Darurat Membaca

Ketika Gramedia membuka sale ‘edan-edanan’ di beberapa kota akhir tahun kemarin, saya sempat tercengang dengan antusias masyarakat menyambut obral buku di gudang Gramedia. Mengingat katanya, minat baca orang Indonesia di dunia berada pada posisi kedua dari urutan paling buncit. Di mana tujuan diadakan sale besar-besaran ini untuk menyelamatkan daripada dimusnakan lalu dijadikan tissue. Itu kata teman saya yang mengirim brosur sale via whatsapp.

Di Bandung sale ini digelar di jalan Caringin sekitar bulan Oktober 2016. Lalu di-extend sampai pertengahan November atas permintaan peminat. Setiap hari, tanpa libur dari jam 8 hingga jam 4 sore. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di #1minggu1cerita | Tag , , , , | 2 Komentar

Romantisme Gundah Tanah Leluhur

Hingga detik ini kehidupan saya tidak pernah beranjak dari Bandung. Saya lahir, bersekolah, besar, patah hati, jatuh cinta dan semua fase kehidupan lainnya saya lalui di Bandung.

Fanatik?

Pencinta Bandung Militan? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di #1minggu1cerita, Familie | Tag , , , , | 16 Komentar

[IQRO] : Membaca Makna Tersirat dan Tersurat

Membaca menjadi persoalan yang tengah mengemuka akhir-akhir ini. Seiring dengan berita-berita palsu (“HOAX”). Akibat malas membaca kecepatan penyebaran berita bohong itu hampir menyaingi kecepatan cahaya. Padahal membaca bukan sekedar melafalkan simbol aksara menyatukan menjadi kata dan merangkaikan dalam bentuk kalimat. Membaca, melihat dan memahami isi yang tertulis. Baik itu yang tersurat maupun yang tersirat. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Blogger Bandung, fenomena, Film | Tag , , , , , , | 2 Komentar

Melepas Penat dengan Menjahit & Doodle

Sebagai seseorang yang menganggap mesin jahit, blender dan  peralatan rumah tangga sebagai titisan Decepticon*. Maka ketika diperlihatkan mesin jahit Brother yang super canggih yang muncul adalah rasa kekaguman dan minder sekaligus. Jauh-jauh dari seorang penjahit pemula, saya malah menjadi penjahit pemalu. Melihat mesin jahit saya mah langsung malu.

p_20170114_105709_ll

Ekspresi saya yang takjub diwakili oleh Kang Ade Truna

Saya adalah sekian dari perempuan generasi millennial 😀 yang lebih suka menjelajah melihat cara menjahit di youtube daripada melakukannya sendiri. Padahal keterampilan menjahit melekat erat pada perempuan. Apa jadinya jika seorang perempuan tidak bisa menjahit. Itu dahulu, sekarang? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Blogger Bandung, fenomena | Tag , , , , , , | 4 Komentar

[Cek Toko Sebelah] : …. adalah Keluarga

Salah satu kekuatan cerita baik itu film maupun buku adalah di mana salah satu tokoh dalam cerita tersebut mewakili probelamantika seseorang. Sehingga pembaca atau penonton merasa menjadi bagian dari kisah tersebut. Seolah-olah kisah sendiri yang sedang dituturkan.

Diceritakan Koh Afuk yang memiliki dua orang anak, Yohan dan Erwin. Sebagai anak sulung Yohan (diperankan oleh Dion Wiyoko) sering mengecewakan Koh Afuk. Terlibat obat-obatan terlarang hingga mendekam di penjara. Bahkan pernikahan dengan Ayu (Andinia Wirasti)  tidak mendapat restu. Dari karir Yohan tidak ada yang bisa dibanggakan, malah sering kali masih menjadi beban Koh Afuk. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Film | Tag , , , , , | 7 Komentar

Ini teh Gehu

Bagi warga Bandung atau orang yang pernah menyambangi Bandung makanan ini pasti moal bireuk deui. Satu gank dengan bala-bala, pisang goreng dan combro. Gehu sendiri merupakan kependekan dari toGe dan taHu. Banyak penamaan makanan di Bandung merupakan akronim dari bahan bakunya itu sendiri. Gehu alias toge tahu sebagian (kecil) ada yang menyebutnya tahu isi.

