tertua mamah. Selain kue nagasari, Bu Neneng menjual ayam potong harganya lebih murce daripada yang ada di pasar.

Untuk amunisi lainnya saya membuat cuanki. Siapa yang tidak kenal cuanki… ini mah makanan asimilasi yang sudah kahot dan banyak diedarkan oleh orang Garut. Tetapi sayangnya di Garut sendiri populasi Cuanki sangat jarang.

Jpeg

Sebagian peserta acara. Sebagiannya lagi sengaja tidak ikut dengan alasan agar kewibawaan di dunia media sosial tetap terjagat

Anak mamah ada enam dengan 10 cucu dan 2 cucu tambahan. Rata-rata sudah fase ABG meskipun ada yang masih balita tetapi mereka rajin memamah biak. Makanan harus selalu siap siaga.

Untuk menyuplai kebutuhan cuanki bagi peserta acara saya menyiapkan 50 butir bakso ukuran kurang lebih diameter 6 cm. 100 butir bakso diamater kurang lebih 3 cm. 50 buah siomay kering dan 40 buah cuanki kering. dengan perincian biaya sebagai berikut :

Bakso diameter 6 cm merk Bakso Semar : Rp. 25.0000 x 2 = 50.000

Bakso diameter 3 cm merk Bakso semar : Rp. 10.000 x 2 = 20.000

Cuanki kering : Rp. 6.000 x 2 = 12.000

Siomay kering : Rp. 4.000 x 2 = 8.000

Bawang Daun + Seledri = 3.000

Minyak Bakso = 4.000

Jpeg

Sebagian Bahan Baku Cuanki

Total Rp. 97.000,- Sekitar seratus ribu rupiah. Dan tidak lengkap kalau tidak ada kue ulang tahun.

Jpeg

Kue Ultahnya sumbangan dari Adik

Kue ulang tahunnya relatif. Mau beli di Harvest atau di tempat dengan harga yang terjangkau.

Menyiapkan pesta semi kejutan ini tidak memerlukan biaya cukup besar. Berkumpulnya seluruh anggota keluarga itu yang menjadi tidak ternilai. Tidak bisa dibayar.

Selamat ulang Tahun Mamah.

 

Dipublikasi di fenomena | Meninggalkan komentar

Do’a

Terkadang saya suka takut salah membaca list nama-nama teman-teman Nyi Iteung, keponakan saya yang sekarang beranjak Abeugeuh. Takut salah menyebut. Banyak ejaan dan huruf di mana saya sebagai orang Sunda agak sulit melafalkan.

Tetapi saya tidak sendirian. Ternyata si empunya nama kesulitan dengan  nama mereka sendiri. Saya ingat, ketika Iteung masuk Sekolah Dasar, semua murid baru dipanggil namanya dengan lengkap. Hanya sedikit yang mengetahui nama mereka dengan pasti. Begitu pun ketika mereka diminta menyebutkan namanya dengan lengkap.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di #1minggu1cerita, Me | Tag , , | Meninggalkan komentar