Budaya K-POP sedikit berpengaruh pada perkembangan Gehu. Beredar luas di Bandung gehu dengan tingkat kepedasan yang bisa di-request. Umumnya disebut gehu pedas atau ada juga yang melabeli dengan gehu setan. Tingkat pedas yang mungkin bisa menjadikan manusia jadi kesetanan.

Tahu yang digunakan adalah tahu masak (sejenis tahu Sumedang) berwarna kecoklatan dan berisi campuran bihun, wortel, cacahan kol dan amunisi yang membuat lidah terbakar. Menurut saya yang kurang suka dengan makan pedas. Jadi curiga di dalamnya berisi campuran semut rangrang dan balsem selain rawit dan cabe. 😀

Gehu Pedas

Penampakan Gehu Pedas di Caringin

Malah di beberapa tempat saya menemukan dengan terang-terangan isinya sambel. Sambel pemirsaaahh… itu kan sudah penipuan publik sih sebetulnya. Meski begitu orang sudah kadung, tetap menyebutnya gehu (pedas), meski tanpa toge juga.

Saya kangen juga sih, dengan gehu yang dulu dengan tahu kuning dan isian toge. Rasa asin dan gurih. Kalau mau pedas tinggal mengambil cèngèk alias cabe rawit. Tapi Kebudayaan dan kebiasaan baru sudah sedikit menyingkirkan gehu jenis klasik ini.

Keberadaan gehu original, sekarang memang agak sedikit sulit dicari. Kebanyakan sih, para penjual gorengan sekarang beralih menjual gehu pedas ini. Mungkin penyebabnya karena sekarang orang cenderung suka makanan pedas (soalnya kalau makanan yang manis-manis takut diabetes). Ya, hukum supply and demand memang sangaad kuasa. Kata kolot baheula mah ini bisa dipakai sebagai totondèn. Asupan pedas yang jor-jor an ini bisa mengindikasikan bahwa suasana sedang panas.  Gak di mana. Gak Di mana semua jadi sering bertengkar. Sedikit-sedikit naik pitam. Sedikit-sedikit langsung menggelar demo. Semua pengen mengobarkan peperangan.

Eh, ini jadi  ngomongin apa yah?

Tak perlu dipermasalahkan mengapa pendatang baru yang tanpa toge tetap menyandang nama gehu. Ah, biarkan saja. Begitu pun sebagai pendatang baru, tidak usah memojokan kaum gehu lama. Bersatu dalam gehu. Walaupun berbeda tetapi tetap sama. Sama-sama Gehu. Sama-sama enak. Sama-sama memuaskan perut-perut orang lapar. Sama-sama diburu oleh para pencinta kuliner. Tidak usah jadi penyebab peperangan karena isinya berbeda.

Berhubung gehu yang klasik belum nemu, jadi saya pakai gehu yang kekinian dulu. Nanti kalau sudah nemu. Fotonya direvisi kembali.

moal bireuk : Tidak ada yang tidak tahu | Semua pasti sudah mengenalnya |Populer

Totondèn : pertanda

Kolot baheula : Para sepuh yang hidup di jaman dahulu

 

 

 

Dipublikasi di #1minggu1cerita, fenomena, Kuliner | Tag , , | Meninggalkan komentar

Sakaba-kaba

Perjalanan berkomunitas diawali dari kebiasaan saya yang mudah terbawa sakaba-kaba. Sakaba-kaba termasuk 2 kata populer dalam Bahasa Sunda.

Orang tua sering kali mengingatkan ini. “Tong kabawa sakaba-kaba!”

Apa itu Sakaba-kaba?

Sakaba-kaba bukan nama orang atau nama tempat. Konotasinya sering kali sesat. Iya, sakaba-kaba itu sering kali menyesatkan. Sampai saya juga suka sedikit pusing jika dimintai menjelaskan apa itu sakaba-kaba. Tetapi kurang lebih terjemahan bebasnya versi saya sih begini. Sakaba-kaba adalah sebuah kegiatan yang biasanya menimbulkan efek menyenangkan tetapi sering kali diakhiri dengan rasa sesal. Iya, saya menyesal mengapa tidak dari dulu ikut berkomunitas. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di #1minggu1cerita, fenomena | Tag , , , | 9 Komentar

[Dear Love] : Ketika Rasa Cinta Tetangga Lebih Indah dari Gebetan

Mari sejenak untuk meringankan beban pikiran dan melepaskan dari lini masa di sosial media yang akhir-akhir ini semakin horor 😀 … Mari sekarang kita ke bioskop dan menikmati film nasional yang ceritanya cukup membuat penasaran.

P_20161022_142001_BF.jpg

Cung siapa yang punya kisah-kasih dengan tetangga sebelah?? (*ngumpetin tangan). Kisah cinta dengan tetangga itu memang penuh intrik yang menarik. Sering kali membentuk barisan simpatisan tersendiri. Unik menurut saya mah, anti mainstream. Kalau LDR mah kan sudah biasa. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di #1minggu1cerita, Blogger Bandung, Film | Tag , , , | 13 Komentar

Dari Hoka-Hoka Bento Menuju HokBen

HokBen menjadi bagian dalam kehidupan kami. Pertama kali datang ke Hokben, saya hanya seorang anak yang harus didampingi orang tua. Masih muter-muter, lari sana-sini, alay dan sedikit drama sebagai anak kecil yang gembira ria karena diajak makan-makan di luar. Saat itu ruangannya masih didominasi warna biru dan putih. Kemudian setelah memperoleh izin boleh main tanpa pengawasan mereka secara langsung, saya sering hang out dengan teman-teman di Hoka-Hoka Bento. Dan entah sejak kapan kami sudah melafalkan HokBen untuk menyebut Hoka-Hoka Bento. Sampai akhirnya sekarang. Hal itu benar-benar terjadi. Hoka-Hoka Bento bertransformasi menjadi Hokben.

Lokasi Hokben yang sering menjadi sasaran kami adalah Hoka-hoka Bento Merdeka dan Kepatihan. Saya menularkan ajaran aliran sesat yang pernah diajarkan oleh kakak saya ketika makan pakai sumpit. Bukan dijepit melainkan ditusuk seperti sate. Ajaran dari kakak saya ini  saya bagikan kepada beberapa teman saya. Sampai mereka malu dan mulai belajar memakai sumpit dengan baik dan benar.  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Blogger Bandung, Kuliner, Reportase | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Tatib

Mungkin saya kurang gencar dalam mencari informasi sejak kapan setiap Senin dilaksanakan upacara bendera di sekolah. Dari enam bersaudara, empat orang di keluarga kami adalah anggota Paskibraka. Kakak dan adik saya adalah Paskibraka. Dan semuanya tidak memberikan jawaban pasti ketika saya tanya, “sejak kapan kita melaksanakan upacara di hari Senin?” Alasan saya tidak terbawa sakaba-kaba oleh mereka. Jadi anggota Paskibraka karena memang saya tidak suka dengan kegiatan yang berbau kemiliteran. Baris-berbaris dan sebagainya. Saya terlahir sebagai orang sipil yang bebas merdeka.

upacara

sumber foto viral di internet

Selama seminggu ini pencarian saya bisa dikatakan nihil. Selalu berujung pada tatib alias tata tertib pelaksanaan upacara itu sendiri yang diatur dalam Instruksi Presiden No. 14 tahun 1981.

Ada aturan khusus mengenai pelaksanaan upacara ini. Mulai dari cara hingga perangkat upacara itu sendiri . Untuk lengkapnya silahkan untuk googling sendiri. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di #1minggu1cerita, Me | 6 Komentar